Tags

, ,

Beberapa hari lagi warga kota Bandung akan menentukan pemimpin untuk 5 tahun ke depan. Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, suasana kontestasi akan semakin sengit dan kasar. Sejak awal masa pencalonan, sosialisasi, kampanye, sampai dengan hari ini ada banyak hantaman yang terus mendera Budi “Dalton” Setiawan dan Rizal Firdaus. Dua pasangan kandidat Pilwalkot Bandung yang saya dukung dengan semangat yang demikian menggebu.

Latar belakang Budi Dalton yang tumbuh dan besar di jalan merupakan sasaran empuk yang dihantam lawan politiknya. Mulai dari gaya hidupnya, cara dia berdandan, sampai pada tuduhan bahwa dia adalah ketua gerombolan geng motor yang kerap bikin onar. Kulitnya yang dirajah juga kerap diangkat jadi persoalan. Tidak sedikit orang yang mencibir dan bilang dia orang yang tidak punya agama. Tapi dengan dukungan warga Budi Dalton tetap tegar. 131.340 warga yang mencalonkan Budi dan Rizal melalui jalur perseorangan tetap setia menemani di setiap tahapan pencalonan. Tak ada satu jengkalpun keinginan untuk mundur.

Yang mengherankan, tidak banyak orang yang mau bicara terbuka dan mengkritik visi dan misinya untuk Bandung. Lawan politiknya lebih senang menyerang pribadi dan kehidupan Budi yang dianggap bermasalah serta berbeda dari orang kebanyakan. Meski diserang bertubi Budi tidak pernah membalas. Pendukungnya sampai banyak yang marah dan frustasi. Sebagian besar pendukung Budi adalah rakyat kebanyakan yang selama ini terpinggirkan. Ekspresinya poksang dan garihal. Serba frontal dan tanpa tedeng aling-aling. Kadang bikin telinga merah dan menghunjam perasaan yang terdalam. Ini yang sering membuat pendukung kandidat lain gerah. Kadang saya juga merasa begitu.

Namun saya malah merasa ini begitu wajar dan manusiawi. Buat saya tidak penting bagaimana pendukung Budi menyampaikan pendapat dan sikap mereka. Yang jauh lebih penting adalah apa yang disampaikan dan kenapa mereka menyampaikan ekspresi yang begitu tajam. Pergulatan saya dengan pendukung Budi Dalton selama ini membuat saya paham bahwa orang-orang ini marah pada keadaan. Marah pada ketidakadilan yang menghantui kehidupan mereka setiap hari. Marah pada birokrasi yang bobrok, para politisi jahat, parpol yang belegug, serta para garong dan koruptor yang membuat hidup mereka dangdarat. Virus korupsi telah membuat kota Bandung sekarat seperti pasien yang terkena kangker ganas. Di titik itu saya merasa bahwa para pendukung Budi Setiawan dan Rizal Firdaus adalah warga yang wajib untuk dibela.

Politik Uang di Bandung
Sudah jadi pembicaraan yang umum bahwa proses demokrasi prosedural yang berkembang di seantero negeri ini hanya memberi tempat bagi mereka yang kaya dan dekat dengan lingkar terdalam kekuasaan politik. Berdasarkan pengamatan saya, selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi di Bandung berkembang luar biasa. Namun begitu angka penduduk miskin terus tumbuh seiring dengan berkembangnya berbagai kompleksitas kehidupan kota. Dunia politik kemudian hanya menjadi urusan orang kaya, sehingga menciptakan banyak sekali kesenjangan. Dalam sengkarut persoalan itu, Budi Dalton berpandangan bahwa kesenjangan yang ada ikut mencipta terjadinya gejala amnesia sejarah, bunuh diri ekologi, serta genosida peradaban yang akan membunuh masa depan warga dan kota Bandung secara perlahan.

Dalam proses Pilwalkot Bandung kehadiran kekuatan politik yang ditentukan oleh uang sangat terasa. Fenomena jual beli KTP dukungan, proses verifikasi yang demikian mahal, sampai dengan masa sosialisasi dan kampanye yang menyedot kekuatan modal finansial yang luar biasa sudah menjadi hal yang lumrah dalam dunia politik di Kota Bandung. Dengan segala keterbatasan para pendukung Budi Setiawan dan Rizal Firdaus terus bekerja keras dan memutar otak. Tidak dengan uang, tapi dengan semangat dan kreativitas yang mereka punya. Figur Budi Setiawan yang kharismatik adalah suntikan energi bagi mereka. Dalam kesehariannya, Budi Dalton tidak pernah hadir menjadi pemimpin yang menekan, tapi justru membebaskan. Dia adalah contoh pemimpin pembebasan bagi orang kebanyakan.

