Tags

Hari ini saya ikutan kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang digelar oleh teman-teman http://anakbertanya.com di Rumah Belajar Semi Palar. Beberapa rekan dari berbagai latar belakang keilmuan yang berbeda diboyong oleh Pak Hendra Gunawan untuk menjawab pertanyaan anak-anak.

Sebelumnya saya tidak terlalu peduli dengan dunia pendidikan sampai dua anak saya mulai bersekolah. Saat menyaksikan kondisi dunia pendidikan kita yang semakin hari semakin memprihatinkan, rasanya anak-anak saya termasuk beruntung karena bisa bersekolah dalam lingkungan dan fasilitas yang relatif baik.

Selain biaya sekolah cenderung semakin mahal, kualitas pendidikan di Indonesia sebetulnya tidak merata. Situasi ini diperparah dengan perubahan kurikulum pendidikan 2013 yang semakin dogmatik, serta pemberlakuan ujian nasional (UN) sebagai syarat kelulusan. Saya kira selama 10 tahun terakhir ini dunia pendidikan kita memang semakin terpuruk.

Sekolah bukan lagi tempat belajar, tapi pabrik produksi mur dan baut pembangunan. Daya imajinasi, kreativitas dan nalar anak dibunuh secara perlahan demi standardisasi. Anak sudah tidak lagi dilihat sebagai subyek yang berkarakter unik dan memiliki potensi sesuai dengan bakat, minat, serta cita-cita mereka.

Hari ini saya dapat pertanyaan penting dari Zheva, Jojo dan Gerda. Ketiganya adalah murid Semi Palar. Zheva bertanya, “Mengapa diciptakan banyak suku, kalau ujung-ujungnya perang?” Sedangkan Jojo bertanya, “Jika orang meninggal dan tidak punya agama, apa yang akan terjadi?” Sementara itu Gerda bertanya, “Kenapa kita hidup? Kenapa tidak kita seperti batu?”

Saya tidak tahu kenapa teman-teman saya menyerahkan pertanyaan tiga anak ini kepada saya. Namun begitu, menurut saya pertanyaan anak-anak ini inspiratif dan sangat esensial untuk ditanyakan. Meski sekilas terdengar janggal dan lucu, saya yakin pertanyaan mereka pernah terlintas di dalam kepala kita. Kalau tidak sekarang, mungkin dulu. Ketika kita seumur mereka.

Dengan serta merta pertanyaan anak ini jadi perbincangan diantara teman-teman saya. Setengah iseng saya unggah pertanyaan mereka ke media sosial. Lagi-lagi pertanyaan mereka jadi bahan obrolan diantara beberapa teman meski sambil lalu. Ada yang memberi jawaban dengan serius. Ada yang menjawab secara dogmatik. Ada juga teman yang menjawabnya sambil cicirihilan.

Dari sekian banyak jawaban yang dilontarkan orang-orang, saya sendiri dapat pelajaran penting hari ini. Bahkan dari pertanyaan anak-anak kita bisa belajar dan memaknai banyak hal. Pertanyaan yang terdengar sepele dan remeh temeh ini mungkin memang pernah jadi pertanyaan kita semua. Namun entah kenapa sebagian dari kita tak pernah berani mengungkapnya secara terbuka, dan mencari jawabnya sampai kita dewasa.

Kembali pada lamunan tentang dunia pendidikan, saya rasa kita perlu menyelamatkan anak-anak kita. Dengan kondisi yang ada sekarang ini, kita harus bisa mempertahankan daya imajinasi dan nalar anak. Kita perlu melindungi karakter dan bakat mereka dari upaya standardisasi dan penyeragaman pola pikir yang terjadi di sekolah. Bentengnya mungkin ada di rumah.

Imam Bonjol, 2 Mei 2014

PS: Kalau teman-teman ada waktu barangkali bisa mengunjungi laman http://tolakujiannasional.com, serta mengisi dan menyebarkan petisi ini: http://bit.ly/petisiUN. Hatur nuhun!

View on Path

Advertisements