Tags


Baru saja datang kabar menyedihkan dari Bandung. Tampaknya daya intelektualitas, kebebasan berekspresi dan toleransi terhadap keanekaragaman budaya sedang jalan mundur di Indonesia. Tak terkecuali di kota Bandung. Mungkin ini sebuah batu ujian.

Padahal Dasa Sila Bandung dilahirkan di kota ini pada 1955. Sila pertamanya adalah penghormatan terhadap hak dasar manusia. Pada tahun 2007 kota ini melahirkan Deklarasi Sancang yang menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama. Sekarang ide besar itu seakan menguap entah ke mana.

Pada 27 April 2015 kota Bandung juga jadi tuan rumah perumusan dan deklarasi 10 Prinsip Kota Kreatif Indonesia. Sikap welas asih, keterbukaan dan kesetaraan tercantum di dalamnya. Tak lama setelah itu, Walikota mencanangkan Bandung sebagai kota ramah HAM pada 11 Desember 2015. Saat itu warga Bandung boleh bangga.

Sayang semua narasi itu harus pupus hanya karena ada ormas yang intoleran. Pertunjukan monolog “Tan Malaka, Saya Rusa Berbulu Merah” yang sedianya ditampilkan oleh kelompok mainteater pada 23 Maret 2016 dilarang pentas entah karena alasan apa. Sayang saat itu aparatus negara tak mampu menjamin rasa aman.

Meski sehari setelahnya pertunjukan bisa berlangsung, tapi nasi sudah jadi bubur. Suasana kota Bandung yang menyenangkan tiba-tiba menjadi muram. Saat pentas berlangsung, situasi di sekitar gedung IFI tetap menegangkan. Kota ini seperti tengah dicekam rasa takut dan kebodohan yang luar biasa. Mirip seperti zaman ORBA.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Padahal pada 1906 kota Bandung dinobatkan sebagai kota terbuka. Dalam catatan Haryoto Kunto, Bandung itu pernah disebut sebagai “het centrum van intellectueele Nederlandsch-Indie“. Artinya kira-kira, “pusat para intelektual di Hindia Belanda.” Orang-orang hebat lahir di kota ini.

Kini entah sebutan apa yang cocok disematkan untuk Bandung. Banyak yang merasa sedih dan malu. Saya mungkin salah satunya. Semoga saja apa yang terjadi kemarin tak memupuskan harapan warga kebanyakan. Rasa takut dan kebodohan harus dilawan. Fasisme berkedok agama harus dihilangkan. Warga Bandung harus menolak tunduk pada ormas dan preman.

Dulu sekali kota Bandung punya adagium, “Ex Undis Sol.” Artinya kurang lebih, “di balik gelombang ada mentari. Saya yakin bahwa insiden kemarin adalah pemicu semangat agar warga tak menyerah kalah. Kota ini harus bergerak melawan fasisme berkedok agama. Kota ini harus terus berjuang melawan pembodohan.

Halo-halo Bandung, Ibu kota Priangan. Halo-halo Bandung, kota kenang-kenangan. Sudah lama beta, tidak berjumpa dengan kau. Sekarang sudah menjadi lautan api, mari Bung rebut kembali…

Viva la liberte!

Advertisements