Bukan isapan jempol bahwa biaya politik demokrasi prosedural sangatlah mahal. Berdasar laporan yang disampaikan oleh Mendagri pada April 2013, dari 536 Kabupaten Kota di Indonesia, sudah ada 291 Kepala Daerah yang jadi tersangka korupsi. Biaya politik yang demikian mahal memaksa banyak sekali Kepala Daerah menggunakan segala cara untuk berkuasa, termasuk dengan melibatkan para pemilik modal finansial yang kemudian menjadi cikal bakal korupsi. Dukungan uang para pemodal di masa pencalonan biasanya menjadi pintu masuk bagi-bagi kue kekuasaan dalam bentuk proyek dan konsesi di kemudian hari. Hal ini sudah menjadi kecenderungan yang umum serta melibatkan segenap stakeholder politik. Mulai dari politisi, birokrat, parpol, sampai dengan pengusaha. Sementara itu Rakyat kebanyakan biasanya hanya jadi penonton dan korban pembangunan. Dalam hal ini saya rasa demokrasi subtsansial harus berdisi tegak di Bandung. Masa depan kota ini harus ditentukan sendiri oleh warganya.

Mediatisasi
Di era media, campur tangan perusahaan media dalam proses politik sudah demikian kentara. Media menjadi alat untuk membentuk citra, persepsi, serta platform yang mempertemukan calon pemimpin dengan publiknya. Media menjadi semacam pasar atau market place untuk kegiatan politik. Perjumpaan ini tentu saja terasa artifisial serta hanya sekedar mengkonstruksi persepsi palsu yang mengandung bias dan distorsi. Dalam proses pencalonan Budi Dalton dan Rizal Firdaus situasi yang sama kerap ditemukan di lapangan. Porsi pemberitaan yang berbeda antara satu kontestan dengan kontestan lain sekurangnya mencerminkan kekuatan politik media yang dikerahkan oleh para pemilik modal dan mereka yang memiliki akses terhadap kuasa media.

Saat ini keberadaan perusahaan media semakin dominan dalam proses demokrasi. Kehadiran media sebagai pembentuk persepsi dan alat persuasi sedemikian eksesif digunakan oleh para politisi dan kontestan demokrasi. Mulai dari kehadiran media promosi luar ruang, pemberitaan di media cetak, sampai dengan informasi yang disebarkan melalui TV, radio, serta media sosial. Dari apa yang tampak di lapangan, kekuatan jaringan politik dan dukungan logistik ikut menentukan skala pemanfaatan media untuk kepentingan-kepentingan politik. Kesadaran dan persepsi warga dipersuasi sedemikian rupa sehingga yang mereka dapatkan bukan lagi kualitas kepemimpinan yang hakiki, tapi persepsi yang dibentuk oleh media. Lewat mediatisasi, publik disuguhi macam-macam tontonan yang berisi slogan, pencitraan, ilusi, serta janji-janji palsu.

Meski begitu, lagi-lagi pendukung Budi Dalton dan Rizal Firdaus tidak menyerah. Dengan mengandalkan jaringan komunitas akar rumput dan pemanfaatan media sosial, para Laskar Pacantel – demikian mereka dipanggil – menciptakan banyak sekali media sosialisasi dan materi kampanye yang artistik, kadang dibalut humor dan satir. Dalam persepsi saya, proses Pilwalkot Bandung kali ini pada akhirnya menjadi sebuah perayaan dan ledakan kreativitas yang luar biasa inspiratif. Masyarakat pendukung Budi “Dalton” Setiawan dan Rizal Firdaus (disingkat MADU), begitu terampil memanfaatkan keterbatasan mereka menjadi kelebihan yang tidak dimiliki oleh kontestan lain.

Dengan menggunakan media digital, mulai dari e-flyer, media cetak, fotokopi, video, serta media sosial, tanpa kenal lelah mereka berusaha mengenalkan figur Budi Dalton dan Rizal Firdaus pada khalayak ramai. Hasilnya dukungan terus meluas dan melebar di segala lapisan. Hal ini juga ditingkahi dengan kegiatan dialog langsung dengan warga, yang sesekali disisipi dengan aktivitas ngaliwet dan botram bersama. Selain itu, proses sosialisasi serta kampanye Budi Dalton dan Rizal Firdaus juga menjadi demikian unik melalui macam-macam bentuk kesenian modern dan tradisi. Mulai dari Kuda Renggong, Reak, Bebegig, sampai dengan musik Metal, Reggae, dan Dangdut. Dalam hal ini, saya kemudian melihat apa yang diupayakan oleh Budi Dalton bukan semata membuat proses Pilwalkot Bandung menjadi peristiwa politik, tetapi juga peristiwa kebudayaan. Di sana kita bisa melihat semangat kebebasan berekspresi dan toleransi yang demikian otentik.

