Tags

, ,

Hari-hari ini perbincangan soal toleransi dan keanekaragaman budaya tampaknya sedang mengalami batu ujian yang luar biasa. Dunia yang semakin terhubung di antara sekat-sekat budaya yang semakin mencair rupanya tidak serta-merta membuat warga dunia bisa saling menghargai perbedaan dan keanekaragaman cara pandang dalam melihat kenyataan yang demikian kompleks. Alih-alih semakin menghargai pandangan yang bermacam-macam, perbincangan tentang toleransi terhadap keanekaragaman budaya menjadi terasa semakin rumit dan penuh dengan dilema. Mungkin ini adalah ujian terbesar bagi sifat-sifat kemanusiaan kita.

Musik sebagai media artistik dan ekspresi budaya tampaknya tidak dapat melepaskan diri dari dinamika dan kontestasi nilai-nilai yang ada. Dalam perkembangannya, musik sejauh ini telah dipandang sebagai media penyampai pesan yang memiliki daya persuasi tertentu sehingga keberadaanya terus menyita perhatian orang kebanyakan. Oleh karena itu rasanya tidak berlebihan bila musik dikatakan telah menjadi lebih dari sekedar media artistik, karena dalam tataran tertentu musik telah menjadi wahana yang ikut mempengaruhi kerut-merut peradaban dunia. Sebagaimana media yang digunakan sebagai alat untuk berkespresi, musik juga ikut mencerminkan persepsi dan imajinasi atas kenyataan. Karena itu, tidak salah bila kita juga menyebut musik sebagai cermin adab dan perilaku manusia.

Di sisi lain musik memang bukan hanya berurusan dengan aspek-aspek artistik dan ekspresi budaya, tetapi juga berbagai hal yang beririsan dengan dimensi sosial, politik, dan ekonomi. Dalam beberapa aspek, musik juga merupakan media yang mencerminkan pergulatan ide dan pencarian manusia akan nilai-nilai spiritualitasnya. Tidak mengherankan bila musik kemudian menjadi wahana ekspresi yang tak lekang oleh perkembangan zaman. Sejak masa primitif sampai sekarang, musik telah menjadi media ekspresi yang senantiasa dinikmati dan terus diperbincangkan oleh orang kebanyakan di berbagai penjuru dunia. Wajar bila dalam sebuah adagiumnya yang terkenal, Friedrich Nietzsche menyatakan bahwa, “without music, life would be a mistake.” (The Birth of Tragedy from the Spirit of Music, 1888)

Magi Media
There is a voodoo character in every image.
~Vilém Flusser, 1990

Dalam sebuah kuliah umum yang disampaikan oleh Vilém Flusser di Kunsthalle Budapest pada 7 April 1990, dijelaskan bahwa perkembangan media (gambar, teks, audio, fotografi, video, dsb.) sekurangnya ikut mengkonstruksi persepsi dan imajinasi manusia dalam memandang kenyataan. Dalam argumen Flusser, pada awalnya manusia mengenali kenyataan melalui dua media utama, yaitu gambar (image) dan tulisan. Pada perkembangannya, dunia gambar seakan memiliki kemampuan untuk memproyeksikan persepsi tentang kenyataan ke dalam sebuah peristiwa yang mirip adegan teater, atau sekurangnya memiliki sifat seperti pertunjukan yang mencerminkan pandangan, narasi atau kepentingan tertentu.

Secara metaforik, Vilém Flusser menyebut gambar sebagai media yang mengandung sihir. Dalam kehidupan masyarakat primitif, gambar memiliki fungsi untuk menentukan titik orientasi yang sekaligus menjelaskan posisi manusia atas dunia. Melalui gambar yang mereka bikin di dinding gua misalkan, masyarakat primitif mengembangkan pengetahuan tentang tata cara perburuan. Dengan ritual yang terkadang melibatkan penggunaan musik serta rajah tertentu, gambar-gambar itu seakan mampu memberi kekuatan sihir yang memungkinkan mereka melakukan perburuan dan membunuh binatang-binatang yang diantaranya memiliki kekuatan yang melebihi tenaga manusia. Bagi masyarakat primitif, (media) gambar kerap kali dianggap memiliki magi.

