Si Bodas Ngosod

Tags

Kala itu kami berangkat sekitar pukul 05:30 pagi dari Kasepuhan Ciptagelar. Hari masih gelap & berangsur terang saat kami menembus hutan di wilayah Pegunungan Halimun. Suasana sejuk & udara yang segar menemani kami di sepanjang perjalanan pulang. Di kejauhan, kami mendengar aneka suara binatang hutan.

Kurang dari 1 jam, kami sampai di Kampung Ciptarasa. Tak lama beristirahat di sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Sirnarasa. Jalan masih berkelok di antara pematang sawah yang baru saja selesai dipanén. Tak jauh dari situ, kami kemudian melintasi sungai & merayap menuju tanjakan tajam.

Tanjakan yang curam membuat sudut pandang saya menjadi agak terbatas. Dengan hati-hati saya meneruskan perjalanan secara perlahan. Ujug-ujug tanpa ba-bi-bu ada suara benturan keras di arah depan, “gudubrak!!!” Posisi Si Bodas yg sedang merayap perlahan tiba-tiba saja ngagejlig. Tanpa pikir panjang, insting saya memerintahkan untuk langsung tancap gas ke depan.

Rupanya di sisi gawir sebelah kanan jalan ada bagian yg longsor! Saya cukup beruntung karena ban depan masih sempat mencengkram pinggiran jalan & lolos dari lubang longsoran. Namun sisi gawir yg rontok langsung menelan ban kanan di bagian belakang. Si Bodas tungtungnamah nyangsang tak bisa bergerak.

Saat itu saya langsung kaget & panik karena Si Bodas ujug-ujug nyangked. Sekelebat ada tarikan ke belakang yg membuat posisinya ngosod. Pikiran saya langsung kacau. Untung teman saya Hiang Jemy Dewataprana langsung mengingatkan & meminta saya untuk menarik rem tangan. Si Bodas bisa diamankan meski posisinya agak miring.

Kami semua langsung turun memeriksa keadaan. Rupanya cerukan jalan yg longsor menelan setengah bagian ban belakang di sisi sebelah kanan. Gardan belakang ikut nyangsang di permukaan jalan. Si Bodas tidak bisa berkutik sama sekali. Kami terus memeriksa kondisi sambil beristirahat & menenangkan diri.

Tak lama kami mencoba mengeluarkan Si Bodas dari lubang gawir. Namun karena lubangnya dalam, usaha kami tak berhasil. Beberapa warga yg melintas mendatangi kami & memberikan bantuan. Sisi jalan yg longsor diganjal balok & batu. Setelah itu Si Bodas kembali kami coba keluarkan. Beberapa rekan & warga setempat mendorong sambil mengangkat bujur Si Bodas. Berhasil!

Perasaan saya lega luar biasa. Kami semua langsung seuseurian sambil ngarenghab. Saat itu yg ada di pikiran saya cuma hayang nangkeup anak-anak & pamajikan di rumah. Namun sayang jarak ke Bandung jauh keneh. Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhanratu. Perasaan geumpeur & pikiran yg tak menentu berangsur tenang kembali.

Saat itu yg ada di pikiran saya cuma satu. Hayang geura neupi ka imah…

*foto oleh Rizqi Abdulharis

Imam Bonjol, 1 Juni 2017

Advertisements