Tags

, , ,

“[…] new form of politics is emerging…living room has become a voting booth…Participation is changing everything.” (Marshall McLuhan, 1967) via @mcluhan2011eu

Orang banyak menyebutnya sebagai media baru. Maknanya tidak terlalu spesifik karena sejak dahulu hingga sekarang media baru selalu ada. Namun begitu, kita tahu kalau saat ini media digital dan teknologi informasi telah merubah perkembangan budaya dalam pengertian yang sangat luas. Untuk itu, media baru dalam konteks perkembangan teknologi media dan informasi digital di zaman kiwari juga ditenggarai telah menghasilkan budaya yang baru.

Pada masanya, gestur tubuh, bebunyian, tulisan, gambar, wayang, barang cetakan, atau bahkan fotografi barangkali adalah media baru. Mulai sejak manusia mengenal bahasa isyarat dan komunikasi verbal, termasuk juga tulisan dan bahasa gambar; media merupakan alat interaksi dan komunikasi, sekaligus wahana penyebaran informasi dan pengetahuan.

Wujud media berubah seiring dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Mulai dari yang alamiah, mekanik, analog, sampai dengan yang digital. Teknologi digital dapat melakukan kodifikasi dan kompresi data hingga merubah format media secara radikal. Dampaknya jauh lebih radikal daripada mesin cetak Guttenberg yang dahulu merubah pola produksi dan penyebaran informasi serta pengetahuan di Eropa, juga di seluruh dunia.

Informasi dan pengetahuan membentuk kesadaran serta cara pandang tertentu atas kenyataan inderawi. Dalam hal ini media punya kuasa untuk membentuk sistem representasi dari kehidupan sehari-hari. Untuk itu, media juga merupakan ekstensi dari tubuh dan indera manusia. Bukan hanya penyampai pesan, tapi media juga merupakan pesan yang wakili kerut merut wajah dunia. Dahulu pengalaman empirik dan persepsi tentang dunia didapat melalui sebentuk interaksi yang intens dengan lingkungan sekitar. Saat ini kita cukup mencerapnya melalui mesin perantara semisal layar komputer atau telepon pintar.

Apabila media konvensional andalkan satu sumber untuk satu atau banyak pemirsa; media digital dapat memobilisasi banyak sumber untuk banyak pemirsa. Hal ini merubah mekanisme produksi dan penyebaran informasi serta pengetahuan, selain juga sistem representasi dan struktur kekuasaan. Dampak yang paling terasa barangkali adalah lahirnya berbagai nilai dan pemahaman baru, sebagai hasil dari proses konstruksi sosial dan perubahan sistem organisasi masyarakat yang berjalan seiring dengan perkembangan teknologi media.

Mekanisme produksi dan penyebaran data yang sebelumnya dikuasai secara terpusat oleh kanon pengetahuan dan institusi kekuasaan, kini telah tersebar dan semakin terdesentralisasi. Teknologi digital juga mampu menciptakan interaksi dan komunikasi dua arah yang mungkinkan partisipasi serta kerja kolaborasi massal. Konektifitas dan keterbukaan bukan lagi sekedar jargon, tapi telah menjadi ideologi yang menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat kiwari.

Lebih jauh teknologi digital juga telah mampu menciptakan dunia virtual. Ini juga sebuah dunia yang telah mengalami proses kodifikasi, kompresi, sekaligus amplifikasi. Dunia virtual adalah dunia yang serba cepat, instan dan sementara. Di dalamnya juga ada subversi dan ruang simulakra. Dalam jagat virtual, kenyataan bisa dikonversi menjadi partikel atom yang dapat membelah diri secara terus menerus sehingga punya banyak versi.

Karena berbagai dampak yang dihasilkan, tidak heran bila media digital dan teknologi informasi kemudian ikut merubah wajah kebudayaan dan politik budaya. Saat ini struktur kekuasaan politik dan budaya menjadi lebih terbuka. Namun begitu media digital juga menghasilkan banyak ekses, karena juga menciptakan gambaran dunia yang antagonis. Dalam dunia digital batas-batas teritorial semakin cair dan penuh dengan paradoks. Nilai-nilai yang sebelumnya berdiri kokoh saat ini telah semakin meluruh. Realitas dan kebenaran punya banyak wajah dan versi yang beragam.

Teknologi digital juga memiliki kemampuan untuk melakukan kontrol dan hegemoni. Melalui berbagai piranti elektronik, teknologi ini juga dapat melakukan berbagai bentuk pengawasan yang mencermati segala gerak-gerik hidup kita; termasuk pola produksi dan penyebaran data serta informasi di seluruh dunia. Wilayah irisan yang pertemukan dunia virtual dan keseharian semakin meneguhkan fungsi kontrol dan pengawasan melalui teknologi media. Kebebasan dan hak privasi saat ini barangkali sekedar mitos yang berada di bawah bayang hegemoni negara dan korporasi.

Ruang, tempat dan waktu telah dapat dikompresi sekaligus diamplifikasi. Yang jauh jadi dekat, yang dekat jadi jauh. Yang besar jadi kecil, yang kecil jadi besar. Yang benar bisa salah, yang salah bisa benar. Jarak, batas dan kebenaran punya ukuran yang semakin relatif serta semakin sukar untuk divalidasi. Dalam realitas media, kenyataan dan sistem representasi telah menjadi struktur yang dapat dikonstruksi juga dikodifikasi. Persepsi serta pemahaman kita akan kenyataan hari ini harus terus diperiksa agar dapat lebih awas melihat dunia.

Cipaheut, 11 Mei 2011

*Beberapa catatan dalam artikel ini adalah intisari dari diskusi Media Sosial dan Perubahan yang diselenggarakan di Common Room pada tanggal 29 April 2011, bersama Donny B.U dan Yasraf Amir Piliang.

Advertisements