Hal yang sama barangkali dapat kita temui saat memperbincangkan musik di era kiwari. Sebagai sebuah media artistik dan ekspresi budaya, musik sudah tidak dapat dipisahkan dengan keseharian masyarakat modern. Meski di titik tertentu dunia musik sudah melekat dengan komoditas industri, namun di sisi lain musik juga memiliki berbagai peran yang tak berhingga. Bagi sebagian kelompok masyarakat, musik barangkali adalah cermin dari penggalian daya nalar intelektual dan sekaligus media bagi pencarian nilai-nilai spiritual. Sementara bagi sebagian yang lain, musik hanya sekedar menjadi media pelampiasan ekspresi dan emosi sesaat. Musik dapat menjadi media yang membentuk kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan, sekaligus wahana yang dapat menghanyutkan imajinasi dan perasaan. Tak mengherankan bila musik juga dianggap seperti media yang memiliki daya sihir.

Dilema Moral
Lintasan sejarah perdebatan tentang moral barangkali sudah setua peradaban manusia. Dalam sebuah artikel blog yang ditulis oleh Reza A.A Wattimena, secara sederhana moralitas diterangkan sebagai pertimbangan baik dan buruk (Moralitas Itu Berbahaya, 2015). Sebagai seorang pengajar di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya; Reza mendedahkan kegelisahan personalnya terhadap pandangan yang bersandar pada pijakan moral. Dalam pembukaan tulisannya, ia menjabarkan sebuah pola sejarah di mana kebanyakan diantara para pelaku kejahatan kemanusiaan justru adalah mereka yang hidup dalam pandangan moralitas tertentu. Pada penghujung uraiannya, ia menyarankan pentingnya menggali kejernihan berpikir sebagai jalan keluar bagi kebuntuan akal.

Kompleksitas kenyataan yang demikian rumit tentu akan sulit diurai oleh perspektif yang sekedar mengedepankan prinsip baik-buruk atau benar-salah. Penyebabnya adalah karena kita tidak hidup dalam ruang kenyataan yang hitam putih. Sejak lama logika biner semacam ini telah mendapatkan banyak kritik. Salah satunya melalui argumen yang disampaikan oleh Martin Heidegger (1889-1976). Menurutnya pola pikir dualisme cartesian telah membentuk dinding artifisial yang mengurangi otentisitas pengalaman manusia. Dalam beberapa hal, pandangan ini sekurangnya sejalan dengan kritik Edmun Husserl (1859-1938) yang menyatakan bahwa, “[…] alam dan realitas bukanlah suatu hal absolut yang ada di luar manusia, tetapi merupakan ruang keterlibatan, interaksi dan partisipasi kreatif manusia […].”

Sebagai media ekspresi, perbincangan soal musik terkadang juga disematkan pada soal-soal yang berhubungan dengan moralitas. Beberapa kelompok masyarakat bahkan ada yang memiliki pandangan bahwa musik adalah sebentuk ekspresi yang harus diharamkan dan dijauhkan dari keseharian manusia. Dalam konteks tertentu, pandangan semacam ini mungkin saja dapat dibenarkan. Namun sayangnya pandangan moral tentang musik kerap dipahami secara sepihak dan tidak menyisakan ruang dialog yang terbuka. Untuk menghindari bias persepsi dan distorsi pemahaman, ada baiknya bila kita juga dapat mempertimbangkan keanekaragaman perspektif yang dimiliki oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk juga pola pikir yang mengedepankan nalar dan akal yang jernih.

Kohesi dan Inklusi Sosial
Dalam kegiatan peluncuran dan diskusi buku “My Self: Scumbag, Beyond Life and Death” yang digelar di Selasar Sunaryo Artspace pada 19 Januari 2008, terjadi perbincangan menarik yang terkait dengan perkembangan musik dan komunitas anak muda di kota Bandung. Ivan “Scumbag” adalah vokalis kelompok musik Burgerkill sekaligus pentolan komunitas musik Ujungberung Rebels/ Homeless Crew yang meninggal dunia pada 2006. Selain mengundang para musisi dan pegiat komunitas musik bawahtanah kota Bandung, diskusi ini juga melibatkan dr. Teddy Hidayat, SpKJ (Psikiater), Drs. Reiza D. Dienaputra, M. Hum (Ahli sejarah), Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (Filsuf), Andy Fadly (Musisi) dan Kimung (Guru/ sejarawan).

