Tags

bertemu_jokowi

Jadi malam Minggu kemarin itu saya dan beberapa teman diajak ketemu dengan Joko Widodo yang biasa disebut Jokowi. Dia calon presiden yang resmi diusung oleh PDI Perjuangan (PDIP), salah satu parpol peserta pemilu 2014. Jokowi termasuk calon yang paling populer bila dibandingkan dengan kontestan yang lain.

Pertemuan dilangsungkan di Rumah Makan Sindang Reret yang lokasinya di dekat Lapangan Gasibu. Kami diundang untuk hadir pada pukul 20.00. Meski diberitahu agak mendadak, beberapa teman rupanya ingin bertemu dengan Jokowi. Beberapa teman yang ikut hadir malam itu diantaranya adalah Man Jasad, Kimung, Ginan, Leon, Otong, Kajul, Beby, Ipung, Dinan, dsb.

Kami tidak punya tujuan apa-apa kecuali untuk ingin bertemu dan mengenal calon presiden ini dari dekat. Selama ini sosok Jokowi hanya kami kenal melalui media. Saya sendiri sesekali mendapat cerita tentang sepak terjang Jokowi dari teman saya Mas Blontank, seorang blogger di Solo. Sejauh ini Jokowi disebut sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan kehidupan orang kebanyakan.

Jokowi sempat menjadi walikota Solo selama 2 periode (2005-2012). Namun jabatannya sebagai walikota Solo yang ke 2 kali tidak sampai selesai karena dia kemudian terpilih menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 2012. Perjalanannya dari Solo ke Jakarta punya cerita yg menarik dan penuh dengan polemik. Sama seperti pencalonannya saat ini. Meski begitu banyak orang mengakui prestasinya meski belum lama menjabat di Jakarta.

Pertemuan kami di Sindang Reret pada malam Minggu kemarin itu agak molor. Ternyata siangnya Jokowi melakukan kampanye putaran terakhir di Papua. Pesawatnya mengalami delay di Makassar hingga baru mendarat di Bandung pada pukul 22.15. Sekira setengah jam setelahnya Jokowi baru sampai di tempat pertemuan. Karena sudah larut, perbincangan hanya berlangsung singkat.

Sebelum Jokowi datang pertemuan itu diisi dengan diskusi santai. Saya sempat berbincang dengan Kang Teten Masduki yang ikut mendampingi pencalonan Jokowi selama 7 bulan terakhir. Dia bilang proses pencalonan Jokowi penuh tantangan karena dia mencuat ke luar dari kuasa oligarki politik partainya. Nggak semua kader PDIP setuju Jokowi jadi calon presiden.

Pak Tisna Sanjaya yang ikut hadir dalam diskusi mengatakan pencalonan Jokowi ini penting. Dia bilang kita perlu pemimpin yang sederhana dan terbebas dari kasus korupsi, kekerasan, serta pelanggaran HAM di masa lalu. Pada kesempatan ini Pak Tisna Sanjaya menghadiahkan karyanya yg berjudul “Pesta Pencuri” (etsa, 1997). Karya ini merupakan salah satu masterpiece-nya.

Diskusi dengan Jokowi berlangsung singkat dan padat. Saya mengatakan pada Jokowi bahwa ada banyak calon pemilih di Jawa Barat. Sebagian besar diantaranya adalah anak muda. Namun belum tentu orang-orang mau ikut pemilu dan memilih dia sebagai presiden. Banyak orang yang muak dengan pemilu karena selama ini negara tak pernah hadir dalam kehidupan mereka.

Terkait dengan pencalonannya sebagai presiden, saya meminta pada Jokowi untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaan dan menegakan konstitusi secara sungguh-sungguh. Negara selama ini telah kadung menjelma menjadi perwakilan insting purbawi yang menggusung prinsip primordialisme, kekerasan, rasisme, serta xenophobia. Rakyat harus bergerak untuk mengubahnya secara bersama-sama.

Terus terang saya tak berharap banyak pada Jokowi. Dia bukan Superman. Tapi sekarang ini kondisi negara sedang membutuhkan harapan. Jokowi sekurangnya telah menjadi tumpuan harapan bagi orang kebanyakan. Saat diskusi dia menjawab segala pertanyaan dan pendapat orang dengan santai tanpa pretensi. Teman saya Ginan minta dia mendatangkan The Rolling Stones dan Slayer bila jadi presiden. Dia bilang itu urusan gampang.

Yang sulit adalah membangun pemerintahan yg kuat dan transparan. Bagi Jokowi kekuasaan itu harus dikelola secara transparan agar bisa terus diawasi. Dia bercerita tentang pengalamannya di Solo dan Jakarta. Menurutnya ada banyak permainan kekuasaan yang hanya menguntungkan pihak tertentu karena negara tidak dikelola secara terbuka. Segala kasus penyelewengan dan korupsi terjadi karena selama ini kekuasaan tak bisa diawasi langsung oleh masyarakat.

Tak lama setelah diskusi berlangsung, Jokowi harus meninggalkan tempat pertemuan. Saat Jokowi datang beberapa teman berinisiatif menghadiahkan buku “Ujungberung Rebels • Panjeg Dina Galur”, yang ditulis oleh Kimung dan diterbitkan pada akhir tahun lalu di Bandung. Sayang Kimung sudah pulang duluan karena saat itu sudah larut malam. Tapi kelihatannya Jokowi senang mendapatkan buku itu. Semoga ia mendapat inspirasi dari narasi sejarah perkembangan komunitas metal di Ujungberung. Kumpulan orang-orang yang berjuang di atas kaki sendiri. Dari dulu sampai sekarang.

Imam Bonjol, 6 April 2014

Advertisements