Tags

, ,

Saurna bakal aya hiji mangsa. Loba bahaya malapetaka. Oge seeur nu pasea. Awalna ti dapur jadi salembur. Ti lembur jadi sakota. Ti kota jadi sanagara.

Nu barodo jaradi gelo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna gareleut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang panglobana; nu teu hawek hayang loba; nu boga hak marenta bageanana. Ngan anu areling caricing. Ariyana mah ngalalajoan. Tapi kaborerang.*

Konon kabarnya akan datang suatu masa. Ada banyak bahaya malapetaka. Juga banyak yang berkelahi.

Awalnya dimulai dari dapur. Dari dapur berlanjut ke kampung. Dari kampung berjangkit ke kota. Dari kota mewabah jadi satu negara.

Yang bodoh menjadi gila membantu yang berkelahi. Mereka dipimpin oleh orang yang perutnya gendut karena rakus. Kenapa berkelahi? Karena berebut warisan. Yang rakus ingin dapat paling banyak; yang tidak rakus juga ingin dapat banyak; sementara yang punya hak juga meminta bagiannya. Yang sadar hanya bisa diam dan menyaksikan. Namun mereka semua terkena getahnya.

Kataklisme ada dalam berbagai narasi peradaban besar dunia. Kisah ini juga ada di Babilonia dan Sumeria. Di sana ada peristiwa kehancuran total. Mirip seperti dongeng tentang benua Atalan yang hilang. Benua ini katanya lenyap karena bencana alam. Narasi kehancurannya konon terhubung dengan dongeng orang Tamandaré di Brazilia, atau cerita tentang manusia Cuculcan dari Bangsa Indian Maya. Dalam mitologi Hindu juga ada kisah tentang kehancuran dunia. Diawali dengan kebangkitan Basuki yang menyemburkan racun dari 1000 mulutnya. Orang Kristen juga punya dongeng tentang Armagedon. Asalnya dari ide tentang perang besar di Magido. Dalam kitab suci orang Islam juga disebut bahwa kiamat akan datang. Ini sebuah episode akhir zaman.

Kataklisme bisa ada di mana-mana. Di setiap saat di setiap tempat. Bentuk dan gejala kehancurannya bisa macam-macam. Mulai dari bencana alam, kelaparan, penyakit dan peperangan. Ini kelanjutan dari siklus semesta alam. Kataklisme selalu hadir sebagai peringatan dan bagian dari proses penciptaan. Awal kehadirannya diwakili oleh berbagai tanda di seluruh penjuru dunia. Orang Jawa pernah merekamnya dalam serat Kalathida. Beberapa diantara tanda itu memang sudah muncul sejak lama. Ukuran kehancurannya tidak terhingga. Beberapa ada di Aceh, Florida, Haiti, Fukushima, sampai Arab dan Afrika. Konon mereka yang selamat adalah yang eling dan waspada.

Bismillah Hirohman Nirohim. Birkatihin. Karirin. Tatlihin.

Kyai Gede Utama, 30 Maret 2011

*Sebagaian dari teks ini disadur dari “Uga Wangsit Siliwangi” yang selama beberapa tahun terakhir banyak tersebar melalui berbagai laman blog dan website di jaringan internet.

Advertisements