Tags

, ,

Dalam sebuah pertemuan dengan seorang teman, saya berkesempatan untuk berdiskusi tentang beberapa aspek yang terkait dengan perayaan dan ritual, serta kaitannya dengan budaya yang berkembang di sebagian komunitas masyarakat Indonesia. Menurut teman saya ini, sebagain besar masyarakat di Indonesia melihat kegiatan perayaan dan ritual sebagai momen yang penting bagi hidup mereka. Hal ini misalkan tercermin dari berbagai bentuk perayaan dan ritual pada adat istiadat serta tradisi yang selama ini mewarnai kehidupan masyarakat di desa-desa, ataupun berbagai bentuk perayaan di kalangan masyarakat kosmopolit yang hidup di kota besar.

Saya sendiri merasa bahwa perayaan dan ritual memang punya posisi penting dalam hidup kita. Bukan hanya secara spiritual, tetapi juga politik, sosial, ekonomi dan budaya. Dalam beberapa hal, perayaan dan ritual juga bisa menjadi sumber pengetahuan yang membentuk kesadaran, pola pikir dan perilaku. Dengan kata lain, kegiatan perayaan dan ritual juga setidaknya dapat menjadi wahana pendisiplinan tubuh individu yang ikut mengkonstruksi struktur ataupun watak sosial masyarakat kita. Selain itu, perayaan dan ritual juga dapat membentuk pola interaksi antar individu, komunitas dan masyarakat. Dalam hal ini, kegiatan perayaan dan ritual juga merupakan wahana yang penting untuk membentuk kohesi sosial yang menjadi dasar bagi gestur sosial dan rasa kebersamaan masyarakat.

Namun begitu, peristiwa perayaan dan ritual juga dapat tergelincir menjadi rutinitas yang tidak punya makna apa-apa. Hal ini terjadi apabila peristiwa perayaan dan ritual berjalan tanpa dibarengi dengan proses berfikir dan berimajinasi, juga kritik dan refleksi. Sebagai contoh, barangkali kita dapat menunjuk berbagai kegiatan perayaan yang bertebaran hampir setiap hari di sekeliling kita. Salah satunya adalah kegiatan perayaan 17 Agustusan atau upacara bendera yang diselenggarakan setiap hari Senin di sekolah-sekolah. Menurut saya kegiatan semacam ini bagi sebagian orang (termasuk saya) mungkin hanya sekedar rutinitas yang tidak bermakna apa-apa. Glorifikasi peristiwa kemerdekaan NKRI dan semangat nasionalisme ini terasa timpang dengan realitas masyarakat yang saya pikir penuh dengan kesenjangan dan kepalsuan yang mendalam.

Berkaca dari pembicaraan di atas,  saya rasa kegiatan selebrasi memang ada baiknya selalu kita imbangi dengan kerja seleberal agar peristiwa perayaan dan ritual mampu menyentuh substansi dan narasi yang bermakna bagi hidup kita.

Kyai Gede Utama, 4 Agustus 2011

* Foto diambil dari pertunjukan Pantun Buhun yang diselenggarakan di Common Room pada pembukaan Nu-Substance Festival 2010.

Advertisements