Tags

“Urang hayang maneh nyieun circle moshpit. Eh, gob**g! Sia teh keur lalajo band hardcore, lain keur lalajo Trio Macan anj**ng!!” (Saya ingin kalian bikin circle moshpit. Kalian sedang nonton band hardcore, bukan Trio Macan anj**ng!!)
– Butche The Butcher, Mesin Tempur (Festival Bandung Berisik 2012)

Festival Bandung Berisik 2012 telah berakhir beberapa bulan yang lalu, namun gemuruhnya masih terasa sampai hari ini. Hadir dengan tema ‘Maximum Agression’, festival ini telah berumur 17 tahun sejak pertama kali digelar di Lapangan Kalimas Ujungberung pada 23 September 1995. Sampai sejauh ini Festival Bandung Berisik telah digelar sebanyak enam kali walau sempat vakum selama beberapa waktu. Melanjutkan tradisinya, Festival Bandung Berisik kembali diselenggarakan oleh Atap Promotions bersama komunitas Ujungberung Rebels mulai 18 s/d 19 Mei 2012 di Lanud Sulaiman Bandung yang terletak di daerah Kopo.

Sekira lebih dari 30.000 penonton musik cadas datang berbondong menjadi saksi hidup dalam perhelatan akbar yang menampilkan 60 band cadas terbaik di Indonesia. Ada sekitar 1000 orang pekerja dan relawan yang dilibatkan untuk mengatur lalu lintas pagelaran yang menyuguhkan tiga panggung berjejer yang panjangnya sampai 80 meter dengan kapasitas tata suara masing-masing 100 ribu watt. Panggung utama ‘Inferno Stage’ diapit dua panggung yang masing-masing bernama ‘Apocalypse’ dan ‘Holocaust’. Telinga ribuan anak muda dihajar terus-terusan lewat suguhan panggung yang berjalan secara simultan. Nyaris tanpa jeda. Meski tidak semua orang merasa nyaman dengan panggung dan tata suara seperti ini, tapi apa boleh buat. Ini Bandung Berisik!

Sebagian besar pengunjung adalah remaja tanggung yang punya energi berlebih. Kebanyakan diantara mereka berpakaian hitam-hitam, lengkap dengan segala simbol gelap, kekerasan, darah dan kematian. Selama dua hari dalam festival ini khalayak musik diajak untuk menikmati keberagaman dan kebersamaan, selain kebebasan berekspresi yang menjadi percampuran sempurna dari agresi, totalitas dan gairah untuk bersenang-senang tanpa ampun. Selain suguhan di atas panggung, Festival Bandung Berisik 2012 juga dilengkapi dengan camping ground untuk para musafir, selain stand yang menjual segala rupa CD, merchandise band, makanan, dsb.

Yayat Ahdiat (sound engineer/ produser musik) menyatakan bahwa Festival Bandung Berisik 2012 berupaya mempertahankan tradisi untuk menampilkan musik metal terbaik di Tanah Air tanpa melihat genrenya. Pada konferensi pers yang digelar pada Selasa, 15 Mei 2012 di Common Room, ditegaskan bahwa festival ini juga terus berupaya untuk mencari format dan meningkatkan kualitas pagelaran dari tahun ke tahun. Selain itu, dalam pengantar yang ditulis oleh Kimung, festival ini mengkumandangkan prinsip kebebasan berekspresi, kesetaraan dan toleransi pada keberagaman yang merupakan basis nilai yang selama ini dianut oleh komunitas Ujungberung Rebels/ Homeless Crew.

***

Hari pertama Festival Bandung Berisik 2012 dibuka dengan penampilan Children of Gaza dan Hibrani yang tampil bersaut-sautan. Selanjutnya Madonna of the Rocks dari Jakarta mencuri perhatian dan mengundang kerumunan penonton untuk merapat ke bibir panggung. Aksi monumental siang itu barangkali diwakili oleh penampilan The S.I.G.I.T. Meski sempat mengalami beberapa gangguan teknis, puncak penampilan mereka yang dihantam hujan badai dan halilintar membalut lagu penutup ‘Black Amplifier’ dengan teror gelap. Meski suasana menjadi porak-poranda, musik cadas The S.I.G.I.T seakan menantang topan badai dengan musik rock hingga penampilan mereka terlihat sangat heroik siang itu.

Selanjutnya secara berturut-turut panggung Festival Bandung Berisik 2012 hari pertama menampilkan Jihad, Nemesis, Don Lego, Besok Bubar, Siksa Kubur, Burgerkill, Dead Squad, Rosemary, Jasad, dsb. Lamunan kembali pada catatan Kimung tentang rapat-rapat kecil di sekitar kediaman almarhum Ivan Scumbag pada pertengahan tahun 1995. Beruntung sekali anak-anak muda Ujungberung bisa berkolaborasi dengan Yayat Ahdiat, Dani Pieces, Agus Sacrilegious dan Kang Memet pemilik studio Palapa dkk. Rupanya senior mereka adalah aktivis Karang Taruna di lingkungan Ujungberung. Bila peristiwa itu tidak ada, barangkali Festival Bandung Berisik tidak akan pernah hadir dalam dunia pengalaman maupun pembicaraan dan ingatan kita hari ini.

