Tags

, ,

08052016

Usum halodo ngasakeun paré.

Begitu kira-kira istilah yg dilontarkan warga Kasepuhan Ciptagelar untuk menandai kondisi cuaca musim penghujan yg muncul bergantian secara simultan dengan datangnya hawa panas. Kalau diterjemahkan secara sederhana artinya kira-kira “sedang musim kemarau untuk mematangkan padi.” Biasanya terjadi pada sekitar bulan Mei atau pertengahan tahun, tepatnya di antara akhir musim penghujan & awal musim panas. Ini tanda musim panén sudah tiba.

Kemampuan dalam membaca, memprediksi & mengantisipasi kondisi cuaca di kalangan masyarakat petani di Kasepuhan Ciptagelar sungguh luar biasa. Dengan pengetahuan yg mereka miliki, warga Ciptagelar bisa menentukan waktu tanam padi secara selaras dengan kondisi lingkungan yg ada. Dengan pengetahuan ini, padi yg ditanam bisa tumbuh dengan baik & dipanén tepat pada waktunya. Pengetahuan ini juga menghindarkan padi dari serangan hama wereng atau walang sangit.

Fase ini setidaknya sesuai dengan panduan (karuhun/leluhur) yg diurai dalam bait Pranatamangsa: “Surup Kidang, turun kungkang.” Artinya kira-kira adalah, “Di kala (bintang) Kidang hilang dari pandangan, saat itu kungkang (walang sangit) akan datang.” Bila merujuk pada uraian ini, kita bisa memahami bahwa sesungguhnya budaya pertanian di Kasepuhan Ciptagelar itu mengintegrasikan pengetahuan tentang konstelasi bintang, agro-klimatologi, hidrologi, pengembangan varietas padi & aneka vegetasi, serta siklus hidup serangga ataupun binatang tertentu. Ini pengetahuan asli peninggalan leluhur yg sangat kompleks & futuristik. Keren pisan.

Advertisements