Tags

Saya dan teman-teman di Common Room sedang membantu usaha pengembangan produk lokal warga Kampung Cipagon, Desa Sirnaresmi ~ Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Rencananya produk yang dikembangkan ada beberapa. Salah satunya adalah gula kawung atau biasa dikenal juga dengan sebutan gula aren. Di beberapa daerah di Sumatera, gula kawung juga dikenal dengan sebutan gula malaka. Kalau di luar negeri, populer dengan sebutan Arenga Palm Sugar.

Gula ini terbuat dari sari pohon kawung atau nira. Istilah latinnya pohon arenga pinnata. Di beberapa daerah Indonesia gula ini diproses dengan cara tradisional. Bahan dasarnya disadap langsung dari pohon kawung oleh petani setempat. Dalam bahasa Sunda, air sari pohon kawung biasanya disebut lahang. Rasanya manis dan menyegarkan. Saat disadap dan terkumpul cukup banyak, biasanya lahang langsung dipanaskan dalam jangka waktu yang lama sampai berubah jadi kristal gula yang berwarna kecoklatan. Rasanya manis dan gurih banget. Aromanya juga sangat khas dan mengandung cita rasa karamel yang dominan.

Warga Cipagon sudah membuat gula kawung secara tradisional sejak lama. Salah seorang petani produsen gula kawung di kampung ini bernama Mang Ma’in. Dia adalah warga Kampung Cipagon kelahiran 1969. Katanya dia mulai belajar mengembangkan usaha gula kawung mulai tahun 1996. Di kampungnya, dia mengkoordinir sekitar 300 petani penghasil gula kawung yang diproduksi secara tradisional. Selain memproduksi gula kawung untuk kebutuhan pabrik, Mang Ma’in juga menjual gula kawung kualitas premium dalam kemasan 500 gram. Saat ini kami sedang merintis kerjasama agar usaha Mang Ma’in bisa lebih berkembang.

Kualitas gula kawung bikinan Mang Ma’in dan rekan-rekannya menurut saya sangat luar biasa. Saya sudah coba sendiri. Kemarin malam Mang Ma’in baru saja datang ke Bandung. Dia tiba saat hampir tengah malam. Tepat pada saat kami perlu tambahan pasokan stok gula kawung karena persediaan yang ada sudah sangat menipis. Kebetulan paginya dia telpon saya dan tanya persediaan gula kawung di Bandung. Saat saya bilang persediaan sudah hampir habis dia langsung menyanggupi untuk mengirim stok baru. Katanya sekalian mau kirim gula ke pabrik. Intuisi Mang Ma’in rupanya tajam juga. Senang rasanya pagi itu Mang Ma’in telpon saya. Waktunya tepat.

Nya geus Kang. Saya ayeuna angkat ka Bandung mawa gula“, begitu dia bilang di telpon. Perasaan saya langsung lega. Beberapa hari ini permintaan gula kawung memang cukup banyak. Mungkin banyak yang perlu untuk buka puasa. Saat bicara di telpon, Mang Ma’in minta saya beli kemasan lagi ke Cibadak. “Engke sakalian kemasan anu anyar urang bawa balik keur dieusian deui.” Artinya kira-kira, “nanti kemasan yang baru saya bawa pulang untuk diisi lagi.” Alhasil siang itu saya langsung ke Cibadak untuk cari plastik kemasan supaya bisa dibawa Mang Ma’in pulang ke kampungnya. Perjalanan dari Kampung Cipagon ke Bandung lumayan jauh. Kira-kira sekitar 10-12 jam. Malam itu Mang Ma’in langsung melanjutkan perjalanan untuk mengirim gula ke pabrik di Cimahi. Katanya dia harus segera pulang lagi ke kampungnya.

Karena sudah berpengalaman, Mang Ma’in tahu betul bagaimana memproduksi gula kawung berkualitas. Kalau ada yang mau coba gula kawung bikinan Mang Ma’in saya persilahkan. Saya udah coba dan rasanya enak pisan. Aromanya juga wangi. Selain untuk pemanis minuman, gula kawung juga bisa untuk bahan kue dan makanan ringan. Katanya sih gula kawung juga menyehatkan. Saya suka pakai untuk bikin minuman penyegar. Kalau ada yg mau beli, gula kawung bikinan Mang Ma’in tersedia dalam kemasan 500 gram. Harganya Rp. 25.000,-. Ini harga diskon selama bulan puasa. Kalau ada yg mau pesan bisa kontak saya via whatsapp (+62818890702) atau ke Reina (‪+6281313528502‬). Untuk yang di luar kota Bandung juga bisa pesan. Kami bisa kirim paket.

Saat ini kami hanya melayani penjualan dengan jumlah tertentu saja. Rencananya dalam waktu dekat kami akan merilis produk gula kawung dengan merek dan kemasan yang baru. Karena stoknya terbatas, siapa cepat dia dapat yes 😉

Imam Bonjol, 10/06/2016

Advertisements