Tags

,

Sebuah pesan datang melalui jendela kamarku. Mereka datang menjemputku untuk bertandang ke dunia baru. Mereka bilang dunia baru adalah sebuah tanah harapan dimana mimpi tentang kebebasan begitu keras berkumandang sampai ke ujung langit dan batas lautan.

Di sana mereka mengajak aku untuk datang ke sebuah kuil tempat mimpi dan narasi tentang kebebasan itu ditatah di atas batu pualam. Mereka juga mengajak aku untuk datang ke sebuah kota yang berisi ribuan gedung tinggi yang berdiri tegak menjulang. Puncaknya merobek langit dan menembus batas cakrawala tempat kita semua berada. Setiap malam orang-orang di sana datang ke sebuah lapang untuk berkumpul seperti semut dan kunang-kunang.

Selepas itu mereka mengajak aku untuk datang ke sebuah padang tandus dimana orang-orang liar berjalan sempoyongan di tengah jalan raya untuk bersenang-senang. Sekali waktu sepertinya mereka senang berada di tengah keramaian bersama kerumunan orang-orang. Namun selebihnya kebanyakan diantara mereka hidup sendiri-sendiri serta tinggal saling berjauhan di wilayah masing-masing. Selanjutnya aku kemudian diajak terbang ke sebuah pulau yang terletak di tengah samudra. Di sana aku bertemu dengan orang-orang yang memuja tuhan dengan bahasa mereka sendiri.

Dalam perjalanan aku bertemu dengan seorang pujangga yang senang mendongeng serta menulis puisi tentang cinta dan kebebasan manusia. Selanjutnya aku bertemu dengan banyak orang yang menyampaikan macam-macam dongeng tentang kebenaran dan pengetahuan yang merangkum kehidupan, kebahagiaan dan sekaligus kesedihan yang mengandung dendam serta kemarahan yang sedemikian dalam. Dalam perjalanan itu aku merasakan bumi bergetar, menyaksikan langit menggelegar, serta mendengar sebuah hutan telah hangus terbakar.

Mereka bilang tanah harapan adalah tempat dimana dunia baru diciptakan. Di sini mereka membangunnya tepat di atas dunia lama yang telah dihilangkan karena dianggap sebagai perlambang kegelapan. Namun begitu jejaknya ada di dalam setiap kisah yang dikabarkan oleh orang buangan serta mereka yang tinggal di wilayah perbatasan. Selain itu kisah mereka juga ada pada rima dan lukisan yang digambar oleh orang-orang yang hidup di jalanan. Mungkin suatu saat kalian juga bisa mendengar kisahnya melalui nyanyian orang-orang pulau yang menyisakan tangis dan mimpi tentang harapan sang liyan. Sementara itu dunia hanya bisa tertunduk diam.

Honolulu, 7 September 2011

Advertisements