Tags

, ,

Slamet Gundono memainkan Gambus Bambu yang dibuat oleh Endo Suanda dengan bantuan Ahmad Sa’dan pada tahun 2011. Terbuat dari Bambu Betung dan Bambu Tutul.

Pagi itu saya memulai aktivitas seperti biasa. Badan terasa masih kurang fit karena sedang terserang gangguan saluran pernapasan. Kemarin saya memutuskan untuk beristirahat penuh di rumah. Setelah mengantar dua orang anak perempuan saya ke sekolah, saya langsung menuju Common Room. Di sana saya mendapati Okid dan Kimung, dua orang teman yang merupakan anggota Karinding Attack. Keduanya sedang asyik berbincang sambil sarapan dan membaca koran. Setelah merilis album pertama, kini mereka sedang mempersiapkan untuk tampil di Festival Bandung Berisik 2012. Saya selalu kagum pada semangat mereka.

Karinding Attack juga sedang berencana melakukan tour di beberapa daerah Jawa Barat. Sambil berkeliling mereka sekaligus ingin menjajal kemampuan untuk berkolaborasi dengan para seniman tradisional dan menciptakan kemungkinan musikal yang baru. Setidaknya ada tujuh kota yang rencananya akan mereka kunjungi. Selain memperkenalkan komposisi musik dengan instrumen bambu, teman-teman Karinding Attack juga ingin mendapat pengalaman baru dengan berinteraksi dengan para seniman setempat. Saya yakin perjalanan ini akan memberi pengalaman berharga untuk Karinding Attack, sekaligus membawa pengaruh yang baik bagi perkembangan seni dan budaya lokal.

Ingatan saya tiba-tiba tertuju pada Endo Suanda. Seorang seniman yang belakangan aktif mengembangkan Lembaga Pendidikan Seni Nusantara (LPSN) dan mengeksplorasi bahan bambu untuk menciptakan instrumen musik baru. Sejak lama saya bercita-cita mempertemukan Karinding Attack dengan Pak Endo. Namun entah kenapa keinginan itu selalu tertunda. Setelah berbicara dengan Kimung, dengan serta merta saya menghubungi beliau meski kemudian tidak diangkat.

Tak berapa lama tiba-tiba telepon genggam saya berdering. Nomornya tidak saya kenal. Begitu diangkat rupanya Pak Endo yang menghubungi saya. Kami segera larut dalam percakapan yang hangat karena memang sudah agak lama kami tidak bertemu. Saya mengutarakan keinginan untuk mempertemukan Karinding Attack dengan beliau. Rupanya Pak Endo menyambutnya dengan semangat. Kami langsung mengatur jadwal pertemuan. Saat ini beliau sedang bersiap untuk berangkat ke Bangkok. Namun Pak Endo mengatakan akan menghubungi saya apabila sudah kembali dari sana.

Lalu kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup panjang. Pak Endo bercerita tentang misinya dalam mengembangkan aktivitas di LPSN. Dalam pandangannya, mengembangkan pendidikan seni Nusantara adalah salah satu cara untuk memperkenalkan keberagaman budaya di tanah air kepada para pelajar di Indonesia. Dengan cara ini, ia berharap dapat mengajarkan keberagaman dan toleransi sedini mungkin kepada banyak orang. “Sulit kalau memperkenalkan keberagaman budaya lewat perjumpaan orang per orang di Indonesia. Yang paling mudah ya lewat kesenian“, begitu katanya.

Selanjutnya ia juga mengatakan bahwa ada banyak sekali bentuk kecerdasan masa lalu yang dapat kita pelajari lewat karya seni Nusantara. Diantaranya adalah pengetahuan dan kearifan lokal, serta berbagai bentuk kecerdasan yang berasal dari masa lalu. Menurutnya sangat penting kita mempelajari pengetahuan dan kearifan lokal, termasuk kecerdasan masa lalu. Namun untuk Pak Endo yang tidak kalah penting adalah kita juga harus dapat menjadi orang yang cerdas di masa kini. Saya sepakat dengan pandangan ini. Masa lalu memang sepatutnya jadi sumber pengetahuan dan inspirasi untuk melakukan inovasi. Selain menoleh ke masa lalu untuk mempelajari akar pengetahuan, kita juga harus bisa menjawab tantangan hari ini dan masa depan untuk merajut harapan.

Presentasi Tita Larasati tentang pemanfaatan material bambu dalam kegiatan TEDxBandung pada bulan Oktober 2010.

Pak Endo lalu bercerita tentang minatnya mengeksplorasi penggunaan material bambu untuk bermacam keperluan, terutama instrumen musik. Sejauh ini ia telah menciptakan alat musik petik dan gendang dari bambu. Menurutnya ada banyak hal yang bisa dieksplorasi dari bambu. Untuk bisa menelusuri kegunaan bambu secara total ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan oleh banyak orang. Mulai dari meneliti varietas dan jenis bambu, teknik pemotongan dan pengeringan, pengembangan teknologi pembentukan dan pengawetan, dst. Sebagai modal awal, kata Pak Endo di Indonesia ada banyak sekali jenis bambu yang menunggu untuk dimanfaatkan lebih jauh.

