Tags

PUNCLUT, menurut masyarakat setempat, adalah sebuah tempat yang merupakan puncak dari bukit kecil. Dari puncak bukit itu, kita bisa memandang ke segala arah Dataran Tinggi Bandung. Dan, di tempat itu pulalah Pemerintah Hindia Belanda pada saat itu menempatkan salah satu dari tiga pal-triangulasi yang terbuat dari batu.

Dua pal-triangulasi berada di sebelah utara, di mana terdapat bangunan dan tiang antena stasiun relay Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Bandung. Sementara satu lagi terletak di sebelah timur, pada satu daerah yang disebut Blok Sayang Kaak, di sebelah utara daerah Randu Kurung. Daerah yang terakhir ini sekarang penuh bangunan.

Akan tetapi, dalam kepercayaan masyarakat setempat, daerah yang mereka huni merupakan kawasan yang dikelola secara supranatural oleh para leluhur Kerajaan Pajajaran. Wilayahnya meliputi daerah yang kini dinamakan Buniwangi, Curug Dago, dan Punclut.

Endang Didih Wasita, sebagai salah seorang tokoh masyarakat setempat, mengungkapkan, di sebagian penduduk Punclut hingga kini masih ada yang beranggapan bahwa leluhur daerahnya adalah Prabu Susuk Tunggal dan Sembah Dalem Ranggamalela. Pengakuan ini dibuktikan dengan sering diucapkannya nama-nama tersebut dalam upara ritual yang diselenggarakan pada saat melakukan selamatan rumah atau khitanan dan lainnya.

Susuk Tunggal dalam Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat (Saleh Danasasmita Drs dkk, 1983-1984) merupakan mertua Prabu Jayadewata, putra Raja Galuh. Susuk Tunggal berkedudukan di Pakuan atau Kota Bogor sekarang. Dialah yang membangun keraton Sri Bima-Punta-Narayana-Madura-Suradipati di Pakuan untuk menantunya.

Perkawinan Jayadewata dengan putri Susuk Tunggal pada gilirannya berhasil menyatukan dua kerajaan di Tanah Sunda menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran. Dalam berbagai historiografi, Jayadewata sering diidentikkan dengan Prabu Siliwangi karena selama berkuasa ia berhasil memimpin Kerajaan Pakuan Pajajaran menjadi sebuah kerajaan yang makmur, besar dan kuat.

Situsnya berupa peninggalan Susuk Tunggal di Punclut sempat dikeramatkan. Endang Didih Wasita menceritakan, di lokasi itu dilarang berbicara sompral. “Bahkan, jika ada orang bersiul saja, mulutnya langsung monyong,” katanya bersungguh-sungguh seraya memperagakan kedua bibirnya seperti orang bersiul.

BELUM diketahui pasti sejak kapan daerah tersebut dijadikan hunian. Namun, menurut Budiwidodo Pangarsa, tokoh masyarakat setempat, masyarakat Punclut pada awalnya merupakan sekelompok keluarga-keluarga yang datang bekerja di lahan perkebunan milik maskapai Hindia-Belanda. Mereka kemudian bermukim di sekitar lahan perkebunan.

Namun, setelah perkebunan tersebut bangkrut, mereka tetap menetap di sana dengan hidup berkelompok dan kemudian membangun kampung. Kelompok area permukimannya terbagi dalam empat kampung, masing-masing Kampung Sekejulang di bagian barat-selatan dan Kampung Cipicung Hilir di bagian selatan-timur. Di bagian utara-barat kawasan tersebut terdapat kelompok hunian penduduk yang disebut Kampung Cihanja dan Kampung Cipicung Girang di sebelah utara-timur.

Kampung-kampung tersebut pada awalnya terdiri dari beberapa keluarga. Dalam perkembangan selanjutnya berkembang menjadi kampung yang lebih besar. Pertambahan penduduk terjadi karena hubungan perkawinan antarsesama warga kampung atau dengan kampung lainnya maupun antara penduduk kampung tersebut dengan pendatang.

Mereka kemudian menetap dan membangun tempat tinggal baru. Atau bahkan membawa pergi ke luar Punclut mengikuti suami atau istrinya yang tinggal di daerah lain. Atau pula karena pekerjaan mengharuskan tinggal di luar Punclut.

