Tags

,

Pertunjukan Pantun Buhun di Common Room
*Pertunjukan pantun buhun di Common Room pada penyelenggaraan Nu-Substance Festival 2010.

Pada hari Sabtu, tanggal 7 April 2012 yang telah lalu, saya diundang untuk berbagi cerita tentang Common Room di s.14. Tempat ini adalah sebuah ruang seni dan budaya yang dikelola oleh pasangan Herra Pahlasari dan Aminudin TH. Siregar yang akrab dipanggil Ucok. Memulai aktivitasnya pada bulan Juli 2008, sejauh ini s.14 adalah salah satu ruang yang aktif menyelenggarakan pameran, diskusi, workshop dan berbagai aktivitas lain ikut mendukung perkembangan seni visual di kota Bandung dan sekitarnya.

Saya datang agak telat siang itu. Namun berhubung cuaca agak mendung, jadwal diskusi kemudian diundur dari waktu yang ditentukan. Satu per satu peserta diskusi berdatangan. Diantaranya ada Rudy st. Darma (penggerak Rumah Proses), Agung Hujatnikajennong (kurator Selasar Sunaryo), Kang Aming (pengelola Galeri Kita), dan banyak lagi. Diskusi akhirnya dimulai sekira pukul 14.00. Dibuka dengan pengantar oleh Ucok, selanjutnya perbincangan kami dipandu oleh Dida Ibrahim, seorang seniman yang juga sempat menjadi pengelola Galeri Kita.

*Video dokumentasi proyek ‘Syair Lisan’ (Deden Sambas, 2011) oleh Ismal Muntaha.

Saya membuka diskusi sore itu dengan memutar beberapa karya video art dan video dokumentasi kegiatan Common Room. Diantaranya adalah video dokumentasi proses pameran Deden Sambas yang berjudul ‘Syair Lisan’. Pameran ini diselenggarakan di Common Room pada 20 Mei s/d 2 Juni 2011 (Info: http://bit.ly/jCnvnI). Video dokumentasi yang diputar dikerjakan oleh Ismal Muntaha, yang juga merupakan salah seorang pegiat aktivitas budaya di Jatiwangi Art Factory (JAF). Pada latar dokumentasi, Ismal menyelipkan lagu ‘Gerbang Kerajaan Serigala’ dari kelompok Karinding Attack. Kebetulan pada saat video ini dibuat, teman-teman Karinding Attack sedang berlatih di Common Room sehingga suasana persiapan pameran Deden Sambas menjadi agak ‘sureal’.

Setelah memutar beberapa video, saya kemudian berbagi cerita tentang latar belakang berdirinya Common Room yang pada mulanya adalah sebuah ruang aktivitas bersama yang dikembangkan oleh Bandung Center for New Media Arts dan Tobucil. Detail cikal bakal perkembangan Common Room bisa dibaca di laman berikut: http://bit.ly/e78HVQ. Selanjutnya saya berbagi cerita tentang beberapa aspek yang berhubungan dengan perkembangan Common Room, baik secara kelembagaan dan aktivitas yang berkembang sampai saat ini. Rupanya tidak mudah untuk menceritakan rekam jejak yang berjalan hampir 10 tahun. Untungnya saya telah menyiapkan materi presentasi terlebih dahulu sehingga perbincangan sore itu dapat berjalan lancar.

Sejak memulai aktivitasnya pada sekitar tahun 2003, perkembangan Common Room secara kelembagaan mengalami banyak sekali dinamika dan perubahan. Berawal dari sebuah ruang yang dikelola secara bersama, Common Room kemudian berubah menjadi organisasi berbadan hukum yayasan pada tahun 2006. Pada saat itu ada kebutuhan agar Common Room memiliki legalitas yang jelas karena intensitas dan skala kegiatan yang semakin luas. Selain melibatkan individu, komunitas dan organisasi di sekitar kota Bandung, Sejak tahun 2004 beberapa kegiatan Common Room juga mulai melibatkan organisasi di luar negeri.

Salah satu contohnya, Common Room menjadi organisasi tuan rumah bagi penyelenggaraan The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang secara langsung didukung oleh Asia Europe Foundation. Selain itu, sejak tahun 2006 Common Room juga mulai secara khusus diminta memberi masukan kepada pemerintah untuk mengembangkan kebijakan yang berhubungan dengan pengembangan potensi ekonomi kreatif. Dalam perkembangan ini, Common Room ikut memfasilitasi pembentukan asosiasi pengusaha clothing independen (KICK) pada pertengahan tahun 2006. Selanjutnya Common Room juga ikut memfasilitasi pembentukan Bandung Creative City Forum (BCCF) pada tahun 2007.