Pada salah satu sesi diskusi, dr. Teddy Hidayat melontarkan pertanyaan yang aneh kepada lebih dari 300 peserta diskusi yang hadir saat itu. “Adakah diantara kalian yang pernah mencoba untuk bunuh diri?”, ujarnya waktu itu. Hampir seluruh peserta diskusi mengacungkan tangan mereka. Seperti telah menduga respon dari para peserta diskusi, dr. Teddy kembali bertanya dengan tenang, “Mengapa kalian masih hidup dan bisa hadir di sini sekarang?” Satu per satu peserta memberikan jawaban yang sama: karena musik. Rupanya di antara sebagian kalangan anak muda di kota Bandung, musik merupakan media penyalur energi negatif yang berisi agresi, rasa marah, frustasi, serta harapan saat menghadapi kompleksitas kenyataan sehari-hari.

Lebih jauh kemudian diketahui bahwa perkembangan musik di kota Bandung telah menjadi wahana pengembangan potensi kreativitas anak muda, sekaligus media yang ikut mengkonstruksi identitas dan aktualisasi diri secara kolektif. Bagaimanapun perlu diakui bahwa komunitas penggemar musik ekstrim di kota Bandung kerap mendapat stigma buruk, serta dianggap dekat dengan kekerasan, alkohol dan narkoba. Sebagian diantara anggapan itu mungkin saja benar, namun sebagian besar diantaranya tidak tepat. Melalui musik, komunitas anak muda yang semula merasa terasing dan terpinggirkan dapat membentuk identitas dan rasa percaya diri, serta merasa diterima di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dalam kaitannya dengan hal ini, musik telah menjadi media persuasi yang membangun kohesi serta inklusi sosial secara afektif.

Berdamai Dengan Musik
Silang pendapat dan pandangan tentang musik dalam perspektif moral atau landasan teologi tertentu barangkali adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dihindari. Namun begitu perbedaan ini seharusnya tidak menjadi persoalan yang mengganggu hubungan antar manusia. Sikap toleransi terhadap keanekaragaman budaya adalah prasyarat yang mutlak demi terbentuknya kohesi dan inklusi sosial. Dalam situasi masyarakat yang demikian beragam, perspektif yang menghargai perbedaan semakin diperlukan demi terbentuknya harmoni dalam kehidupan keseharian. Pandangan yang toleran dan terbuka juga semakin diperlukan demi menghindari situasi konflik dan friksi yang tidak kita perlukan.

Musik bagaimanapun telah menjadi media artistik dan ekspresi budaya yang menyatu dengan keseharian orang kebanyakan. Melalui musik, orang banyak dapat mengapresiasi berbagai corak ekspresi dan identitas secara terbuka. Sebagaimana sifat karya seni yang memiliki daya persuasi tertentu, perkembangan dunia musik juga mampu menghidupkan daya nalar dan imajinasi, selain juga persepsi akan kenyataan keseharian yang bermacam-macam. Namun begitu, kita juga tidak dapat menutup mata atas ekses negatif dalam dunia musik. Fenomena kekerasan serta fanatisme yang berlebihan barangkali adalah beberapa diantaranya. Tapi ekses semacam ini sebetulnya juga dapat kita temui keberadaanya di bidang lain. Dalam hal ini katakanlah di dunia sepakbola dan ritual keagamaan. Kita hanya perlu menghindar dari segala yang berlebihan itu.

Saat ini kita perlu berdamai dengan macam-macam pandangan tentang musik dan nilai-nilai spiritualitas manusia. Bagaimanapun pengetahuan dan kemampuan bahasa sangat terbatas dalam mengurai kompleksitas persoalan keseharian kita. Biarlah musik menjadi cermin bagi berbagai bentuk ekspresi artistik dan budaya, sekaligus menjadi saksi bagi kerut-merut perkembangan peradaban dunia yang demikian rumit dan dinamis. Di sisi lain kita juga perlu menyediakan ruang bagi sikap toleransi terhadap keanekaragaman budaya demi tumbuhnya harmoni yang menjadi landasan bagi kohesi dan inklusi sosial di tengah masyarakat kita. Sejak dulu warga kebanyakan telah hidup di tengah keanekaragaman budaya serta nilai spiritualitas yang hakiki. Sejak lama kita telah mengenal sifat tenggang rasa atau welas asih. Sifat silih asah, silih asuh, silih asih. Sifat maha pengasih lagi penyayang.

Muararajeun, 12 Februari 2015

*tulisan ini diterbitkan dalam majalah Rolling Stone edisi Maret 2015

Advertisements