Tags

,

new_majestic

Tadi malam saya mengunjungi Gedung Asia Africa Cultural Center (AACC) sendirian. Sebelumnya saya ikut kegiatan peringatan bersama teman-teman dan keluarga korban insiden AACC.1 Agak lama saya melamun di sana. 6 tahun lalu di gedung ini terjadi sebuah insiden yang mengubah hidup banyak orang. Ada 11 korban jiwa. Semuanya anak muda.

Mereka adalah Novi Febriana, Dicky Zaelani Sidik, Kristianto, M. Yusuf Ferdian, Agung Fauzi Pratama, Dadi, Ahmad Wahyu Effendi, Yudi, Novan, Ahmad Forqon dan Entis Sutisna. Saya tidak kenal semua secara pribadi. Sebagaimana kebanyakan orang-orang, kala itu mereka semua datang untuk bersenang-senang. Nyatanya di penghujung malam kita menemukan duka yang mendalam.

Pengelolaan konser yang kurang profesional, aparat keamanan yang tidak sigap, penonton yang membeludak, serta terbatasnya kapasitas gedung menjadi kombinasi yang berujung maut. Peristiwa ini menjadi catatan kelam bagi perkembangan musik di kota kembang. 3 remaja dipenjara dan aparat yang bertugas kala itu dimutasi.

Sekarang Gedung AACC sudah berubah nama menjadi Gedung New Majestic. Memang ada banyak yang berubah setelah 6 tahun berselang. Namun begitu secara umum situasi sebetulnya masih sama. Ingatan manusia kadang menjadi semacam kutukan. Begitupun pengharapan.

Insiden AACC membuka periode yang suram bagi perkembangan dunia musik di Bandung, khususnya komunitas metal. Pemberitaan media dan perbincangan publik berkembang tak terkendali setelah insiden ini terjadi. Rata-rata pemberitaan yang ada mengecam musik dan keberadaan komunitas metal. Konser dibatasi dan beberapa band kemudian dicekal. Kelompok band Seringai mencatatnya dalam lagu “Dilarang Di Bandung.”

Kala peringatan 3 tahun insiden AACC, Kimung menerbitkan buku yang berjudul “Memoar Melawan Lupa.” Buku ini berisi catatan-catatan yang terkait dengan peristiwa yang dikenal oleh sebagian orang sebagai “Insiden Sabtu Kelabu.” Kimung secara khusus mempersembahkan penerbitan buku ini bagi semua korban yang meninggal dunia dalam insiden tersebut.2

Paska insiden AACC perkembangan musik di Bandung kemudian menemukan babak yang baru. Secara perlahan kondisi semakin membaik, meski dunia musik di kota kembang kemudian direcoki oleh politik dan uang. Mungkin ini harga yang harus dibayar oleh komunitas yang tumbuh semakin besar. Sebagian orang mungkin ada yang mulai lupa, namun banyak yang terus berusaha untuk mengingat.

Insiden AACC sebetulnya menyiratkan ironi yang mendalam. Meski menjadi pusat perkembangan musik di tanah air, sampai sekarang kota Bandung belum mampu merangkul potensi warganya. Namun para pelaku dan penggemar musik di Bandung pantang menyerah. Mereka semua terus berjuang dengan cara yang macam-macam. Belakangan perkembangan musik di Bandung reputasinya semakin diakui oleh dunia internasional.

Pak_Marsion

Tadi malam saya juga bertemu dengan Pak Marsion, ayah almarhum Ahmad Wahyu Effendi. Dia datang untuk berkumpul dan mendoakan korban. “Musisi Bandung ulah kapok. Insiden ini kudu jadi pemicu perkembangan yang lebih baik.” Begitu dia bilang. Saya tahu dia masih kehilangan. Dia ayah yang luar biasa.

The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting.” Begitu tulis Milan Kundera dalam novel The Book of Laughter and Forgetting yang terbit pada 1979. Musik di Bandung sesungguhnya telah memberdayakan banyak orang dan menghidupkan semangat kebebasan. Meski begitu ada juga yang telah berkorban. Semoga kita tidak mudah lupa.

Imam Bonjol, 10 Februari 2014

Catatan Kaki

  1. Insiden kericuhan di Gedung AACC pada 9 Februari 2008. Kala itu kelompok band Beside menggelar konser peluncuran album pertama yang berjudul “Against Ourselves”. Kronologi peristiwa yang dicatat oleh Eben (Burgerkill) bisa dibaca pada tautan ini: http://bit.ly/1jnzwnK
  2. Iman Rahman Angga Kusumah (Kimung), Memoar Melawan Lupa (Minor Books, 2011); http://bit.ly/1jnDUmI
Advertisements