Tags

, ,

1928 Gemeente Bandoeng

“A city is a place where you could buy a second-hand violin and keep a mistress.”
– Jane Jacobs, 1990

“[…] Bandung pada abad ke-19 dan 20 lebih merupakan melting pot, campur aduk antara pendatang. Situasi semacam ini tentu punya dampak atas karakter penduduk Kota Bandung. Seperti umumnya para perantau di mana pun, mereka harus bisa bertahan hidup menuju kesuksesan.”
– Jacob Sumardjo (Harian Pikiran Rakyat, 20 Juni 2012)

“Dalam 25 tahun ke depan, 65% penduduk Indonesia adalah penduduk kota.
Di desa, yang 35% akan menyuplai makanan mereka.”

– Poltak Hotradero, 21 Agustus 2013

Kehidupan berkota barangkali merupakan fenomena yang semakin hari mendominasi kehidupan kita. Sebagian besar warga dunia saat ini adalah warga kota. Oleh karenanya, kontestasi dan persaingan global hari ini barangkali adalah apa yang kita saksikan setiap hari di ruang-ruang kota. Pertumbuhan jumlah penduduk dunia yang semakin membumbung memaksa kota menjadi medan peperangan kepentingan yang tak berkesudahan.

Kota Bandung pada awalnya hanyalah sebuah kota kecil yang dikelola oleh para pemilik perkebunan. Di kota ini para perantau dari Eropa menanam kopi, teh dan kina untuk menyambung harapan. Ketika didirikan pada 25 September 1810, Bandung barangkali tak lebih dari sebuah kota kecil yang hanya bermakna bagi segelintir orang saja. Meski begitu kota Bandung segera melesat menjadi kota perkebunan, pendidikan dan pariwisata yang berpengaruh. Berdasar sensus Gemeente Bandoeng pada 1921, populasi kota Bandung kala itu berjumlah 10.658 jiwa. Seiring dengan perkembangannya kota Bandung kemudian disebut sebagai, “het intellectueele centrum van Nederlandsch-Indie”; pusat intelektual di Hindia Belanda.1

Bandung baru dinyatakan sebagai kota terbuka pada tahun 1906. Ex undis sol; di balik gelombang ada mentari. Begitu kira-kira makna adagiumnya. Orang berbondong-bondong datang ke kota ini untuk mencari mentari. Mencari pengharapan sampai harus menembus gelombang dari seberang benua. Alhasil sampai saat ini penduduk kota terus bertambah jumlahnya. Dari yang semula hanya sebuah kota kecil di pegunungan yang terletak di pedalaman wilayah Priangan, kini Bandung berkembang menjadi kota besar yang ikut terkoneksi dengan kerut merut peradaban dunia. Berdasar data BPS tahun 2011, jumlah penduduk kota Bandung ada sekitar 2.424.957 jiwa. Dalam perkembangannya yang sekarang, barangkali kota Bandung adalah salah satu kota yang paling pesat pertumbuhannya di Indonesia.

Bayangan Masa Depan
Dengan segala latar sejarah masa lalu dan mitos kota Bandung yang begitu cemerlang, sebetulnya ada banyak pihak yang semakin merasa khawatir dengan masa depan kota ini. Jumlah penduduk yang terus bertambah berjalan seiring dengan kemunculan bermacam kompleksitas persoalan kota sehingga mencipta bayangan masa depan yang kelam. Orang terus datang silih berganti. Berbondong-bondong mencari penghidupan untuk menyambung harapan yang seakan tak berujung pangkal. Sementara itu, ukuran serta infrastruktur kota Bandung tak terlalu banyak berubah sejak zaman baheula. Namun dibanding dengan era keemasannya, pranata kota saat ini cenderung memburuk dari hari ke hari.

Lapis demi lapis sejarah dan narasi kolektif tentang kota Bandung terus menumpuk seiring dengan perubahan zaman. Ingatan masa lalu semakin pudar, sementara gambaran masa kini dan masa depan tak pernah tampil secara utuh. Bersamaan dengan itu, wajah kota Bandung saat ini juga terasa semakin meluruh. Ia menjadi begitu rapuh, begitu ringkih. Keriput, lapuk, serta pikun digerogoti sang waktu. Pada umurnya yang semakin tua, kota Bandung seakan tengah dibayangi oleh amnesia sejarah, proses bunuh diri ekologi, serta genosida peradaban di masa depan. Bila situasi ini dibiarkan berlarut, bukan tak mungkin suatu saat Bandung akan kolaps dan sejarah kota kembang hanya tinggal cerita.

Rezim politik dan ekonomi yang beringas menghendaki kota Bandung menjadi mesin raksasa yang rakus. Identitas dan karakter kota kembang yang semula cantik secara perlahan berganti menjadi kota yang muram dan lusuh. Sekarang semakin sulit menemukan senyum warga kota yang “someah hade ka semah.2 Daya dukung ekologi kota Bandung yang terbatas terus dipaksa dan diperkosa untuk menghidupi jutaan warga setiap hari. Tak ada lagi ruang untuk mengingat dan merawat identitas serta sejarah kota. Ruang sosial dan ruang terbuka hijau juga terus menyusut digerus oleh ruang ekonomi yang sekaligus menjadi ruang kontestasi kepentingan yang vulgar dan brutal.

