Tags

, ,

“Temporary autonomous zone is a physical place in time and cyber space is not a physical place.” (Hakim Bey)

Saat ini hegemoni kekuatan negara, korporasi, fundamentalisme agama serta pergulatan politik identitas tampaknya semakin merepresi dan mengancam keberagaman budaya serta otonomi masyarakat sipil. Proses ini setidaknya juga secara masif ditunjang oleh teknologi media dan kapitalisme. Barangkali karena itu ada banyak orang yang berharap bahwa media sosial dapat menjadi counter balance untuk mengimbangi proses hegemoni dan kooptasi rezim yang dominan dan otoriter.

Ada yang berujar bahwa proses hegemoni terjadi melalui kehadiran tanda, simbol dan citra yang muncul secara dominan serta terus menerus. Mekanisme produksi dan penyebaran tanda, simbol dan citra ini beroperasi secara total dan termediasi oleh industri media. Dalam konteks ini setidaknya media sosial dapat menjadi kanal bagi penyebaran informasi dan pengetahuan yang alternatif. Namun begitu media sosial juga dapat menjadi sekedar noise ketika ia gagal membangun kesadaran kolektif, gestur dan ikatan sosial yang baru. Hal ini terutama menyoal sifat media sosial yang sangat cair dan serba terbuka.

Oleh karenanya, penggunaan media sosial tidak cukup untuk mencairkan hegemoni. Ada banyak hal yang perlu kita kembangkan untuk melawan proses hegemoni. Salah satu caranya dengan menciptakan ruang ketiga. Cirinya adalah irisan yang pertemukan dunia online dan offline, yang real dan yang virtual, ataupun yang formal dengan yang tidak formal. Wujud dari ruang ketiga biasanya adalah tempat fisikal (place) yang memungkinkan terjadinya bermacam bentuk interaksi, konsolidasi, negosiasi atau bahkan konfrontasi. Ruang ini juga dapat menjadi wahana bagi kritik dan refleksi bersama. Di tempat semacam ini kita bisa singgah sesaat untuk berpikir, berimajinasi dan berekspresi secara bebas. Tentunya secara bersama-sama.

Kyai Gede Utama, 19 April 2011

Advertisements