Tags

, , ,

Baru saja diskusi dengan seorang teman. Barangkali benar kalau saat ini kita telah kehilangan aspek naratif dalam praksis budaya sehari-hari karena terlalu asyik meminjam narasi orang lain. Saya jadi merasa bahwa praksis budaya tanpa narasi barangkali sama dengan menanam pohon yang tidak memiliki akar. Karena asyik meminjam narasi orang lain, kita jadi sulit menelusuri akar dan memiliki legitimasi sejarah hidup kita sendiri.

Saat ini batas-batas semakin cair; adaptasi dan apropriasi pengetahuan serta teknologi merupakan hal yang lumrah. Namun yang juga penting adalah proses kritik, refleksi dan kontekstualisasi. Menciptakan kisah hidup sendiri adalah syarat penting untuk melakukan inovasi dan perubahan. Mungkin karena tidak memiliki narasi dan sejarah sendiri, kita kemudian jadi makhluk yang inferior dan kurang percaya diri. Barangkali karena itu juga kita jadi orang yang tidak punya pendirian dan mudah larut dalam situasi perubahan zaman.

Kerja awal membangun narasi sangat sederhana: mencatat kehidupan sehari-hari. Saya rasa catatan sehari-hari juga sahih disebut sebagai karya sastra karena makna umum dari sastra adalah mencatat kehidupan. Mungkin bukan karya sastra betulan, tapi minimal jadi karya sastra untuk diri sendiri. Catatan yang barangkali remeh-temeh juga merupakan bagian dari sistem representasi dan pengetahuan. Kalau dikerjakan secara serius bukan tidak mungkin jadi karya sastra betulan. Mungkin malah bisa jadi sumber wahyu dan ilham.

Selain menulis kita juga perlu membaca. Bukan hanya teks tetapi semua elemen yang ada dalam hidup kita secara total. Untuk melakukan hal ini kita juga butuh pengetahuan. Semakin luas pengetahuan kita, semakin jernih lautan tanda yang dapat kita baca. Tujuan membaca barangkali diantaranya adalah untuk menelusuri tanda-tanda zaman dan memahami situasi secara mendalam. Apabila kita pandai menulis dan membaca, barangkali kita bisa jadi manusia yang punya adab, nurani dan intuisi yang tajam.

Kyai Gede Utama, 16 April 2011

Advertisements