Pada hari ke dua Festival Bandung Berisik 2012 kembali menghajar ribuan telinga anak muda yang hadir saat itu. Hujan menyisakan lapangan yang becek dan berlumpur. Namun langit begitu terang. Meski suasana terik, gerombolan anak muda terus berbondong-bondong masuk ke dalam arena. Diantara mereka ada yang asyik mandi lumpur sambil pogo dan slam dance. Beberapa ada yang seperti beradu gulat. Sepanjang hari, secara terus menerus panggung menyuguhkan penampilan dari Eye Feel Six, Asia Minor, Demons Damn, Primitive Chimpanzee, Godless Symptom, Dajjal, Disinfected, Koil, Down For Life, dsb. Selanjutnya penampilan dari Deadly Weapon, Billfold, Dead Vertical, Karinding Attack, Forgotten dan Alone At Last memanaskan suasana malam. Sebagai pamungkas panggung Inferno Stage menyuguhkan Pas Band (Reunion) yang tampil bersama Richard Mutter. Formasi ini merupakan pionir hingga Festival Bandung Berisik 2012 secara resmi berakhir di tengah gemuruh histeria massa.

Diam-diam festival ini mampu mencuri perhatian dari Dom Lawson, seorang musisi yang juga penulis untuk majalah Metal Hammer yang berbasis di Inggris. Khusus datang ke Bandung sendirian, selama dua hari ia terkagum-kagum saat mendapati penampilan semua band yang nyaris tanpa cacat. Menurut pendapatnya Festival Bandung Berisik 2012 bisa disejajarkan dengan berbagai festival sejenis di manca negara. Yang menjadi pembeda menurut Dom, komunitas penggemar musik metal di Indonesia sepertinya lebih solid dan memiliki fanatisme yang unik. Berbeda dengan perkembangan musik metal di Eropa dan Amerika yang bersandar pada industri besar, dalam pandangan sekilas ia merasakan bahwa perkembangan musik metal Indonesia akarnya ada pada komunitas yang memiliki dedikasi luar biasa. Selain itu, musik cadas tampaknya menjadi sarana untuk menyalurkan ekspresi politis sekaligus media yang membangun identitas komunitas anak muda secara kolektif.

***

Cikal bakal serta penyelenggaraan Festival Badung Berisik saya rasa menorehkan sejarah tersendiri dalam perkembangan musik cadas di Indonesia. Sedari awal rupanya Bandung Berisik telah menyediakan ruang bagi ekspresi musikal yang dipinggirkan oleh industri dan panggung musik kota Bandung periode 1990-an. Saat ini Festival Bandung Berisik telah menjelma menjadi salah satu festival musik terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di Asia Tenggara. Bila menelusuri segala jejak rekam perkembangannya, kita barangkali bisa mencatat bahwa Festival Bandung Berisik merupakan semacam revolusi dalam perkembangan musik bawahtanah, terutama dalam konteks perkembangan musik cadas di Tanah Air. Revolusi ini tidak hanya menyentuh ekspresi dan gaya bermusik, tetapi juga pada bagaimana musik diproduksi dan ditampilkan di tengah khalayak luas. Dampaknya terasa sampai saat ini, terutama saat Bandung Berisik berhasil menjadi tulang punggung yang mendorong geliat perkembangan ekonomi kreatif di kota Bandung dan sekitarnya.

Dalam trayektori sejarah itu, saya rasa tidak berlebihan bila menyebut Festival Bandung Berisik sebagai salah satu garda terdepan perhelatan musik metal Indonesia dan juga dunia. Yang menarik, perkembangan musik cadas di Indonesia adalah sebuah mutasi yang merupakan hasil dari percampuran antara Barat dan Timur. Musik metal Indonesia adalah segala macam persilangan yang melahirkan ekspresi musik hibrida. Bukan hanya secara musikal tetapi juga identitas segenap pelakunya. Ideologi serta imajinasi musik metal Indonesia merupakan persetubuhan dari berbagai bentuk ekspresi musik cerminan emosi gelap yang serba gahar. Pada hampir setiap pagelaran Festival Bandung Berisik kita bisa merasakan tegangan antara yang lokal dengan yang global, yang Barat dengan yang Timur, masa lalu dengan masa kini, selain pandangan yang serba hitam dan pikiran yang terang benderang. Tidak mengherankan bila musik cadas ala Bandung Berisik kerap disematkan sebagai ekspresi komunitas masyarakat yang liyan dan asing, serta berbeda dengan yang lain.

Kyai Gede Utama, 18 Juni 2012

*Penulis adalah seniman, bekerja untuk Common Room Networks Foundation (Common Room)

Artikel ini diterbitkan di majalah Roling Stones Indonesia, edisi bulan Juli 2012. Pic: Pas Band by Krisna ‘Ncis’ Satmoko (Bandung Berisik, 2012).

Advertisements