Tags

, ,


Bebunyian pada karya ini adalah suara air dari Sungai Cikapundung yang diampilifikasi dengan menggunakan megaphone bekas serta sirkuit elektronik yang dirakit oleh para pengrajin komponen di Pasar Cikapundung. Derau distorsif pada karya ini terbentuk dari kombinasi penggunaan beberapa sirkuit elektronik dan sumber bebunyian elektro-akustik yang berasal dari kehidupan sehari-hari.

Karya ini terinspirasi oleh narasi tentang Sungai Cikapundung, sungai utama yang membelah kota Bandung dari arah utara. Hulu sungai ini terletak di Bukit Tunggul dan melintasi Kampung Cikapundung yang terletak di wilayah Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang. Saat ini wilayah hulu Sungai Cikapundung secara administratif berada di bawah pemerintahan Kabupaten Bandung Barat.

Sungai Cikapundung bermuara di Sungai Citarum yang berada di wilayah selatan kota Bandung. Alirannya menembus batas teritorial tiga unit pemerintahan, yakni Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung. Meskipun terpisah secara administratif, sungai ini merupakan satu kesatuan ekosistem yang berada di dalam Wilayah Cekungan Bandung.

Alih-alih menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar, kini Sungai Cikapundung merupakan salah satu sungai yang memiliki tingkat pencemaran dan kerusakan yang tinggi. Sebagian besar kerusakan kondisi Sungai Cikapundung disebabkan oleh aktifitas manusia yang mencemari sungai dengan kotoran ternak, sampah domestik, limbah industri, selain juga eksploitasi sempadan sungai yang menyebabkan pendangkalan serta bencana banjir dan tanah longsor.

Dementia Cikapundung merupakan karya seni yang mengabarkan kisah mengenai kondisi Sungai Cikapundung, sumber air kehidupan (cai kahuripan) yang kini menjelma menjadi sungai maut yang penuh dengan polusi dan marabahaya. Karya ini diikutsertakan pada kegiatan [Derau]: Pameran Seni Bebunyian yang diselenggarakan mulai tanggal 1 s/d 16 Juli 2011, dan merupakan bagian dari rangkaian program Nu:SubstanceFestival/2011/Polarities.

Advertisements