Tags

,

kawung

“Poen kawoeng kengkeng kawoeng; bingkeng diteunggoer koe boedak kereng; pakěrěng-kěrěng doek tjereleng-doek tjereleng-doek tjereleng…” (Rajah menyadap kawung, Babad Kawung Baduy)

Entah sejak kapan saya mulai memperhatikan keberadaan pohon kawung. Tapi rasanya sih belum terlalu lama. Di beberapa daerah Indonesia, pohon kawung juga dikenal dengan sebutan aren, enau atau nira. Pohon ini kelihatannya merupakan tumbuhan endemik di wilayah Jawa Barat dan beberapa daerah lain.

Dalam sebuah percakapan dengan Prof. Agus Aris Munandar (Fakultas Ilmu Budaya, UI), menurutnya pohon kawung punya tempat tersendiri di kalangan masyarakat Sunda. Dari sekian banyak tumbuhan dan pohon yang bermanfaat untuk manusia, hanya pohon kawung yang ditulis secara khusus menjadi babad di dalam naskah-naskah kuno masyarakat Sunda.

Dari beberapa dokumen yang ada, sekurangnya ada tiga babad kawung yang diketahui, yaitu Babad Kawung Galuh, Babad Kawung Lebak, dan Babad Kawung Baduy. Ketiganya menuturkan ihwal keberadaan pohon kawung dan kegunaannya. Termasuk diantaranya adalah cara merawat pohon kawung dan proses mengolah air kawung menjadi gula.

Air dari pohon kawung yang biasa disebut lahang dapat diproses menjadi gula, cuka dan arak. Buahnya dapat dibuat jadi manisan kulang-kaling atau curuluk. Ijuknya dapat dimanfaatkan menjadi atap. Pelepahnya dapat digunakan untuk membuat instrumen karinding atau keperluan lainnya. Dengan berbagai kegunaan ini, tidak aneh bila pohon kawung kemudian memiliki tempat yang khusus dalam kebudayaan masyarakat di beberapa wilayah Nusantara.

Menurut Prof. Agus Aris Munandar, pohon kawung dipercaya oleh sebagian masyarakat Sunda sebagai axis mundi atau penghubung antara langit dan Bumi. Dahulu daun kawung memang kerap digunakan untuk menulis naskah yang biasanya dibuka dengan menyebut nama dewa-dewi. Tak mengherankan bila kemudian ada anggapan bahwa pohon kawung adalah tumbuhan yang berfungsi sebagai media penyampai wahyu dari para dewa dan karuhun (leluhur) orang Sunda.

Orang Sunda juga mengenal istilah cukang kawung yang artinya kira-kira jembatan yang terbuat dari batang pohon kawung. Secara simbolik, pohon kawung juga dianggap dapat menjadi jembatan penghubung dengan dunia asal-usul (karuhun) manusia. Selain itu orang Sunda juga mengenal istilah masagi kawung. Istilah ini merujuk pada prinsip hidup yang berpijak pada keseimbangan dan daya manfaat agar manusia dapat menjadi sosok yang berguna seperti pohon kawung.

Kemarin saya jalan-jalan ke kebun di Bobojong. Letaknya di daerah Baros, Sukabumi. Kebun ini diapit dua sungai, yaitu Sungai Cisuda dan Sungai Cimandiri. Aliran kedua sungai ini bertemu tepat di ujungnya. Saya perhatikan rupanya ada beberapa pohon kawung yang tumbuh di sekeliling kebun. Ada yang ukurannya besar, ada yang masih kecil. Kata penjaga kebun, kemungkinan kawung ini tumbuh karena bijinya tersebar melalui kotoran careuh atau musang liar. Konon pohon kawung memang jarang ditanam secara sengaja. Seringnya pohon ini tumbuh alami dan menyebar karena bijinya terbawa careuh.

Sementara itu sejak kecil saya memang sangat suka dengan gula kawung. Selain bisa jadi pemanis untuk minuman seperti kopi, bajigur, bandrek atau es kelapa; gula kawung juga sering saya makan langsung dengan roti atau buah alpukat. Gula kawung juga bisa diolah jadi karamel dengan tambahan kayu manis. Rasanya dan aromanya dijamin enak pisan. Untuk mereka yang senang jalan-jalan dan berolahraga, gula kawung juga bermanfaat sebagai sumber energi. Meski rasanya manis pisan, kata teman saya gula kawung juga aman untuk mereka yang punya penyakit diabetes.

Lamun teu percayamah cobaan ku sorangan geura. Pokonamah dijamin ngeunah pisan..

Imam Bonjol, 7 September 2014

Advertisements