Tags

20160204

Sampai sekarang entah sudah berapa kali saya pulang ke Kasepuhan Ciptagelar. Kalau tak salah ingat, saya pertama kali datang ke perkampungan yg terletak di kaki Pegunungan Halimun ini pada awal 2013. Saat itu saya ditugaskan untuk mengumpulkan data bagi sebuah kegiatan penelitian.

Saya kembali berkunjung bersama keluarga & teman-teman untuk ikut perayaan Serentaun 2013. Saat itu saya menginap di rumah keluarga Teh Suar selama beberapa hari. Selanjutnya dapat dikatakan saya pulang pergi secara rutin ke Ciptagelar dalam berbagai kesempatan. Entah untuk sekedar berlibur menghabiskan waktu, atau terlibat dalam aktivitas tertentu.

Pada 4 Februari kemarin saya kembali ke Kasepuhan Ciptagelar. Kali ini saya datang bersama tim Common Room. Selain itu ikut juga Pak Suhardja (Astronomi ITB), Ibu Mira (Ahli Kalender Sunda), serta beberapa rekan peneliti & warga Gunung Padang. Masing-masing datang untuk beberapa tujuan yg berbeda. Kami merencanakan kunjungan ini sejak beberapa waktu lalu.

Perjalanan ke Kasepuhan Ciptagelar selalu menyenangkan buat saya. Meski jarak tempuhnya sekitar 10 s/d 12 jam dari Bandung, tapi selalu saja terasa dekat. Saat menembus belantara Pegunungan Halimun, jalannya terjal & berkelok. Bila hujan datang, tanjakan yg curam jadi licin & agak berbahaya. Saya pernah nyangked di leweung sampai beberapa kali.

Begitu tiba di Kasepuhan Ciptagelar selalu ada perasaan yg lega luar biasa. Ada rasa bungah & gembira. Apalagi bila telah berjumpa dengan Abah Ugi, Mamah Alit, Kang Yoyo, Teh Umi, Teh Suar, Aki Da’i, Aki Karma, serta para kulawarga & Baris Olot di kampung ini. Perjalanan yg panjang & melelahkan jadi tak terasa. Suasana & pemandangannya edun pisan. Makanannya apalagi.

Setelah istirahat & nyarita pada Abah Ugi, kami biasanya langsung melaksanakan beberapa pekerjaan yg telah direncanakan. Kang Iyus & Japra memasang mini data center untuk manajemen informasi & pengetahuan lembur di Kasepuhan Ciptagelar. Sementara Kang Iyus mengerjakan instalasi listrik, Japra merakit komputer & menginstal aplikasi yg dia buat sendiri.

Pada Jumat malam kami semua berkumpul di Imah Gede. Di sana sudah ada Abah Ugi & para Baris Olot. Selain itu juga hadir Pak Suhadja, Ibu Mira, Pak Danny Hilman, Teh Lina, Kang Chaedar, serta para rekan peneliti & warga Gunung Padang. Malam itu kami berdiskusi tentang Pranatamangsa. Sebuah sistem siklus pertanian leluhur yg menggunakan patokan konstelasi bintang Kidang & Kerti.

Awalnya diskusi berlangsung rada kagok. Namun tak berapa lama setelah saling memperkenalkan diri obrolan menjadi cair & menyenangkan. Abah Ugi memberi paparan singkat tentang tradisi & budaya pertanian di Ciptagelar. Selanjutnya para Baris Olot ikut berbagi pengetahuan tentang Pranatamangsa secara bergantian. Ada banyak hal menarik yg disampaikan oleh para Baris Olot malam itu.

Pak Suhardja menyimak diskusi dengan teliti. Sesekali dia bertanya sekaligus memberi penjelasan untuk perbandingan. Selain itu ia juga tampak sibuk mencatat berbagai hal yg diguar dalam diskusi. Meski sudah agak sepuh, dia tampak bersemangat sekali. Menurutnya pengetahuan tentang Pranatamangsa sangat bermanfaat untuk para petani.

Diskusi kemudian membahas Kalender Sunda. Ibu Mira & para Baris Olot sangat aktif bertukar informasi serta perhitungan kalender secara detail. Sesekali diskusi juga diisi dengan guyonan. Rupanya sampai sekarang warga Kasepuhan Ciptagelar masih menggunakan perhitungan Kalender Sunda untuk berbagai keperluan. Entah untuk ritual adat, atau untuk aktivitas sehari-hari.

Di sela aktivitas di Kasepuhan Ciptagelar, saya & Lioni mendatangi beberapa warga untuk sekedar berbincang-bincang. Selain untuk mengenal warga lebih dekat, kami juga menggali berbagai informasi & pengetahuan lembur yg bisa memperdalam pengetahuan. Mumpung sedang di Ciptagelar, kami juga menyempatkan diri melongok turbin listrik tenaga air & jalan-jalan ke hutan.

Selama berada di sini, hampir setiap saat kami berbincang dengan warga & jalan-jalan keliling lembur. Sebagian tim ada yg pulang duluan, sementara sebagian masih tinggal untuk menuntaskan beberapa pekerjaan. Setiap pulang ke Ciptagelar selalu ada pengalaman & hal baru yg saya pelajari. Ada pandangan unik yg menjaga keselarasan antara tradisi dengan modernitas. Antara masa lalu & masa kini. Antara manusia & lingkungannya.

Genténg ku kadékna. Legok ku tapakna. Cilaka ku amal perbuatannana.” Apapun yg diperbuat oleh setiap orang akan membawa akibat pada diri sendiri di kemudian hari. Begitu sepotong kalimat dari Abah Ugi saat kami berbincang-bincang hari ini. Kebetulan sekali tadi Abah Ugi punya waktu luang untuk ngobrol ngalor-ngidul. Menurut Abah, pandangan ini menjadi dasar bagi warga adat untuk selalu bersikap hati-hati. Sampai hari ini.

Advertisements