Sampai tahun 2000, penduduk yang tercatat resmi sekitar 4.082 jiwa (1.074 keluarga). Dari jumlah itu, sekitar 80 persen di antaranya penduduk asli yang berasal dari perkawinan antarkeluarga dalam satu kampung atau dengan kampung lain. Sementara sekitar 15 persen penduduk yang datang karena pertalian emosional dan hubungan sosial khusus. Mereka dianggap sebagai bagian dari kerabatnya karena memiliki peran khusus di masyarakat.

Sementara sisanya sekitar 5 persen merupakan penduduk yang datang dengan tujuan memanfaatkan ekonomi semata. Baik dalam memanfaatkan potensi lokasi maupun hanya untuk ekonomi individualnya. Namun, karena kelompok yang terakhir berasal dari luar, mereka sering kali terlepas dari tradisi dan pola hubungan kemasyarakatan setempat.

Dari sisi mata pencaharian, mereka yang gagal memasuki sektor formal dan informal di perkotaan akhirnya kembali menggarap tanah yang tidak subur lagi. Kegiatan itu jelas tidak menguntungkan secara ekonomi maupun lingkungan. Satu-satunya kelebihan daerahnya adalah letaknya di kawasan Bandung Utara yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Punclut selama ini sudah jadi tempat wisata.

Untuk mengembangkan potensi daerahnya, mereka mengusulkan agar daerahnya dijadikan wilayah pengembangan yang berbasis masyarakat dengan memberdayakan lembaga masyarakat yang ada. Karena dianggap sesuai dengan rencana tata umum tata ruang kota (RUTRK), usulan itu disetujui dalam pertemuan pleno antara masyarakat dan pemerintah daerah pada 17 April 2001.

Dalam konsep yang terkesan sangat indah itu, Punclut direncanakan sebagai kawasan konservasi dan kawasan wisata terpadu yang dikembangkan sebagai daerah hijau. Dengan demikian, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, realisasi rencana tersebut dilakukan melalui kegiatan agrobisnis dengan tetap mempertahankan potensi ekologis dan kultural
masyarakat setempat.

Akan tetapi, belum lagi direalisasi, yang muncul kemudian justru proyek lain.

MASYARAKAT Punclut hingga kini masih merupakan masyarakat tradisional. Mereka hidup dari tanah. Akan tetapi, ketika tanah tak lagi subur dan menghasilkan dengan baik, sebagian angkatan kerja berusaha mengalihkan kegiatan menjadi buruh bangunan atau buruh industri.

Namun, sebagian besar lainnya, terutama yang berusia di atas 50 tahun, kesulitan karena tidak memiliki keterampilan yang memadai. Tingkat pendidikan formalnya rendah. Masalahnya muncul bukan karena kemiskinan semata, tetapi juga akibat pemahaman tentang pendidikan. Seperti di pedesaan umumnya, masih banyak di antara mereka yang tidak dapat
menyekolahkan anaknya sampai selesai sekolah dasar.

Sungguh merupakan ironi, Punclut yang masih merupakan bagian dari wilayah Kota Bandung itu terkesan terabaikan. Anak-anaknya yang masih bersekolah harus berjuang menempuh perjalanan berat agar bisa mengikuti pelajaran. Karena topografi wilayahnya yang berbukit-bukit, mereka harus jalan kaki sejauh dua sampai tiga kilometer, setelah sebelumnya menempuh perjalanan yang menanjak atau menurun.

Perjalanan anak-anak tersebut menjadi lebih berat lagi karena sifat tanah di kawasan Punclut didominasi jenis tanah merah (latosol). Pada musim kemarau, ikatannya mengembang. Sebaliknya, pada musim hujan, berubah memadat menjadi lengket dan licin. Agar sepatu tetap bersih dan bisa digunakan pada saat mengikuti pelajaran, mereka menentengnya sampai ke sekolah.

Menurut Budiwidodo, dulu di kawasan Punclut pernah direncanakan mendirikan bangunan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Namun, ia kecewa karena rencana itu sebatas memancangkan tiang pancang. Setelah itu tidak pernah lagi diketahui kelanjutannya. Lokasi sekolah itu sekarang hanya digunakan untuk main bola dan tempat menggembala domba.

Budiwidodo berharap, pembangunan sekolah itu dilanjutkan secara swakelola. “Masyarakat akan melaksanakannya,” katanya. (Her Suganda)

Source: http://yhoo.it/zuEMjL

Advertisements