Tags

, ,

“There is a voodoo character in every image.”
~Vilém Flusser, 1990

Media adalah sebuah sihir. Media mampu membentuk persepsi dan imajinasi tentang kenyataan. Demikian kira-kira ungkapan yang disampaikan oleh Vilém Flusser pada sebuah kuliah umum yang digelar di Kunsthalle Budapest pada 7 April 1990. Dalam kuliahnya Flusser mengomentari peristiwa revolusi yang terjadi di Romania pada bulan Desember 1989. Menurutnya istilah revolusi dalam peristiwa itu telah digunakan secara salah. Revolusi adalah sebuah kategori politik untuk menandai sebuah peristiwa perubahan yang mendasar. Apa yang terjadi di Romania menurutnya sama sekali bukan sebuah peristiwa politik, melainkan sebuah tontonan yang disebarkan secara masif melalui televisi.

Hari-hari ini kita hidup di dalam dunia yang penuh dengan informasi berupa gampar, tulisan, bebunyian, ataupun gabungan dari semuanya. Hampir setiap hari kita bersentuhan dengan informasi yang telah diolah menjadi data yang terbaca mesin. Persepsi dan imajinasi tentang kenyataan tidak lagi hanya berasal dari interaksi langsung antara tubuh dengan alam sekitar, melainkan dari apa yang tersebar melalui media; melalui mesin. Seiring dengan berkembangnya teknologi media, barangkali sebagian dari kita saat ini telah berubah menjadi manusia setengah mesin. Sebuah cyborg; cybernetic organism.

Perkembangan teknologi media dan informasi melahirkan era keterbukaan dan konektivitas yang membuka berbagai kemungkinan dan peluang yang baru. Keseharian dan lingkungan manusia saat ini tidak lagi hanya terjadi di ruang-ruang geologis dan arsitektonis, namun juga telah merambah ke dunia patafisik.1 Keseharian kita semakin terintegrasi dengan kehidupan di dunia virtual. Interaksi antar manusia ~ termasuk juga interaksi dengan alam sekitar (tumbuhan, binatang, dsb. ) dan dunia mesin ~ semakin dimungkinkan melalui penggunaan berbagai piranti elektronik dan pemanfaatan teknologi digital. Kini hubungan manusia dengan alam semesta bersama segala isinya barangkali telah melampaui imajinasi dan angan-angan yang ada di masa lalu.

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan pemanfaatan media, bermacam peristiwa yang mengubah wajah peradaban manusia telah banyak terjadi di berbagai belahan dunia. Mulai dari penemuan mesin cetak, mesin uap, telepon, satelit, internet, dsb. Penggunaan media digital dan piranti elektronik seakan telah menjadi perwakilan dari pandangan utopis tentang masa depan manusia di era abad informasi. Kebebasan, kemerdekaan, kemajuan, kesejahteraan, dan kebahagiaan abadi seakan telah menjadi teks yang melekat dengan segala bentuk penemuan dan inovasi di bidang teknologi media dan informasi. Abad informasi adalah abad kebebasan yang melepaskan manusia dari belenggu kebodohan dan keterkungkungan. Begitulah mitos dan anggapan umum yang berkembang dewasa ini.

Sekarang ini barangkali kita sudah hidup di dalam dunia yang baru, di mana berbagai aspek yang terkait dengan kehidupan kita semakin termediasi oleh penggunaan media digital dan teknologi informasi. Di dalam dunia yang baru terhampar berbagai bentuk harapan sekaligus persoalan dan kompleksitas kenyataan yang baru. Di tengah tantangan agar dapat hidup secara harmonis dengan alam sekitar, saat ini kita juga perlu mencari cara agar dapat hidup di tengah realitas yang sebagian diantaranya dibentuk oleh media digital dan teknologi informasi. Oleh karena itu peningkatan akses serta kapasitas dalam hal pemanfaatan media digital dan teknologi informasi barangkali semakin diperlukan. Selain itu diperlukan upaya yang luar biasa untuk mengembangkan nalar dan kecerdasan dalam menghadapi serta mengantisipasi berbagai situasi yang mungkin berkembang di era informasi.

