Tags

, ,

26092016

Orang tua saya memiliki lahan sawah & kebun di wilayah Ciwaru, Sukabumi. Lokasinya tepat di kaki perbukitan Gunung Arca yang berada di sisi sebelah Selatan bila dilihat dari arah kota Sukabumi. Di dekatnya terdapat aliran Sungai Cimandiri & saluran irigasi untuk pertanian. Waktu kecil saya sering main di sini. Reseup.

Bila dilihat dari bentang alamnya, lahan ini memiliki posisi yang sangat menguntungkan. Karena lokasinya ngalegok & tepat berada di kaki Gunung Arca, lahan ini menjadi limpasan air yang berasal dari perbukitan di sekelingnya. Saat kemarau, lahan ini tetap teraliri air. Mata airnya tidak pernah kering. Bila langit sedang cerah, di arah utara kita bisa melihat Gunung Gede Pangrango. Indah.

Karena dilingkung pepohonan & memiliki kandungan air yang tinggi, tanahnya mengandung unsur hara yang baik. Bila dalam kondisi normal, karakter tanahnya gembur. Namun bila digenangi air, tanahnya jadi liket. Oleh karena itu, lahan ini rasanya cukup baik untuk diolah menjadi sawah & kebun. Apa saja yang ditanam di lahan ini pasti jadi. Subur.

Waktu kedua orang tua saya masih ada, lahan ini secara khusus dikelola oleh Ibu saya yang dibantu oleh panyawah & pangebon. Belakangan lahan ini sempat garung saat Ibu saya meninggal. Beberapa waktu setelahnya Abah Kiya, panyawah yang mengelola lahan ikut pensiun karena merasa sudah tua. Saat itu kondisi sawah kurang produktif & terlantar. Karena tidak ada yang mengelola akhirnya digarung. Watir.

Sejak kedua orang tua meninggal pada 2010/2011, otomatis saya yang diserahi tanggung jawab mengelola sawah & kebun. Saya bolak-balik ulubiung & sempat kebingungan karena tidak tahu cara merawatnya. Selama itu juga saya belajar cara bertani. Baik dengan membaca, atau belajar langsung kepada beberapa petani yang saya kenal. Riweuh.

Ketika Abah Kiya pensiun, ada beberapa petani yang menawarkan diri menjadi pengganti. Sayang kolaborasi tak berjalan baik karena waktu itu saya tak paham dunia tani. Selanjutnya saya terus belajar & mencari cara agar dapat bekerjasama dengan petani setempat. Akhirnya pada 2014 saya mulai bisa merintis kelompok tani yang jadi mitra untuk belajar. Seru.

Setelah garung sejak 2013, kini lahan di Ciwaru mulai ditanami kembali. Kolot lembur saya menyarankan untuk terlebih dahulu ngalelemah indung cai (sumber air), serta membenahi saluran irigasi agar lahan ini bisa punya sistem pengairan yang baik. Rupanya ini masalah utama yang selama ini luput dari perhatian. Sumber air lahan di Ciwaru memang belum dikelola dengan benar. Lasut.

Kalau di kampung, biasanya ngalelemah dilakukan secara gotong royong. Namun untuk pangebon & panyawah biasa, ngalelemah itu butuh modal yang cukup besar. Padahal proses ngalelemah penting dilakukan sebelum seluruh aktivitas pertanian dimulai. Saat Légok Ciwaru, saya putuskan untuk sekalian bikin bak penampung air. Biayanya saya ambil dari tabungan. Itung-itung investasi. Nabung air.

Beberapa hari yang lalu bak penampung air sudah jadi. Bersamaan dengan itu saluran yang rusak juga diperbaiki. Lahan yang garung sekarang sudah kembali dirawat & ditanami. Kini yang mengelola ada Mang Akoh & Mang Amay. Keduanya petani setempat yang kerap melibatkan warga untuk merawat kebun & sawah. Saat melongok lahan, Mang Akoh tampak senang. “Naha lain ti baheula nya? Engkemah sugan bisa dipelakan nila.“* Begitu dia bilang. Saya merasa lega.

Imam Bonjol, 15 Agustus 2016

*Terjemahan: “Kenapa nggak dari dulu ya? Nanti mungkin bisa ditanem ikan nila.

Foto oleh Rizqi Abdulharis

Advertisements