Ruang Kota dan Krisis Negara-Bangsa

“Cities have the capability of providing something for everybody,
only because, and only when, they are created by everybody.”
– Jane Jacobs, The Death and Life of Great American Cities (1961)

“Saya kira masa depan negara yang lestari sangat tergantung pada kemampuan negara-bangsa untuk merangkul kembali konsep komunitas dan ruang bersama.”
– Marco Kusumawijaya, Dari Berlin: Komunitas dan Ruang Bersama (2012)

Apa yang terjadi dengan kota Bandung barangkali juga banyak dialami oleh berbagai kota besar di Indonesia atau bahkan di seluruh penjuru dunia. Ruang sosial dan daya dukung ekologi kota yang demikian terbatas semakin hari semakin tenggelam ditelan oleh pertambahan jumlah penduduk serta lahapnya mesin ekonomi yang sepertinya tak pernah merasa kenyang. Kontestasi kepentingan yang brutal membuat ruang kota menjadi medan peperangan yang tak berjeda. Konflik kepentingan yang liar semakin menjauhkan kota Bandung dari identitas dan karakter aslinya yang semula begitu manusiawi.

Di ranah yang lain, dikotomi antara ruang publik dan ruang privat di kota Bandung sering berujung pada kebuntuan dialog dan negosiasi. Hal ini secara perlahan semakin menghilangkan daya hidup kebudayaan warga yang sebetulnya merupakan ruh kehidupan kota. Kontestasi kepentingan publik dan privat yang kerap berujung pada konflik berkepanjangan pada akhirnya dapat membunuh rasa kebersamaan warga. Di antara dikotomi yang demikian keras, diperlukan sebuah ruang kemungkinan lain yang dapat menjadi titik temu bagi keduanya. Warga kota perlu ruang yang dapat digunakan untuk mendefinisikan kepentingan dan mimpi bersama demi kehidupan berkota yang adil dan lestari. Warga kota memerlukan ruang bersama (common space).

Dalam tulisannya, Marco Kusumawijaya menyiratkan bagaimana negara-bangsa kerap ikut berperan menghilangkan atau bahkan menghegemoni ruang bersama.3 Alih-alih menyediakan ruang bersama yang dapat memicu dialog, negosiasi dan kolaborasi, negara kerap kali dengan sewenang-wenang mengubah ruang bersama menjadi ruang publik yang membuka peluang kontestasi kuasa yang liar. Dalam pandangan yang lain, saat ini negara-bangsa seakan telah kehilangan élan vital dalam menegakkan prinsip kesetaraan, emansipasi, serta toleransi terhadap keberagaman. Politik (negara-bangsa) secara perlahan telah bergeser menjadi instrumen perwakilan insting purbawi yang menggusung prinsip primordialisme, kekerasan, rasisme, serta xenophobia.4

Ruang Bersama
Common space atau ruang bersama barangkali dapat menjadi ruang yang terbuka untuk merumuskan kepentingan serta mimpi bersama secara terus menerus. Ruang bersama perlu diciptakan untuk kemudian dirawat secara kolektif agar warga kota dapat menemukan kembali ruang hidup di tengah hiruk pikuk kehidupan kota. Di dalam ruang bersama, warga kota adalah komunitas utuh yang saling berbagi dan saling menghidupi. Di dalam ruang bersama, warga kota seharusnya mendapat kesempatan untuk mendefinisikan harapan serta narasi kolektif yang mampu merekatkan kembali rasa kebersamaan, selain melakukan konsolidasi nilai-nilai kemanusiaan secara reflektif, kritis, dan kreatif.

Dalam konteks ini, barangkali ada peran penting yang harus diemban oleh negara-bangsa agar warga dapat kembali menemukan ruang hidup mereka. Apabila merujuk pada gagasan asli Adam Smith tentang Pasar Bebas, tugas negara-bangsa yang paling pokok saat ini barangkali adalah: 1.) Menjaga agar tidak terjadi kesewenangan-pemaksaan sepihak; 2.) Menegakkan keadilan; 3.) Membangun dan mengelola pekerjaan umum serta pranata umum.5 Terkait dengan gagasan tentang ruang bersama, saat ini tugas utama negara-bangsa barangkali adalah menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang common (umum) itu.

Kehidupan warga kota yang adil dan lestari hanya akan terjaga apabila kepentingan yang umum dapat tersedia dan dikelola secara bersama-sama. Sebagaimana seperti yang telah dituliskan oleh para pendiri Bangsa, kemerdekaan Indonesia sepenuh-penuhnya ditujukan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan Bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.6 Dalam kaitan dengan hal ini, untuk mencipta kehidupan kota dan ruang bersama yang adil dan lestari di masa depan, barangkali kita perlu membaca serta mengamalkan Pancasila mulai dari sila yang ke-5: “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.

*Ditulis untuk Indonesia Urban Social Forum. Solo, 24 Agustus 2013 | Info: http://urbansocialforum.or.id/

Catatan Kaki

  1. Haryoto Kunto, Semerbak Bunga di Bandung Raya, hal. 828 -831. (PT. Granesia Bandung, cetakan pertama, 1986)
  2. Bahasa Sunda, artinya ramah dan baik kepada pendatang.
  3. Marco Kusumawijaya, Dari Berlin: Komunitas dan Ruang Bersama (URL: http://bit.ly/15jO5QU)
  4. Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Diskusi Seni, Politik dan Teknologi. Common Room, 2 Juli 2011 (URL: http://bit.ly/105XJGE)
  5. Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Anti Monopoli dan Persaingan Yang Sehat: Perspektif Etika.
  6. Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945
Advertisements