Tags

, , , , ,

Semalam itu saya nonton film #JihadSelfie (http://www.jihadselfie.com) yang dibuat oleh Noor Huda Ismail. Dia seorang wartawan. Film ini katanya dibuat sebagai bagian dari penelitian tesis PHD yg sedang ditempuhnya di sebuah perguruan tinggi di Australia. 

#JihadSelfie berkisah tentang sepotong hidup Akbar. Anak muda asal Aceh yang nyaris direkrut jadi kombatan ISIS ketika sedang sekolah di Turki. Dia dapat beasiswa untuk sekolah di sana. Potongan klip film itu bisa dilihat di tautan ini http://youtu.be/A0BkmhhK6nM

Saat nonton film itu persepsi & imajinasi saya berkecamuk. Dalam film itu narasi tentang gerakan ekstrim dibedah secara cukup detail. Mulai dari soal ideologi, pola gerakan, sistem perekrutan, dsb. Ada banyak hal yang membuat saya tertegun.

Salah satu yang spesifik adalah pemanfaatan media (sosial) untuk memperluas gerakan. Film ini juga memperlihatkan bagaimana anak-anak & remaja menjadi target rekruitmen. Banyak diantaranya adalah anak-anak yang cerdas.

Setelah pemutaran film ada banyak hal yang didiskusikan. Kebetulan Akbar ikut hadir dalam pemutaran film ini. Dia bercerita tentang pengalaman pribadinya. Beberapa teman yang hadir ikut memperkaya narasi yang ada. Ini pengalaman yang sangat berharga.

Salah satu yang kami bicarakan adalah soal rekruitmen anak & remaja. Sekarang ini Indonesia tengah mengalami peningkatan jumlah populasi. Pertumbuhan ekonomi yang timpang mencipta lahan subur bagi pertumbuhan kelompok garis keras.

Akses terhadap teknologi informasi & media digital semakin tersebar luas. Hal ini ikut mempermudah penyebaran ideologi & rekruitmen kombatan kelompok teroris. Wacana pemanfaatan teknologi & media digital jadi sangat dilematis.

Di sisi lain negara belum dapat mengantisipasi & menyelesaikan akar masalah sesungguhnya. Gerakan fundamentalisme & terorisme semata dilihat sebagai masalah gangguan keamanan. Padahal ini sungguh soal yang sangat kompleks.

Selain terkait dengan masalah keyakinan, gerakan fundamentalisme juga muncul karena kesenjangan & macam-macam persoalan politik, sosial, ekonomi & budaya. Kemiskinan, kebodohan & korupsi hanya beberapa soal saja. Persoalan yang satu bertaut dengan yang lain.

Dalam hal populasi & pertumbuhan ekonomi, kini juga muncul kelas menengah baru yang justru bisa jadi ladang subur gerakan ekstrim. Pola interaksi sosial yang semakin tertutup & seragam jadi salah satu sebabnya. Rasisme, diskriminasi & xenophobia ikut tumbuh subur.

Membayangkan semua yang dibicarakan malam tadi sungguh membuat saya merasa khawatir. Pagi ini saya melihat anak-anak saya sedang bermain dengan riang di tengah situasi zaman yang muram. Aksi teror & kekerasan saat ini terjadi hampir setiap hari.

Selamat hari anak. Semoga kita bisa menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks & penuh dilema. Saya yakin kuncinya ada di rumah, keluarga, serta lingkungan sosial yang terbuka, toleran & inklusif. Semoga mereka bisa tumbuh jadi orang yg berguna bagi sesama.

Imam Bonjol, 23/07/2016

Advertisements