Tags


Kemarin tiba-tiba mesin si Bodas overheat saat kami sedang dalam perjalanan dari Kawali menuju Panjalu. Saat itu kami berencana pulang ke Bandung dan cuaca memang sedang panas pisan. Mungkin karena baru dibawa nerekel ke Batudatar, mesin si Bodas jadi hareeng. Untungnya kami berhenti beberapa kali karena kebetulan di sepanjang jalan ada beberapa tempat pembibitan pohon. Alhasil sambil mendinginkan mesin, kami dapet bibit pohon Pala, Ganitri dan Bunut.

Setelah berhenti sejenak di daerah Rawa, saya disarankan untuk kembali ke Kawali karena di sana ada bengkel radiator yang relatif lengkap. Sesampainya di sana saya langsung beli air pendingin dan menuju ke bengkel. Rupanya cadangan air pendingin kurang penuh sehingga mesin ngaheab. Teknisi di bengkel kapaksa nungguan mesin dingin heula. Setelah itu radiator si Bodas dikuras dan diisi air pendingin yang baru.

Saat mesin dinyalakan, indikator suhu menunjukan mesin masih agak panas dan masih perlu didinginkan sejenak. Teknisi menyarankan supaya si Bodas niis heula sebelum pulang ke Bandung. Kebetulan posisi bengkel sangat dekat dengan Astana Gede. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat sejenak di sana. Sambil nungguan si Bodas, kami jalan-jalan menikmati suasana Astana Gede yang sejuk karena rimbun oleh pohon-pohon.

Selain menikmati suasana hutan, kami juga melihat-lihat beberapa prasasti batu yang ada di sana. Ada sekitar 6 batu prasasti yang ditulis dengan menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kaganga. Katanya kumpulan prasasti ini dibuat sebagai monumen untuk mengenang kejayaan Prabu Niskala Wastu Kencana. Pemimpin kerajaan Sunda Galuh yang berkuasa pada tahun 1348 – 1475. Sejarahnya menarik pisan.

Saat sedang asyik melihat-lihat prasasti, Arum tiba-tiba pengen melihat Cikawali. Sumber mata air Cikawali ada di sisi sebelah selatan dari lokasi prasasti. Kami lalu memutuskan untuk berjalan ke sana. Meski saluran airnya agak kering, sumber air Cikawali tetap penuh. Katanya sumber air ini adalah tempat mandi khusus untuk menyucikan diri. Airnya tertampung dalam cekungan yg bentuknya kurang lebih mirip seperti kuali berukuran besar.

Tak lama kami di sana, tiba-tiba ada manuk Ciung bernyanyi dengan riang. Saat disampeurkeun ku Arum, burungnya malah bernyanyi lebih riang. Atuh si Arum reseup pisan. Saat saya lihat, burungnya bertengger di balik semak yg tak terlalu jauh dari tempat kami berdiri. Jiganamah sama-sama sedang penasaran. Saya lihat eta manuk Ciung ngaheot sambil mengamati kalakuan si Arum. Sepertinya si manuk Ciung sedang menunjukan jalan sambil ngaheot terus-terusan.

Tak lama di sana kami lalu memutuskan kembali ke pintu gerbang. Suasana sudah agak sore. Tepat di sekitar gerbang, ada kumpulan monyet yg sedang mencari makan sambil berlompatan diantara pohon-pohon. Saya kembali ngahurungkeun si Bodas sambil memeriksa kondisi mesin dan menambahkan air dingin ke dalam tangki radiator. Kondisi suhu mesin secara perlahan sudah kembali normal. Akhirnya kami bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan lancar. Jigana si Arum memang kudu panggih heula jeung manuk Ciung…

Advertisements