Tags

, , ,

“Never before in history have grown man sat down and seriously designed electric hairbrushes, rhinestone-covered shoe horns, and mink carpeting for bathrooms, and then drawn up elaborate plans to make and sell these gadgets to millions of people…”
(Victor Papanec;  Design For The Real World: Human Ecology And Social Change, 1971 )

Kalau tidak salah, pertama kali saya mendengar istilah rekayasa estetika pada sekitar tahun 1993 dalam sebuah acara diskusi. Adalah seorang Zulfikar Amir, mahasiswa desain produk angkatan ’90 FSRD ITB yang pertama memperkenalkan istilah ini kepada saya. Dalam diskusi tersebut, dijelaskan bahwa istilah rekayasa estetika sebetulnya adalah sebuah istilah yang diproyeksikan untuk menjelaskan aktifitas yang dijalankan oleh para seniman, desainer ataupun mereka yang banyak bekerja dengan menggunakan pengetahuan tentang estetika. Dalam pandangan yang sangat umum, estetika kurang lebih dapat kita maknai sebagai sebuah ilmu yang secara khusus mempelajari rasa keindahan.

Meskipun terdengar canggih, menurut saya penamaan di atas cukup dapat menggambarkan kondisi sesungguhnya dari aktifitas perencanaan, perancangan, sampai dengan penciptaan yang banyak dijalankan oleh para desainer maupun seniman, terutama dalam kaitannya sebagai bagian dari kelompok masyarakat konsumer (sering juga disebut sebagai masyarakat post-industri). Estetika, atau apa yang dapat kita kenal sebagai suatu bidang ilmu yang sangat berkaitan erat dengan masalah cita rasa, dalam cara pandang ini dilihat sebagai instrumen atau alat yang dapat digunakan untuk memenuhi tujuan atau kepentingan tertentu. Dalam dunia industri misalnya, hal tersebut tentu saja berkait erat dengan kepentingan ekonomi yang kental dengan aktifitas produksi dan konsumsi.

Di tengah masyarakat konsumer, istilah rekayasa estetika menurut saya mengalami semacam perluasan makna yang sangat mendasar. Istilah ini paling tidak saya rasa juga dapat juga dikaitkan dengan apa yang disebut dengan simulacra, yaitu sebuah istilah yang dijelaskan oleh Yasraf Amir Piliang sebagai sebuah proses penciptaan model-model nyata yang dianggap tidak memiliki asal-usul atau hubungan yang jelas dengan kenyataan ataupun realitas (disebut juga dengan hyper-realitas). Dalam sebuah ruang simulacra, individu atau kelompok tertentu dijebak ke dalam suatu situasi yang disadarinya sebagai kenyataan, meskipun sesungguhnya semu atau khayalan belaka. Situasi semacam ini apabila dihubungkan dengan praktek ekonomi dapat juga kita lihat dalam proses komodifikasi, yang merupakan instrumen penting bagi pertumbuhan kapital. Sebagai catatan, proses penumpukan modal kapital dalam hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh komoditas, namun juga dipengaruhi oleh mekanisme pasar dimana aktifitas produksi dan konsumsi yang sesungguhnya terjadi.

Berhubungan dengan hal tersebut di atas, Michel Foucault menuliskan bahwa masyarakat konsumer yang dihasilkan melalui wacana kapitalisme tidak lagi sekedar terbangun atas dasar relasi obyek dan subyek, akan tetapi yang lebih penting adalah diferensi. Yaitu perubahan konstan pada produk, penampakan, gaya, dan gaya hidup. Dalam wacana kapitalisme, memang berkembang kebutuhan untuk memperpendek daur hidup dari produk dan gaya. Hal ini terutama dikembangkan oleh para produsen yang bertindak atas dasar ideologi masyarakat konsumer, yang senantiasa berada pada mata rantai produksi-konsumsi. Oleh karena itu, untuk mendorong pertumbuhan kapital diciptakanlah berbagai instrumen-instrumen konsumsi yang ditampilkan melalui melalui media massa, iklan, perabot rumah tangga, industri fashion, industri hiburan, sex, olah raga, shampoo anjing, dsb., melalui mekanisme industri yang memanfaatkan estetika sebagai salah satu instrumen mutakhirnya. Kesemuanya lalu diserap secara brutal dan membabi-buta oleh pasar (massa), yang pada akhirnya tentu saja menjadi jaminan sukses bagi kelompok pemilik modal.

Victor Papanec, seorang desainer yang banyak bekerja mengembangkan wacana mengenai green design menjawab kegusarannya terhadap kondisi di atas dengan memberikan tawaran untuk mengembalikan desain pada hakikatnya yang semula, yaitu untuk memenuhi kebutuhan mendasar dan menjawab persoalan-persoalan yang ada di sekitar persentuhan manusia dengan kehidupan sekitarnya. Sikap yang tentu saja sangat berseberangan dengan kebanyakan pemilik modal yang menguasai sebagian besar institusi ekonomi di seluruh dunia. Dalam buku-bukunya, Papanec banyak memaparkan studinya mengenai aktifitas desain ataupun praktik kerja estetik yang lebih humanis. Ada baiknya kalau kita menyimak gagasan Papanec sebagai sebuah alternatif dari wacana kapitalisme global yang saat ini banyak menggempur kehidupan keseharian kita.

Kembali pada pembicaraan kita mengenai rekayasa estetika, bagaimanapun istilah ini adalah sebuah pisau bermata dua. Ia adalah sebuah istilah kosong yang dapat kita maknai dengan berbagai gagasan dan imajinasi yang ada di dalam benak kita. Di satu sisi istilah ini dapat bekerja sebagai instrumen kapital mutakhir, namun di sisi yang lain istilah ini dapat juga berfungsi sebagai instrumen pengetahuan yang dapat memberikan pencerahan. Selanjutnya terserah mau pilih yang mana.

Kyai Gede Utama, 2001

Advertisements