Tags

, ,

I

Dahulu sekali banyak orang berpikir secara metafisik dan menyelesaikan persoalan keseharian melalui pendekatan mistik. Di abad pencerahan orang-orang sangat mementingkan rasionalitas. Selanjutnya di era perang dingin faktor ideologi menjadi komponen yang dominan dalam kehidupan. Kini faktor emosi tampaknya menjadi elemen yang penting untuk memaknai keseharian. Hampir sebagian besar dari kehidupan kita tampaknya semakin dipengaruhi pertimbangan yang irasional ketimbang nalar & pengetahuan. Dunia bergerak seperti pendulum.

Namun saat ini situasi dunia sepertinya kembali berubah. Di masa depan kemampuan bernalar dan komunikasi kompleks semakin diperlukan. Agar dapat bertahan hidup manusia perlu berbagi, berinteraksi, dan berkolaborasi. Kita semakin dituntut untuk memiliki keterampilan dan pengetahuan agar dapat menjawab tantangan serta kompleksitas zaman. Kita membutuhkan berbagai bentuk kecerdasan untuk menjawab bermacam tantangan peradaban secara bersama-sama.

Tantangan global di era kiwari ditandai dengan pertumbuhan populasi, melonjaknya kebutuhan pangan dan energi, serta terbatasnya sumber daya alam dan daya dukung ekologi. Selain itu kita juga tengah menghadapi perubahan iklim yang ekstrim. Setiap hari persoalan dunia terus berkembang dan menjadi semakin kompleks. Perubahan, perbedaan dan variasi menjadi ciri peradaban masa kini. Manusia dituntut untuk selalu berubah agar dapat bertahan hidup.

Dalam bukunya yang berjudul ‘Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed‘ (2005); Jared Diamond menjelaskan 5 hal yang menyebabkan punahnya peradaban, yaitu: peran manusia terhadap lingkungan, perubahan suhu dan cuaca, hubungan antar bangsa, permusuhan dan peperangan, serta faktor ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Dalam penjelasan Jared, saat ini Indonesia termasuk ketegori masyarakat yang nyaris kolaps.

II

Entropi adalah prinsip yang kerap digunakan untuk menjelaskan hukum termodinamika. Hukum ini menyatakan bahwa energi tak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat berubah bentuk. Perubahan wujud energi melahirkan kondisi entropi. Kondisi ini memperlihatkan gejala order yang bergerak menuju disorder seiring dengan perjalanan waktu.

Proses entropi tercermin dalam peluruhan semesta yang prosesnya berkembang seiring dengan waktu. Peluruhan alam semesta tak berujung pangkal. Berlangsung secara terus menerus (infinity), serta tak dapat diulang kembali (irreversible). Sebenarnya peristiwa entropi juga dapat teramati dalam keseharian meski seringnya kita abai. Es yang meleleh, api yang memanaskan air, ataupun uap yang dapat menghasilkan gerak adalah contoh sederhana dari kondisi entropi. Peristiwa kelahiran dan kematian tak dapat dilepaskan dari fenomena entropi.

Daya hidup dan energi peradaban juga dapat melahirkan entropi. Kebudayaan berkembang dari kondisi order menuju disorder seiring dengan perjalanan waktu. Dari organisma sederhana menuju super-struktur yang kompleks. Masyarakat yang cerdas dapat mengelola kondisi entropi dengan nalar dan pengetahuan. Bila disadari dan dikelola dengan baik, kondisi entropi dapat menunjang proses pertumbuhan dan pendewasaan peradaban. Tapi bila tak dikelola kondisi entropi dapat menyebabkan kehancuran. Saat kita gagal mengelola daya hidup dan energi kebudayaan, kondisi entropi dapat berujung pada proses penghancuran dan kepunahan diri.

III

Indonesia adalah negara bangsa yang memiliki daya hidup dan energi peradaban yang tinggi. Kekayaan sumber daya alam, jumlah populasi manusia, kondisi cuaca, serta keberagaman budaya masyarakat Indonesia adalah sumber daya hidup dan energi peradaban yang tak tergantikan. Semua kekayaan ini dapat menjadi sumber energi yang melahirkan entropi. Tidak berlebihan bila kita sebut bahwa kekayaan Indonesia juga ikut menentukan masa depan dunia. Faktanya memang sejak lama kekayaan Bangsa kita ikut mempengaruhi kerut-merut peradaban dunia.

Kini tampaknya daya hidup dan energi peradaban Indonesia tengah berada dalam bayang kehancuran. Bangsa Indonesia kini tengah hidup di dalam dunia yang semakin antagonistik. Malahan orang bilang Indonesia sedang tenggelam. Kemampuan bernalar telah digeser oleh sentimen primordial dan fanatisme. Kekayaan alam dieksploitasi secara berlebihan dan membabi buta. Potensi keberagaman budaya dibakar oleh gesekan, friksi, dan konflik antar golongan. Kemiskinan, kebodohan, korupsi dan ketidakadilan menjadi fenomena yang wajar dalam keseharian. Kondisi entropi yang seharusnya menunjang perkembangan peradaban justru melahirkan kekacauan. Saatnya kita memaknai entropi Indonesia dengan nalar dan pengetahuan. Saatnya merawat entropi Indonesia dengan kesadaran. Untuk masa depan yang lebih baik.

Muararajeun, 28 Januari 2013

* Dibacakan dalam kegiatan Pidato Kebudayaan Awal Tahun 2013: Indonesia Tenggelam. Senin, 28 Januari 2013. Kolam Indonesia Tenggelam, Kampus ITB, Jl. Ganeca no. 10.

Advertisements