Politisasi Agama
Politisasi agama dan politik identitas adalah komponen yang demikian lumrah digunakan dalam proses demokrasi di Tanah Air. Di tengah kelimun warga yang kurang memiliki kesadaran politik yang rasional, penggunaan politik identitas dan latar belakang keagamaan kerap jadi formula yang manjur untuk membius kesadaran publik. Awalnya kehadiran Budi Dalton dan Rizal Firdaus kerap diidentikan dengan keberadaan masyarakat Sunda. Namun begitu, lambat laun banyak orang yang mulai menyadari bahwa Budi dan Rizal adalah figur yang ajeg dengan identitas budaya mereka, meski mereka juga terbuka pada berbagai bentuk ekspresi dan identitas masyarakat yang demikian beragam.

Dalam kelindan politik identitas dan politisasi agama, latar belakang Budi Dalton dan Rizal Firdaus yang beragama Islam namun dekat dengan praktik spiritual masyarakat Sunda juga kerap menjadi bahan pertanyaan yang dipersoalkan oleh lawan politik mereka. Namun lagi-lagi kedua pasangan ini tidak peduli. Apa yang mereka yakini di level keimanan bukan persoalan yang harus diungkit di tataran publik. Buat Budi dan Rizal, persoalan keimanan adalah amalan sehari-hari yang tidak perlu diperdebatkan. Dalam berbagai kesempatan, Budi dan Rizal bahkan selalu mengingatkan pendukung mereka bahwa perjuangan mereka untuk memperbaiki masa depan Bandung adalah bentuk ibadah yang sesungguhnya. Itu kenapa kedua pasangan ini begitu mudah dan luwes diterima di berbagai kalangan, terutama warga masyarakat minoritas yang selama ini terpinggirkan.

Seja Ngabakti, Sanes Ngabati; Ameh Bandung Geunaheun Deui
Slogan ini awalnya saya kira adalah lelucon Budi Dalton untuk Pilwalkot Bandung. Namun setelah banyak berdiskusi saya baru paham bahwa ini merupakan visi kepemimpinannya untuk Bandung. Budi sadar bahwa keikutsertaanya dalam Pilwalkot Bandung karena dicalonkan oleh 131.430 warga Bandung. Dukungan ini jauh melampaui syarat minimal berdasar Data Agregat Kependudukan Kecamatan (DAK2) yang ditetapkan KPU Kota Bandung, yaitu sebesar 80.678. Meski pada awalnya sempat menolak, dukungan warga yang demikian masif membuat Budi Dalton terpanggil untuk memenuhi harapan para pendukung.

Panggilan untuk berbakti kepada kota Bandung sebetulnya bukan panggilan yang tiba-tiba datang. Sejak lama saya perhatikan Budi Dalton sudah aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan dan kebudayaan di kota Bandung. Sejak tahun 2002 saya sudah mengetahui bahwa Budi ikut andil dalam gerakan advokasi Babakan Siliwangi. Dalam gerakan dunia kreativitas kota Bandung, dia juga ikut andil dalam pembentukan Bandung Creative City Forum (BCCF). Saat menjabat sebagai El Presidente Bikers Brotherhood Mother Chapter (BBMC), Budi Dalton menginisiasi berbagai kegiatan lingkungan dan budaya, mulai dari gerakan penanaman pohon sampai dengan penyelenggaraan Helar Festival yang pertama kali digelar pada 2008.

Di luar semua itu, sosok Budi Setiawan tidak pernah mau menonjolkan diri. Selama ini ia lebih banyak ada di belakang layar mendukung berbagai elemen warga untuk mengembangkan aktivitas mereka. Dalam istilah orang Sunda sikap ini kerap disebut sebagai sikap politik “handap asor”, alias memiliki sikap yang cenderung merunduk seperti ilmu padi. Budi Dalton tidak pernah mengklaim berbagai gerakan yang dikembangkan muncul karena jasanya seorang, karena dia sadar bahwa yang harus dijaga adalah semangat persaudaraan dan kebersamaan. Saya rasa sikap ini juga yang kemudian memunculkan gagasan gerakan “Salam Pacantel”, yang kemudian identik dengan pencalonan Budi dan Rizal. Kualitas kepemimpinan seperti ini yang saya rasa membuat Budi Dalton pada akhirnya kerap diterima oleh semua kalangan. Meski ada banyak yang mencibir, rata-rata bila sudah mengenal secara pribadi banyak orang yang kemudian akan bersimpati dan terpanggil untuk berjuang bersamanya.

