Tags

, ,

Orang menyebutnya sebagai Phoenix. Seekor burung api yang konon dapat hidup selama 500 sampai dengan 1000 tahun lamanya. Tubuhnya penuh dengan bulu yang berwarna-warni. Ekornya berwarna emas, serta campuran warna ungu, biru dan hijau. Pada akhir masa hidupnya, Phoenix membakar diri untuk kemudian lahir kembali. Ia adalah simbol keabadian dan kehidupan setelah mati.

Namanya disebut dalam berbagai narasi tentang kehancuran total oleh berbagai bangsa di seluruh dunia. Di China ia disebut dengan nama Fenghuang, sementara bangsa Mesir menyebutnya dengan nama Bennu. Burung ini juga dikenal oleh bangsa Persia dengan sebutan Huma. Sementara di Indonesia serta sebagian penganut agama Buddha dan Hindu, burung ini dikenal dengan nama Garuda. Apabila kita gali, ada banyak sekali nama dan versi cerita si burung api. Tapi dari sekian banyak narasi, entah kenapa kehadiran burung ini sering dikaitkan dengan peristiwa kehancuran total atau kataklisme.

Masyarakat Sunda juga mengenal kisah tentang si burung api. Ceritanya terungkap dalam syair Uga Wangsit Siliwangi. Tidak ada yang tahu siapa yang menulis dan kapan syair lisan ini diciptakan. Namun didalamnya ada juga dongeng tentang burung garuda yang menetaskan telur, yang kemudian diikuti dengan peristiwa kehancuran maha dahsyat. Bunyinya kira-kira demikian:

“Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. Loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh.”

Terjemahan bebasnya barangkali demikian:

“Menderu secara perlahan, sayup suara guruh menggelegar datang dari samudra utara, seekor garuda menetaskan telur. Gempar di seluruh dunia! Bagaimana kalau di sini? Ramai oleh mereka yang panik. Kericuhan ada dimana-mana. Monyet berkumpul dan bergerombol. Kemudian orang mengamuk dimana-mana; mereka mengamuk tanpa aturan. Yang tidak berdosa banyak yang mati. Semula musuh, dijadikan teman; yang tadinya teman lalu disebut musuh.”

Pada sekira tahun 1555, seorang penulis bernama Nostradamus juga mengukir dongeng tentang seekor burung. Penggalan kisahnya adalah sebagai berikut:

The voice of the rare bird heard,
On the pipe of the air-vent floor:
So high will the bushel of wheat rise,
That man will be eating his fellow man.

(Century II, line 75)

Terjemahan bebasnya barangkali demikian:

Terdengar suara seekor burung langka,
Pada sebuah pipa yang berada di bawah lantai berongga:
Harga gandum akan melambung tinggi,
Umat manusia kemudian akan memakan sesamanya.

Pada tanggal 10 Desember 2010, seorang astronom Rusia bernama Leonid Elenin menemukan sebuah komet yang diberi nama C/2010 X 1. Populer disebut sebagai Komet Elenin. Banyak yang bilang ini bukan nama orang sungguhan. Sejauh ini memang sulit memastikan apakah orang ini benar-benar ada. Ada dugaan bahwa Leonid Elenin adalah inisial dari sandi yang dikodifikasi. Pada sebuah forum, seorang tak dikenal memberi uraian sebagai berikut:

Leonid merupakan istilah astronomi untuk hujan meteor. Ele merupakan singkatan dari Extinction Level Event (E.L.E) atau sebuah bencana kehancuran total. Nin merupakan sebutan orang dalam bahasa Jepang. Leonid Elenin merupakan pesan terselubung tentang peristiwa hujan meteor yang akan menjadi bencana kehancuran total bagi peradaban manusia. (Anonymous)

Sekilas gambar buram Komet Elenin mirip seperti crop circle berbentuk burung di Milk Hill – Inggris, yang muncul pada sekitar tahun 2003. Barangkali ada banyak orang di dunia yang telah mengenal fenomena ini. Selain populer di Eropa dan Amerika, wujud serupa crop circle juga ditemukan di Sleman, Jawa Tengah pada tanggal 24 Februari 2011. Yang bikin katanya sekelompok mahasiswa.


Komet Elenin memang membuat gempar dunia. Menurut pantauan NASA, lintasan orbitnya diprediksi akan menerabas sistem tata surya. Konon hal ini akan sebabkan gangguan gravitasi dan menggeser poros Bumi. Katanya bahkan Elenin akan menghantam kita. Sebagian orang ada juga yang menghubungkan kehadirannya dengan mitos Planet Nibiru yang akan membentur permukaan Bumi. Dari sekian banyak prediksi dan spekulasi, tidak ada yang benar-benar tahu apakah komet ini sungguh akan melabrak dan menandai hancurnya peradaban manusia.

Kembali pada kisah tentang Phoenix. Dugaan saya mungkin burung ini serupa komet atau benda langit lainnya. Terbang melintas angkasa dengan kurun waktu yang sesuai dengan takdir hidupnya. Ia telah datang menghampiri berulang kali sejak awal kelahiran jagat alam raya. Kisahnya terekam dalam sejarah peradaban manusia dan juga kehidupan sebelum kita. Bila ingin bukti silahkan baca kisah wangsa dinosaurus yang musnah ketika Bumi dihantam asteroid Baptistina. Barangkali benar bahwa Phoenix akan datang lagi dalam rentang siklus buana semesta. Burung ini pembawa kehancuran sekaligus simbol bagi proses penciptaan dan kelahiran kembali.

Kyai Gede Utama, 18 April 2011

Advertisements