Disco Party karya Chandra Tresnadi & Rieswandi. Karya ini diciptakan oleh Chandra Tresnadi dan Rieswandi dalam kegiatan workshop One Minute Video Project yang diselenggarakan di Common Room pada tahun 2009.

Perluasan aktivitas juga sangat terasa di dalam berbagai kegiatan Common Room. Dari yang semula terfokus pada kegiatan yang berhubungan dengan seni visual, pada perkembangannya Common Room juga aktif mendukung berbagai kegiatan yang berhubungan dengan musik, sastra, teater, tari, dsb. Sejak mengawali aktivitasnya sampai saat ini, Common Room juga telah mewadahi kegiatan pameran, workshop, diskusi, pemutaran film/ video, festival budaya, dsb. Sebagian besar dari kegiatan ini diinisiasi dan dikelola secara mandiri oleh individu, komunitas dan organisasi yang menjadi mitra Common Room. Dalam hal ini Common Room lebih banyak berfungsi sebagai fasilitator yang berusaha untuk mendukung kegiatan yang ada. Terhitung sejak tahun 2009, Common Room kemudian menjadi platform terbuka untuk kegiatan seni, budaya dan pemanfaatan teknologi media.

Setelah presentasi, diskusi dibuka dengan pertanyaan Ucok yang menyoal kebutuhan ruang untuk mengembangkan aktivitas seni dan budaya. Dalam hal ini, saya merasa kebutuhan akan ruang bagi kegiatan seni dan budaya sangatlah mutlak diperlukan. Namun begitu, saat ini kebutuhan akan ruang telah tumbuh berkembang tidak hanya di ruang-ruang fisik tetapi juga ruang virtual. Saya jadi teringat diskusi dengan Pak Yasraf A. Piliang yang menguraikan bagaimana makna dan wujud ruang dalam perkembangan seni dan budaya telah banyak bergeser. Kegiatan seni dan budaya yang pada mulanya adalah aktivitas arsitektonik saat ini juga telah menjelma menjadi aktivitas patafisik. Catatan diskusi ini bisa diakses di laman berikut: [Risalah] Diskusi Tentang Seni, Politik dan Teknologi.

Selanjutnya Dida mengajak saya untuk membahas strategi pengelolaan Common Room secara organisasi karena menurutnya tidak banyak organisasi seni dan budaya di Bandung yang dapat mengembangkan aktivitasnya secara berkelanjutan. Saya sendiri merasa saat ini ruang seni dan budaya perlu dikembangkan dengan strategi pengelolaan yang baik. Hal ini juga meliputi aspek kelembagaan, administrasi, keuangan, serta terutama aspek perencanaan dan pelaksanaan kegiatan yang dikembangkan secara profesional dan berkelanjutan. Dalam konteks ini saya juga merasa bahwa ruang seni dan budaya tidak akan dapat berfungsi baik tanpa dukungan publik, sehingga aktivitas yang dikembangkan sebaiknya juga memiliki orientasi untuk memenuhi kebutuhan publik yang beragam.

Terkait dengan aktivitas Common Room yang melibatkan banyak pihak, Frans Prasetyo bertanya apakah hubungan kerja yang ada ikut mempengaruhi otonomi dan independensi Common Room sebagai sebuah organisasi. Dalam hal pengalaman bekerjasama dengan organisasi lain termasuk lembaga donor, memang ada pandangan bahwa hal ini dapat mengganggu kemandirian organisasi dalam mengembangkan aktivitasnya. Namun sejauh pengalaman saya pribadi, hubungan kerjasama Common Room dengan berbagai organisasi dan lembaga donor justru memberi nilai tambah karena pengelola organisasi kemudian dituntut untuk dapat bekerja secara profesional, serta mengedepankan aspek transparansi dan akuntabilitas.

Nu-Substance Festival adalah kegiatan tahunan yang pertama kali diselenggarakan oleh Common Room pada tahun 2007 dan digelar secara rutin hingga saat ini.

Pengelolaan ruang seni dan budaya saat ini saya rasa mutlak membutuhkan konsistensi dan profesionalisme mengingat dinamika dan tantangan yang dihadapi jauh berbeda dengan era sebelumnya. Di era kunstkring (asosiasi seni) pada periode pra kemerdekaan, ruang seni dan budaya lebih banyak dituntut untuk melayani kebutuhan anggotanya. Sementara di era sanggar pada tahun 1960-an, penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya banyak mempertimbangkan aspek ideologi. Saat ini ruang seni dan budaya perlu dikelola secara konsisten dan profesional karena menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang melahirkan banyak sekali tantangan dan situasi yang baru.