Selain produk akhir, ada banyak pengetahuan dan narasi yang perlu dikembangkan untuk mengeksplorasi penggunaan bambu. Dalam hal penggunaan bambu untuk instrumen musik misalkan, selain kualitas dan karakter suara rupanya kedekatan material ini dengan ‘jiwa’ seniman sangat penting. Mengutip pernyataan dari Slamet Gundono, Pak Endo mengatakan bahwa karena bambu adalah material yang banyak tumbuh di wilayah Nusantara, seniman seperti Slamet Gundono merasa memiliki ikatan batin tertentu dengan bambu. “Hal ini rasanya penting sekali“, begitu ujarnya.

Ke depan, Pak Endo meminta saya untuk memfasilitasi pertemuan dengan berbagai macam orang yang memiliki minat untuk mengeksplorasi bambu. Menurutnya mustahil bila kelebihan dan kekayaan material bambu ia eksplorasi sendiri. Setidaknya kita perlu orang yang memiliki berbagai pengetahuan yang spesifik. Mulai dari ahli ilmu biologi, ahli tanaman tropis, ahli material, insinyur, arsitek, seniman, desainer, pengusaha, penulis, dsb. Ia berkata bahwa eksplorasi material dan teknologi bambu mustinya bisa jadi salah satu kelebihan kita di Nusantara.

Terkait dengan material bambu, saya juga sebetulnya telah agak lama mengamati penggunaan material ini untuk karya seni. Pada tahun 2002 saya menulis artikel di harian Kompas tentang The Skyplace Project dari seniman Jerman yang bernama Markus Heinsdorff. Proyek ini menampilkan instalasi bambu berbentuk Zeppelin yang dibangun tepat di atas hamparan sawah di halaman Gaya Art Space – Ubud, Bali. Saat itu Markus berkolaborasi dengan para pengrajin bambu yang sengaja didatangkan dari Toraja, Sulawesi Selatan. Dalam perbincangan dengan saya, Markus mengatakan bahwa material bambu adalah material yang futuristik karena mudah tumbuh, murah, ringan, mudah dibentuk, tahan lama dan tidak mengotori lingkungan. Di Indonesia, ia menemukan ada banyak varietas bambu dan para pengrajin tradisional yang memiliki keterampilan dalam mengolah material ini.

Di Tanah Air kita juga mengenal I Wayan Suklu yang banyak mengeksplorasi material bambu untuk karya instalasinya. Pada sekitar Februari – Maret 2010, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar sempat menampilkan karyanya di CCF Bandung. Ada beberapa karya instalasi berbahan dasar bambu yang pada saat itu ia tampilkan. Saya sangat terkesan dengan aneka bentuk bambu dan karakter visual yang dihasilkan oleh komposisi bambu yang ia susun secara simetris. Selain menghasilkan bentuk visual dan struktur yang menarik, instalasi I wayan Suklu juga memiliki kekuatan sehingga ada beberapa karyanya yang dapat digunakan sebagai wahana permainan anak.

Saya sendiri mencermati di sekeliling sudah ada banyak teman yang mulai mengeksplorasi material bambu. Salah satunya adalah Tita Larasati, teman saya yang mengajar desain produk FSRD – ITB. Kalau tidak salah dia secara khusus mempelajari sustainable design di Belanda. Beberapa waktu yang lalu ia pernah bikin presentasi khusus tentang penggunaan material bambu dalam kegiatan TEDxBandung. Selain itu teman-teman Karinding Attack juga punya minat besar untuk mengeksplorasi musik bambu. Ada juga Angklung Web Institute (AWI) dan Saung Angklung Mang Udjo untuk menyebut beberapa yang menaruh minat pada penggunaan material bambu.

Saya menutup pembicaraan dengan Pak Endo dengan memikirkan cara mengumpulkan orang-orang yang memang memiliki minat yang sama untuk mengembangkan penggunaan material bambu di masa depan. Minimal orang-orang yang ada di sekitar kota Bandung. Saya belum terbayang caranya, karena entah kenapa terkadang memang sulit mengumpulkan orang dari berabagai latar belakang dalam satu forum diskusi yang cair. Namun saya sendiri yakin bahwa inovasi material bambu di masa depan akan berkembang baik bila ada jejaring dan kolaborasi multidisiplin. Dalam pengamatan saya, terkadang perbincangan yang cair dan intim dari orang-orang yang memiliki latar belakang pengetahuan yang beragam bisa ikut memicu lahirnya ide-ide baru.

Kyai Gede Utama, 5 Mei 2012

Advertisements