Tags

,

Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-69

Pak Santoso adalah tetangga kami di Jl. Muararajeun. Dia merupakan salah satu sesepuh di sini. Hari ini dia secara khusus diminta untuk memberi sambutan sekaligus berbagi pandangan dalam kegiatan peringatan hari kemerdekaan yg digelar tadi pagi. Jalannya sudah tertatih-tatih. Tak heran bila dia secara khusus membawa penyangga tubuh dari rumahnya.

Dalam peringatan hari kemerdekaan tadi pagi, Pak Santoso berbagi kesaksian atas peristiwa konflik bersenjata di Surabaya. “Orang yg datang ke sana ada ribuan & semua siap mati. Mereka tak membawa apa-apa kecuali semangat untuk melawan penjajah.” Begitu kira-kira potongan kisahnya. Meski digelar dengan sederhana, upacara kali ini jadi terasa penting.

Saya barangkali termasuk orang yg tak terlalu tertarik pada konsep nasionalisme. Keterlibatan saya sebetulnya semata untuk menjaga kebersamaan dengan warga sekitar. Mungkin setiap warga yg hadir punya persepsi & imajinasi sendiri soal acara 17 Agustusan. Saya juga demikian. Namun begitu, narasi yg disampaikan oleh Pak Santoso seakan jadi perekatnya.

Di lingkungan Jl. Muararajeun, mayoritas penduduknya adalah warga sepuh. Sisanya adalah remaja & anak-anak. Narasi tentang perjuangan kemerdekaan bukanlah sesuatu yg populer di kalangan anak muda. Setelah sekian tahun absen, ini bahkan kali pertama saya kembali menghadiri upacara peringatan kemerdekaan. Beberapa warga juga mungkin demikian.

Saat mendengar cerita Pak Santoso, imajinasi saya seakan melayang. Dia menyampaikan cerita yg begitu heroik dengan sebuah kesungguhan. Narasi yg dia sampaikan terasa begitu hidup. Meski umurnya sepuh, suaranya masih menyiratkan sebuah keteguhan. Selanjutnya dia berpesan agar generasi mendatang dapat ikut memaknai pengorbanan para pejuang kemerdekaan.

Tadi pagi saya kebagian menjadi petugas yg membacakan teks Proklamasi & Pancasila. Ini kali pertama dalam hidup saya. Selama membaca teks tersebut, ada banyak pertanyaan yg muncul di dalam benak saya. Apa makna teks ini dalam keseharian kita? Barangkali jawabnya tidak ada. Namun begitu, ada orang yg percaya bahwa teks itu hidup & menjadi bagian dari konstruksi kebangsaan kita.

Selesai upacara peringatan kemerdekaan suasana menjadi cair. Dipimpin oleh Pak Rifsan yg merupakan ketua RT setempat, kami menggelar berbagai lomba. Mulai dari lomba makan kerupuk, lomba menggambar, lomba karaoke, lomba balap karung, dsb. Saya, Reina, Auliya & Arum tentu ikut serta. Suasananya begitu guyub & menyenangkan. Pak Santoso juga kelihatannya sangat senang.

Selamat memperingati hari kemerdekaan Indonesia yg ke-69. Sekali merdeka tetap merdeka. Apapun itu artinya.

Dirgahayu…
Rahayu…rahayu…rahayu..

Viva la liberte.

Imam Bonjol, 17 Agustus 2014

Advertisements