Residu dan Distopia
Peradaban modern konon berakar pada gagasan tentang politik emansipasi. Gagasan ini berkembang di penghujung abad ke-19 dan ikut mendorong berbagai inovasi di bidang teknologi media dan informasi. Gagasan ini juga telah melahirkan banyak negara baru yang merdeka. Indonesia lahir dalam hamparan semangat ini. Begitupun negara-negara yang merdeka setelah kota Bandung menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 18-24 April 1955. Selanjutnya di akhir abad ke-20 sampai awal abad ke-21, utopia kebebasan dan kesetaraan tampaknya rontok dihantam kontestasi kepentingan dan hegemoni dunia baru yang lahir di penghujung era perang dingin. Dalam arikelnya tentang KAA, Jean Lacouture menulis kecenderungan ini sebagai Bandung’s lost illusions.2

Di jagat media, utopia kebebasan dan kesetaraan seakan ikut meluruh seiring dengan berkembangnya pemanfaatan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari. Hilangnya netralitas internet serta lenyapnya batas antara ruang privat dan ruang publik telah menjadi lanskap media kiwari; yang semakin hari cenderung berada di bawah kontrol negara dan korporasi. Alih-alih menjadi corong yang menyuarakan semangat kebebasan dan kesetaraan, saat ini media telah menjadi alat kontrol dan hegemoni. Warga masyarakat pengguna teknologi media kemudian menjadi subyek yang perlu dikuasai, serta ditempatkan di bawah bayang sensor dan pengawasan yang melekat (surveillance). Bukan hanya untuk kepentingan kontrol negara, tetapi juga demi dominasi korporasi yang semakin hari cenderung semakin rakus.

Mencairnya sekat serta batas-batas geopolitik dan ekonomi mencipta kemungkinan interaksi dan kolaborasi yang baru. Pada saat yang bersamaan cairnya sekat yang ada juga membuka kemungkinan konflik dan friksi. Benturan nilai, pandangan, dan perspektif yang sedemikian beragam semakin tak dapat dihindari. Sementara itu kemampuan manusia untuk mengakomodasi setiap perbedaan yang ada demikian terbatas. Pengakuan terhadap nilai emansipasi dan kesetaraan, termasuk juga apresiasi terhadap keberagaman terus menerus berhadapan dengan batu ujian yang datang silih berganti. Sengkarut kompleksitas kenyataan semakin terasa rumit di kala kontestasi kepentingan politik dan ekonomi bergerak semakin liar. Gagasan persamaan hak dan emansipasi dihadapkan pada kenyataan yang serba timpang dan tidak adil, terutama bagi mereka yang lemah dan teraniaya.

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, kecepatan, keterbukaan dan konektivitas jagat media seakan melahirkan sejumlah kebingungan dan alienasi baru. Ruang maya telah menjelma menjadi aneka simulakra yang melahirkan kejutan dan intervensi dalam variasi yang tak berhingga. Keseharian seakan telah berubah menjadi sekumpulan modulasi peristiwa yang terjadi nyaris tanpa jeda. Dunia menjadi semakin bising oleh kumpulan bunyi derau dan noise informasi. Nilai-nilai, aspirasi, serta pandangan tentang kehidupan yang hakiki semakin hari semakin tengelam ditelan zaman. Dalam sebuah kesempatan, Bruce Sterling menyatakan bahwa kecepatan dalam proses pengumpulan data dan informasi, serta kecepatan dalam mekanisme produksi dan distribusi barang, jasa dan informasi dapat membawa kita kepada jalan buntu peradaban.3

Di sisi lain penggunaan media digital dan teknologi informasi juga meninggalkan residu berupa ekspoitasi manusia dan sumber daya alam yang semakin eksesif. Untuk memenuhi kebutuhan barang konsumsi dan infrastruktur di bidang teknologi informasi, industri serta pabrik besar secara rakus melahap pasir besi, alumunium, timah, tembaga, serta material lainnya tanpa henti. Kebutuhan terhadap kabel tembaga, serat optik, bahan semikonduktor, serta bahan lain terus berkembang sementara kemampuan alam untuk menyediakan sumbernya semakin terbatas. Untuk mengejar target produksi, buruh murah dan anak-anak juga dipekerjakan dengan rentang waktu yang tidak manusiawi. Pada sebagian besar komputer, laptop, smartphone, ataupun server internet tampaknya ada jejak eksploitasi manusia dan sumber daya alam yang terjadi secara brutal dan membabi buta.

