Tags

, ,

Abah Olot memandu para peserta Kemping Karinding memainkan karinding secara bersama-sama di Puncak Salam pada Malam Minggu, 9 Agustus 2014

Abah Olot memandu para peserta Kemping Karinding memainkan karinding bersama-sama di Puncak Salam pada Sabtu malam, 9 Agustus 2014

Barangkali inilah yang terekam di benak saya saat mengikuti kegiatan Kemping Karinding yang digelar pada 9 s/d 10 Agustus 2014. Sekitar 100 peserta berbondong-bondong manapaki Puncak Salam yang terletak di wilayah Cirendeu, Cimahi. Rata-rata mereka adalah para pegiat musik karinding berusia muda. Datang ke Puncak Salam karena panggilan energi yang sama. Memainkan sekaligus melestarikan perkembangan musik karinding.

Ada sekitar 12 kelompok musik karinding yang ikut terlibat dalam kegiatan ini. Mereka berasal dari daerah Cirendeu, Cimahi, Bandung, Subang, Lembang, Ujungberung, Soreang, Ciparay, Jatinangor, dsb. Secara keseluruhan, kegiatan Kemping Karinding diisi dengan ritual doa, sawala budaya, apresiasi musik karinding, pentas musik tarawangsa, serta ditutup dengan aktivitas menanam pohon pada 10 Agustus 2014.

Perkembangan musik karinding di wilayah Priangan dapat dikatakan sangat fenomenal. Sejak tahun 2008, berbagai kelompok dengan bentuk dan corak musik bermunculan seperti cendawan di musim penghujan. Masing-masing memiliki cara dan gaya bermain musik yang unik. Abah Olot, seorang maestro dan perintis perkembangan musik karinding dari Parakan Muncang dapat dikatakan sebagai figur yang penting dari fenomena ini.

Kegiatan Kemping Karinding kali ini dibuka dengan ritual doa bersama. Kemudian acara dilanjutkan dengan pentas musik karinding yang menampilkan beberapa kelompok secara bergiliran. Puncak Salam yang sejuk dengan latar Bulan menjelang purnama membuat suasana seakan mengandung magi. Auranya semakin terasa saat musik tarawangsa dimainkan sampai larut malam. Di latar belakang, kita bisa melihat hamparan cahaya dari kota-kota di sekitar wilayah Cekungan Bandung. Dahulu sekali wilayah ini mungkin dikelilingi Danau Bandung.

Aktivitas Kemping Karinding terus berlanjut sampai Minggu pagi. Dibuka dengan sawala budaya, para peserta kemudian ikut terlibat dalam kegiatan menanam pohon yang dipandu oleh Kang Maman dari Kampung Adat Cirendeu. Diantara pohon yang ditanam saat itu adalah Kihujan, Caringin Bodas, Peteuy, Nangka, Jati, dan pohon Ceremai. Pohon-pohon ini ditanam tepat di atas Puncak Salam. Sebelum ditanam, Kang Maman menceritakan tata titi adat menanam pohon di kalangan warga Kampung Adat Cirendeu.

Kimung mencatat bahwa upaya ini merupakan bagian dari gerakan musik karinding yang senantiasa berusaha mendekatkan diri dengan alam. Selain itu, kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk menggali dan memaknai kembali perkembangan musik karinding dengan perspektif yang sesuai dengan perkembangan zaman. Kiranya saat ini perkembangan peradaban manusia harus semakin menjalin hubungan erat dengan alam dan lingkungan yang ada di sekeliling kita.

Pada saat kegiatan penanaman pohon dilakukan, musik karinding terus dimainkan tanpa henti. Matahari pagi membuat suasana yang semula sejuk menjadi hangat secara perlahan-lahan. Sebelum kegiatan penanaman pohon dimulai, para peserta kembali melaksanakan ritual doa secara bersama-sama. Selanjutnya secara bergantian pohon ditanam di tengah suasana yang begitu guyub. Ada semangat juang yang muncul saat itu. Gelagat perkembangan musik karinding di masa depan telah menghadirkan sosoknya yang baru. Rahayu!

Imam Bonjol, 13 Agustus 2014

Advertisements