Di era paska Orde Baru situasi politik di Indonesia menjadi arena kontestasi terbuka. Namun begitu saat ini perkembangan dunia politik juga dipengaruhi oleh kepentingan para pemilik modal kapital dan korporasi, sehingga menempatkan warga sipil sebagai subyek yang diharapkan dapat menjadi kekuatan penyeimbang dari proses tarik menarik kepentingan yang ada. Di ranah budaya, situasi tarik menarik kepentingan ini juga menuntut warga sipil untuk menjadi subyek yang secara aktif mengartikulasikan sekaligus melindungi hak publik untuk dapat berekspresi secara bebas serta melepaskan diri dari proses hegemoni politik dan ekonomi yang berlangsung nyaris tanpa jeda. Dalam hal ini, warga sipil dapat mengaktivasi sumber-sumber modal sosial, intelektual dan kultural melalui kegiatan seni dan budaya yang melibatkan publik secara luas.

Perlu diakui bahwa Orde Baru telah berhasil memisahkan realitas seni dan budaya dengan gagasan-gagasan politik sehingga kegiatan seni dan budaya terkesan hanya menjadi pelengkap dari pranata sosial yang ada. Namun begitu, belakangan juga tumbuh kesadaran politik budaya yang melihat kegiatan seni dan budaya sebagai instrumen produksi dan penyebaran pengetahuan yang sekaligus dapat membangun kesadaran akan prinsip-prinsip kebebasan berekspresi, kesetaraan, serta toleransi. Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir kita juga dapat melihat kemunculan ruang seni dan budaya yang menyokong agenda-agenda pemberdayaan, solidaritas dan emansipasi, serta keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan universal. Sebagai dampaknya, saat ini praktik seni dan budaya bukan hanya menjadi wahana ekspresi dan refleksi personal, tetapi juga instrumen komunikasi yang merepresentasikan kondisi sehari-hari secara kritis dan kontekstual.

Dalam diskusi ini, saya juga menyampaikan bagaimana ruang seni dan budaya juga perlu menjadi ruang bersama yang sekaligus mendukung proses produksi dan penyebaran pengetahuan yang mampu memberdayakan dan mencerdaskan publiknya. Dalam konteks ini, aktivitas seni dan budaya merupakan sumber narasi yang sekaligus dapat menjadi sumber pengetahuan bagi khalayak luas. Saya sendiri merasa bahwa karya seni dan budaya memiliki daya persuasi yang mampu menghidupkan kemampuan berimajinasi dan potensi kreativitas, sehingga perlu dikelola secara baik dan profesional agar dapat bermanfaat bagi orang kebanyakan.

Diskusi kemudian berlanjut secara cair membicarakan perkembangan terkini dari ruang-ruang seni dan budaya yang ada di kota Bandung. Kebanyakan peserta diskusi sepertinya sepakat bahwa saat ini sebetulnya tidak mudah untuk mengelola ruang seni dan budaya secara mandiri dan berkesinambungan. Situasi politik dan kondisi ekonomi yang demikian dominan semakin menyulitkan ruang seni dan budaya untuk mewadahi kebutuhan berekspresi secara bebas. Partisipasi publik juga terkadang banyak terkendala karena kesenjangan informasi dan pengetahuan. Dalam hal ini, sebagian peserta diskusi juga melihat bahwa konsistensi dan profesionalisme merupakan kunci untuk menghadapi situasi yang berkembang saat ini. Selain itu pengelolaan ruang seni dan budaya juga membutuhkan ketekunan, keterampilan, serta pengetahuan yang perlu dipelajari secara sungguh-sungguh dan terus menerus.

Tidak terasa diskusi sudah berlangsung sampai jam 6 sore. Kami akhirnya menyudahi perbincangan dan bersepakat bahwa diskusi yang mencermati perkembangan dan pengelolaan ruang seni dan budaya perlu dilanjutkan. Ke depan ajang diskusi seperti ini diharapkan dapat menjadi sarana berbagi informasi dan pengetahuan agar pengelolaan ruang seni dan budaya di kota Bandung dapat terus berkembang. Sebelum pulang, Herra Pahlasari menyerahkan bingkisan yang berisi buku tentang Andri Moch., seniman muda kota Bandung yang meninggal dunia pada tahun 2008. Pada masa hidupnya, Andri Moch. dikenal sebagai seorang seniman yang sangat berbakat dan sekaligus menjadi motor penggerak IF Venue, sebuah ruang seni dan budaya yang aktif mengembangkan kegiatan sampai dengan tahun 2006. Tanpa ruang seni dan budaya, sulit untuk membayangkan bagaimana para seniman serta praktik seni dan budaya dapat berkembang sampai sekarang.

Kyai Gede Utama, 9 April 2012

Advertisements