Kuasa Gelap Di Bandung
Pada tahun 1990 Kota Bandung pernah dinobatkan sebagai kota paling aman sedunia berdasarkan survey majalah Time. Sementara itu pada tahun 2007 Kota Bandung dinobatkan sebagai pilot-project bagi pengembangan kota kreatif se-Asia Timur. Berbagai predikat ini bersanding dengan masa lalu kota Bandung yang disebut sebagai Parijs van Java, Bolemen van de stad (Kota Kembang), Kota Seribu Taman, dsb. Karakter, identitas, serta jati diri kota Bandung yang demikian harum tentu memiliki latar belakang kesejarahan yang panjang. Dahulu kota ini disebut sebagai, “…het intellectueele centrum van Nederlandsch-Indie”, pusat para intelektual di Nusantara. Dari kota Bandung banyak lahir banyak tokoh dan gerakan pembaharu yang ikut menentukan sejarah Bangsa bahkan Dunia.

Namun berbagai predikat di atas rupanya sudah tidak lagi berjalan seiring dengan realitas keseharian yang dialami secara langsung oleh warga Kota Bandung di era kiwari. Dalam persepsi saya, masa depan Kota Bandung saat ini tengah diancam oleh berbagai bentuk kuasa gelap. Mulai dari jajaran birokrasi yang bobrok, para politisi jahat, parpol yang belegug, ataupun ormas, preman, serta gerombolan koruptor yang ngarogahala masa depan Bandung secara perlahan. Sebagai dampaknya kualitas hidup warga dan kondisi lingkungan kota Bandung terus memburuk dari waktu ke waktu. Berbagai bentuk kesenjangan semakin melebar, mulai dari kesenjangan sosial, ekonomi, dan politik.

Posisi kota Bandung yang semula merupakan episentrum bagi gerakan emansipasi dan kesetaraan semakin pudar ditelan oleh mesin ekonomi raksasa yang begitu rakus dan tak pernah kenyang. Kehidupan intelektual dan kebudayaan yang begitu hidup kini tergerus oleh kegiatan ekonomi yang berlangsung tanpa henti. Warga Bandung yang semula dikenal sebagai sosok yang santun dan berbudaya kini cenderung beringas. Kini semakin sulit menemukan senyum yang tulus dan ikhlas. Sementara itu infrastruktur kota yang demikian buruk menjadi mesin pembunuh yang mengintai nyawa dan kehidupan warga setiap hari. Sebelas korban anak muda dalam insiden AACC pada tahun 2008 dan korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi karena buruknya jalan raya adalah cermin dari degradasi kehidupan Kota Bandung di era kiwari.

Pada tahun 1906 Kota Bandung dinobatkan menjadi kota terbuka dengan adagium, “Ex Undis Sol“, yang artinya kurang lebih di balik gelombang ada mentari. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia datang ke Kota Bandung dengan segenap harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dengan latar sejarah ini saya rasa posisi pencalonan Budi Dalton dan Rizal Firdaus menjadi begitu penting. Wajah Kota Bandung yang demikian muram harus dikembalikan menjadi kota yang nyaman, tentram, dan manusiawi. Dalam hal ini saya rasa sekaranglah saatnya untuk kembali menghidupkan harapan di Kota Bandung. Sekarang saatnya untuk menghidupkan kembali cahaya Kota Bandung. Diawali dengan membentuk pemerintah yang bersih dan berwibawa. Pemerintah yang langsung dibentuk oleh warga agar secara bersama-sama dapat mendefinisikan kembali jati diri dan identitas kotanya. Itulah kenapa saya mendukung pencalonan Budi “Dalton” Setiawan dan Rizal Firdaus. Agar Bandung kembali menjadi kota yang geunaheun. Agar Bandung kembali menjadi kota harapan yang membawa cahaya terang bagi kehidupan warganya. Saya mendukung Budi Dalton dan Rizal Firdaus untuk melawan kuasa gelap yang saat ini tengah menghantui Kota Bandung. Cahaya aya disalira!

Advertisements