Tags

Tari Topeng Kelana

Ibu Irawati Durban (70) tengah menarikan Tari Topeng Kelana di Museum Konferensi Asia Afrika pada 29/11/13 malam. Meski sudah sepuh, Ibu Ira menari dengan penuh semangat malam itu. Pertunjukan ini merupakan bagian dari kegiatan Sapta Dasa Warsa Irawati, yang juga sekaligus memperingati 50th hubungan diplomatik Indonesia-Aljazair.

Ada sekira 7 komposisi tari yang dipentaskan tadi malam. Dibuka dengan pertunjukan balet “Swan Lake” yang dibawakan oleh 5 orang anak kecil. Selanjutnya secara berturut ditampilkan Tari Putri, Tari Kandagan Cindelaras, Tari Topeng Kencana Wungu, Tari Katumbiri, Tari Merak Bodas, dan yg terakhir Tari Topeng Kelana. Dari beberapa yang paling saya suka adalah Tari Topeng Kelana, Tari Kandagan Cindelaras dan Tari Katumbiri.

Ibu Ira pernah bercerita pada saya. Waktu kecil sebetulnya dia bercita-cita jadi penari balet. Namun apa daya. Takdir bicara lain. Sampai saat ini dia malah dikenal sebagai seorang penari tradisional klasik Sunda. Salah satu titik penting perjalanan kariernya sebagai penari adalah pada saat dia belajar kepada Tjetje Somantri. Karena belajar tari tradisional klasik Sunda, Ibu Ira kemudian pernah menjadi penari istana dan aktif melanglang buana ke mancanegara di era Presiden Sukarno. Pada saat itu ia sering diminta untuk mementaskan tari tradisional klasik Sunda sebagai bagian dari kegiatan diplomasi budaya.

Saya sebetulnya bukan penggemar seni tari. Apalagi seni tari tradisional klasik Sunda. Kebetulan saja istri saya Reina senang menari tradisi. Karena itu terkadang saya ikut melihatnya pentas atau sekedar latihan. Meski begitu, perkenalan saya dengan dunia tari tradisional Sunda sebetulnya sudah berlangsung cukup lama. Dulu almarhum ibu saya juga pernah menjadi pengajar tari di waktu luangnya. Dia mengajar tari kepada anak-anak di sekitar kompleks tempat tinggal kami di Bukit Asam, Pulau Singkep yang terletak di Kepulauan Riau.

Perkenalan saya dengan Ibu Irawati Durban juga sebetulnya terhitung baru. Kebetulan saya dilibatkan oleh Ibu Ira saat peluncuran buku 200 tahun di Bandung pada 2011. Melalui perkenalan itu, belakangan saya baru tahu dia adalah pencipta Tari Merak yang terkenal itu. Selain seorang penari, di mata saya Ibu Ira adalah seorang pendidik yang juga memiliki komitmen tinggi dalam penyebaran pengetahuan. Khususnya pengetahuan di bidang seni dan budaya.

Sehari sebelum pertunjukan, saya menjadi moderator diskusi pembahasan naskah buku “Teknik Seni Tari Sunda Klasik Putri” yang ditulis oleh Ibu Ira. Rencananya buku ini akan diterbitkan oleh Pusbitari Press dalam waktu dekat. Di dalam buku ini, Ibu Ira menuliskan teknik dasar tari klasik tradisional Sunda secara rinci berikut notasi yang ia kembangkan sendiri sendiri. Dalam diskusi yang hangat ini ada banyak hal yang kami bicarakan terkait dengan upaya untuk mengembangkan tari tradisional klasik Sunda di masa depan. Menurut Pak Endo Suanda (etnomosikolog), buku ini mengisi kekosongan referensi teknik dasar tari tradisional Sunda secara detail.

Pertunjukan tadi malam sungguh sebuah pengalaman yang sangat mengesankan untuk saya. Dalam sebuah kesempatan, Pak Endo Suanda berujar bahwa Ibu Ira sebetulnya adalah salah satu figur yang ikut merintis corak tarian Indonesia baru, apapun itu artinya. Menonton langsung pertunjukan tari tradisional klasik Sunda saat ini adalah kesempatan yg sangat langka di Bandung. Apalagi bila dibandingkan dengan pertunjukan musik pop dan metal, party di club, atau pameran seni rupa kontemporer. Karena itu, saya merasa pertunjukan malam ini memiliki nilai yang luar biasa bagi sebagian warga Bandung.

Mungkin karena ini pertunjukan langka, ada banyak orang yang ikut merasa senang bukan kepalang tadi malam. Bukan hanya orang tua, tetapi juga anak-anak dan remaja. Selain itu, tadi malam saya juga melihat ada banyak orang yang seperti terobati rasa rindunya. Ibu Ira terlihat sangat puas, meski gurat wajahnya terlihat begitu letih. Untuk orang seumurnya, saya rasa Ibu Ira adalah sosok yang memiliki energi yang luar biasa. Saya sendiri sebetulnya jadi berharap akan ada lebih banyak lagi pertunjukan semacam ini di Bandung. Selain untuk mendukung pelestarian tradisi dan peninggalan budaya, upaya ini penting untuk merawat keanekaragaman budaya di Bandung. Avante!

Muararajeun, 30 November 2013

Advertisements