Tags

, ,

The hypnosis of social conditioning has a strong hold on us. Only a motley group of sages psychotic and geniuses escape. (Deepak Chopra, 2010)

Perkembangan teknologi komunikasi semakin canggih, tetapi bukan berarti kemampuan manusia untuk berkomunikasi semakin baik. Dalam riuh rendah perkembangan media digital dan teknologi informasi, saat ini yang juga menjadi dominan adalah proses alienasi, disinformasi serta segregasi kesadaran akan kenyataan sehari-hari.

Sejauh ini media digital dan teknologi internet telah berhasil mencairkan dikotomi antara ruang virtual dan kenyataan sehari-hari. Sebagai salah satu dampaknya, proyeksi tentang kenyataan kemudian terpolarisasi menjadi spektrum yang terus-menerus mengalami proses fragmentasi. Seiring dengan situasi ini, juga muncul bermacam bentuk sekat artifisial yang mengepung mental dan kesadaran kita. Dimana-mana hadir semacam dinding palsu yang cenderung membangun jarak dan batas sehingga mengekang kebebasan dasar manusia.

Dalam situasi teralienasi, subyek melihat dirinya sebagai sesuatu yang liyan dan terasing dari lingkungannya. Sosok ini mirip seperti orang yang tengah berada dalam penjara; sendiri, kesepian dan teramati setiap saat. Senada dengan hal ini, konon kabarnya manusia modern memang cenderung menjadi sosok penyendiri dan selalu merasa kesepian. Oleh karenanya mereka perlu media dan teknologi agar dapat selalu terkoneksi.

Mungkin mitos tentang otonomi dan individuasi memang kadung melahirkan sosok yang gagap ketika bertemu dengan ruang sosial yang terdiri dari subyek serta situasi yang beragam. Celakanya, teknologi media yang semula diangankan dapat menjadi solusi bagi proses pengasingan malah ikut mendorong terjadinya proses alienasi dan segregasi kenyataan yang baru.

Dalam perkembangan teknologi media, gejala ini mungkin mirip dengan fenomena “walled garden“. Dalam pengertian yang umum, istilah ini merujuk pada pola penyedia informasi dan pengetahuan yang tertutup serta eksklusif bagi pengguna tertentu saja. Walled garden merupakan sekat artifisial yang mendorong terjadinya proses dikotomi serta kontrol media. Ia juga dapat membelenggu kehendak bebas manusia.

Lebih jauh, penggunaan media digital yang terintegrasi dengan berbagai piranti elektronik saat ini seakan telah menjadi instrumen hipnosis massal yang membius kesadaran kolektif kita. Cara pandang serta sistem representasi kenyataan saat ini tidak lagi dicerna melalui sebentuk interaksi total antara manusia dengan lingkungannya, namun melalui mesin yang telah menjadi ekstensi dari tubuh kita.

Kenyataan versi mesin adalah kenyataan yang telah mengalami proses kodifikasi, reduksi dan amplifikasi. Di sana juga ada simulakra yang mereduksi pengalaman subyektif akan dunia. Alhasil proses alienasi, disinformasi, serta segregasi mental dan kesadaran semakin menjauhkan kita pada dunia pengalaman personal yang otentik. Barangkali kita perlu mencari cara agar dapat keluar dari belantara yang saat ini kadung membuat kita lumpuh dan buta.

Kyai Gede Utama, 22 April 2011

Advertisements