Tags

Tadi pagi saya menyimak diskusi Patahan Lembang dan Mitigasi Bencana di Aula Redaksi Pikiran Rakyat bersama T. Bachtiar. Selama beberapa tahun terakhir, topik ini memang banyak mewarnai ruang diskusi tentang mitigasi dan kebencanaan di wilayah Cekungan Bandung. Kali ini diskusi diprakarsai oleh Komunitas Matabumi yang kerap menyelenggarakan kegiatan Geotrek, program kunjungan ke beberapa medan geologi yang spesifik sebagai wahana mengenal ilmu kebumian dengan cara yang populer.

Dalam diskusi ini, dikatakan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar Cekungan Bandung perlu mengarahkan perhatian serius ke Patahan Lembang yg merupakan sesar aktif. Karena ada beberapa lempeng bumi dan gunung berapi aktif yang tersebar di wilayah Jawa Barat, wilayah Cekungan Bandung punya resiko bencana tinggi karena ada banyak aktifitas tektonik di daerah ini. Selain itu ada juga rekaman sejarah mengenai siklus gempa tektonik di wilayah Cekungan Bandung, meskipun aktifitas tektonik yang ada belum terlacak awal mulanya secara akurat. berdasar informasi yang ada di beberapa wilayah sekitar kota Bandung, sejak dulu memang sering terjadi gempa dengan kekuatan dan daya rusak yang beragam.

Tingkat kepadatan penduduk di wilayah Cekungan Bandung menambah resiko bahaya korban jiwa apabila terjadi gempa besar. Karena ini masyarakat dan pemerintah harus bekerja sama siapkan upaya siaga kebencanaan. Langkah pertama adalah meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan di kalangan masyarakat yg ada di wilayah ini. Salah satunya dengan mengembangkan pusat informasi dan jaringan posko siaga kebencanaan di wilayah Cekungan Bandung. Lewat pusat informasi dan jaringan posko siaga bencana, warga di wilayah Cekungan Bandung dapat mengantisipasi dan siapkan upaya mitigasi kebencanaan.

Wilayah di sekitar Sesar Lembang saat ini telah jadi perhatian Badan Geologi dan ditetapkan sebagai wilayah khusus. Namun begitu jaringan pengamatan kebencanaan perlu disempurnakan dan diperkuat. Untuk hadapi bencana, paradigma relief dan recovery perlu diubah menjadi mitigasi. Basisnya komunitas siaga bencana. Daya tahan masyarakat untuk hadapi bencana perlu ditingkatkan dengan kesiapan dan kesiagaan. Warga di wilayah Cekungan Bandung harus mampu jadi warga yang dapat bertahan (survivor) agar tidak menjadi korban bencana (victim).

Dalam pengertian yang paling umum, mitigasi adalah upaya pencegahan dampak kerusakan dan korban akibat bencana. Biasanya upaya mitigasi dilakukan di wilayah yang memang memiliki potensi bencana yang tinggi. Karena bencana alam adalah sebuah peristiwa yang tidak dapat dicegah, upaya mitigasi juga mencakup proses adaptasi atau upaya penyesuaian diri. Intinya agar masyarakat yang tinggal di wilayah yang memiliki resiko bencana tinggi dapat menyesuaikan diri dengan keadaan serta mampu mengantisipasi apabila bencana datang. Upaya adaptasi dan mitigasi kebencanaan diantaranya adalah dengan meningkatkan pemahaman serta kemampuan untuk menghadapi kondisi bencana.

Komunitas warga, mahasiswa, ahli kebencanaan dan pemerintah perlu kembangkan model mitigasi bencana di Cekungan Bandung. Sejauh ini model yang ada baru sekedar merespon, bukan antisipasi, adaptasi dan mitigasi kebencanaan. Perlu ada perubahan paradigma. Adapun model yang dikembangkan benar-benar harus dapat diterapkan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat agar terjadi kolaborasi dan kerjasama yang baik. Masyarakat harus dapat terlibat dan dilibatkan mulai dari proses antisipasi, adaptasi, mitigasi sampai recovery apabila bencana terjadi. Jangan sampai kita tidak siap ketika bencana datang, sehingga akan jatuh banyak korban. Pelibatan ini juga bagus untuk menumbuhkan harapan dan rasa percaya diri agar masyarakat dapat mengembangkan upaya mitigasi bencana secara mandiri dan berkelanjutan.

Kyai Gede Utama, 13 Oktober 2011

Sumber Gambar: Penggunaan SRTM dan Aster 3B VNIR Untuk Analisis Geomorfologi Tektonik (Puguh Dwi Raharjo. 2009)

*Pada saat diskusi ini berlangsung, gempa sebesar 6,8 Skala Richter terjadi di Bali, tapatnya pada pukul 10.16 WIB. Informasi: http://bit.ly/pL3ovu

Advertisements