Tags

,

Di kota besar, tempat, ruang, atau apapun namanya barangkali hanyalah titik persinggahan sementara. Bahkan rumah juga mungkin hanya jadi tempat mampir saja.

Masyarakat kota membutuhkan mobilitas untuk dapat bertahan hidup. Berbeda dengan petani yang bekerja menggarap sawah di sepanjang hidupnya, orang kota harus senantiasa bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Beberapa harus bekerja pontang-panting dan berlari tunggang-langgang.

Cara hidup orang kota mirip seperti bangsa nomad: selalu bergerak dan berpindah-pindah, selain juga kerap berkumpul seperti suku dan melakukan perburuan. Ada yang berburu sendiri, ada juga yang berkelompok. Yang diburu mungkin hanya satu: uang.

Ikatan sosial orang kota ditentukan oleh pilihan pribadi, status, serta kehendak kerumunan orang yang tergabung dalam suku ataupun komunitas tertentu. Disatukan bukan hanya oleh wilayah dan garis keturunan, tapi juga oleh imajinasi. Karena itu orang kota selalu terlibat dalam proses pergulatan identitas yang selalu bergerak di sepanjang waktu. Kemana arahnya, mungkin tak ada yang tahu.

Kota juga adalah tempat bagi keberagaman, perbedaan, serta segregasi sosial dan ekonomi. Jutaan orang hidup di kota dengan sejarah dan asal-usul yang saling berbeda, selain nasib dan peruntungan yang berlainan. Di sana juga ada orang kaya dan orang miskin. Biasanya yang miskin jumlahnya lebih banyak dan hidupnya sulit. Namun begitu ada banyak diantara mereka yang hatinya lebih bahagia daripada orang kaya. Keberagaman adalah perekat yang menyambung nafas orang kota.

Kompleksitas kehidupan di kota terkadang berujung pada arena pertarungan kekuasaan dan kontestasi kepentingan. Di sana orang berkompetisi untuk kepentingan diri atau kelompoknya. Prosesnya seringkali tidak adil, karena di kota ada hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang menang. Hukum ini berlaku bagi sebagian gerombolan orang. Kisahnya bisa kita simak dari dongeng tentang penguasaan wilayah atau peruntungan yang melibatkan sekelompok orang atau golongan. Ini mungkin sebentuk perang yang akan terjadi sepanjang masa.

Di kota juga ada alienasi berupa proses pengasingan diri ditengah kumpulan orang-orang. Meski ramai ada orang yang merasa sepi. Meski berkerumun ada orang yang merasa sendiri. Meski riuh rendah ada orang yang merasa sunyi. Segregasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses alienasi. Persoalan sosial dan kesenjangan ekonomi terkadang dapat membuat banyak orang merasa terasing dari kenyataan sekeliling. Kesendirian itu terkadang menyakitkan.

Mungkin orang kota perlu berhenti sejenak dari pergerakan, pertarungan atau keseharian yang begitu membosankan. Orang kota butuh ruang jeda. Sebuah jeda untuk melepas penat dan rutinitas yang meletihkan hati. Sebuah jeda yang memungkinkan orang-orang untuk berdamai dengan kenyataan. Sebuah jeda yang dapat membuat kehidupan orang kota menjadi lebih manusiawi tanpa embel-embel perbedaan, segregasi dan alienasi. Jeda yang izinkan orang kota untuk merawat cinta, sekaligus meretas mimpi, harapan dan imajinasi.

Sebagian ada yang mencari jeda di taman kota atau pusat perbelanjaan. Sebagian lagi ada yang mencari jeda lewat berbagai perayaan dan gemerlap pesta pora. Ada juga yang mencari jeda lewat teologi, ritual doa dan meditasi, serta menemukan jeda dengan menghabiskan waktu bersama belahan jiwa. Selain itu, ada yang mencari jeda dengan membuka cakrawala pengetahuan, juga memburunya lewat filsafat, seni dan puisi. Yang dicari di sana mungkin bukan hanya jeda tapi juga makna.

Kyai Gede Utama, 11 Oktober 2011

Advertisements