Mencari (Peta) Jalan Keluar

“[…] seek and learn to recognize who and what,
in the midst of inferno, are not inferno,
then make them endure, give them space.”

~Italo Calvino, Invisible Cities (1972)

Kita tidak bisa memungkiri bahwa abad informasi telah mempermudah kita untuk mengakses berbagai pengetahuan dan cakrawala kesadaran yang baru. Pada perkembangannya media digital dan teknologi informasi juga telah mencipta ruang kemungkinan yang mendorong pembaharuan, perubahan, serta inovasi di banyak bidang. Meski begitu perlu diakui bahwa abad informasi juga dipenuhi oleh segala macam bentuk kompleksitas, paradoks, dan ironi. Saat ini dapat dikatakan bahwa kita seakan tengah berada di dalam rimba raya dunia baru yang dipenuhi dengan berbagai bentuk perangkap dan ilusi. Dalam kondisi semacam ini, kesadaran untuk memahami situasi dan keadaan yang demikian kompleks semakin diperlukan.

Di dalam jagat media situasi lokal dan global telah bercampur dan mencipta dunia oxymoron, dimana segala bentuk perbedaan serta keberagaman bertemu dan berbenturan hampir setiap saat. Kenyataan tidak lagi dapat dipilah berdasar logika biner yang menempatkan bermacam pandangan atas dunia dalam posisi yang saling berhadapan. Data dan informasi yang tersebar di jagat media juga sudah tidak lagi dapat dianggap sebagai sumber rujukan nilai dan kebenaran yang dapat dipercaya begitu saja. Dalam keseharian yang semakin didominasi oleh pemanfaatan media digital dan teknologi informasi, kecakapan dalam penggunakan piranti teknologi adalah prasyarat dasar yang penting untuk dipenuhi. Selain itu kemampuan untuk mengolah informasi juga semakin dibutuhkan oleh orang kebanyakan, agar dapat menjadi sumber pengetahuan yang bermanfaat.

Media digital dan teknologi informasi bukanlah instrumen yang netral dan bersih dari berbagai bentuk kepentingan. Saat ini pengembangan kesadaran kritis dalam hal pemanfaatan teknologi semakin dibutuhkan agar masyarakat pengguna tidak larut dan terbawa arus konsumsi serta histeria massa yang dapat berujung pada dominasi kontrol dan hegemoni. Dalam hal ini ruang-ruang pembelajaran warga yang mengedepankan prinsip keterbukaan dan kesetaraan semakin penting untuk terus dikembangkan. Tersedianya ruang bagi pemberdayaan di bidang literasi media sekurangnya akan mampu membentuk kesadaran baru yang bermanfaat bagi proses pencerdasan dan mendorong proses pemberdayaan; selain mencipta kehidupan dalam lingkungan yang lestari.

Ruang-ruang yang memungkinkan terjadinya proses produksi dan distribusi pengetahuan perlu terus dikembangkan. Akses terhadap pemanfaatan media digital dan teknologi informasi perlu dibuka untuk semua orang. Namun begitu, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu dibarengi dengan gairah untuk mengembangkan nalar serta keterampilan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan yang semakin spesifik. Kaum terpelajar perlu bahu membahu dan berbaur dengan masyarakat kebanyakan untuk mencegah tsunami abad informasi yang dapat menghancurkan segala sendi dan nilai-nilai kemanusiaan kita. Orang-orang perlu dibangunkan. Sebagaimana pesan yang terus-menerus disampaikan oleh sebuah penggalan narasi yang berasal dari abad lampau. Di kala gelap, kita harus selalu awas dan siaga.

Muararajeun, 22 Januari 2014

*Ditulis dan dibacakan untuk untuk kegiatan Orasi Awal Tahun; PETA(KA) 2014 yang diselenggarakan oleh Forum Studi Kebudayaan ITB di Lapangan Merah FSRD ITB pada 22 Januari 2014 

Catatan Kaki

  1. Yasraf Amir Piliang, Diskusi Seni, Politik dan Teknologi. Common Room, 2 Juli 2011
  2. Jean Lacouture, The First Conference Of The Third World, Bandung’s lost illusions; Le Monde Diplomatique, edisi Mei 2005
  3. Bruce Sterling, Atemporality – A Cultural Speed Control. Transmediale 2010, Berlin, 6 Februari 2010
Advertisements