On The Way Back Home From Sérén Taun Ciptagelar

Tags

,

serentaun_cg_2016_01

Pada tanggal 16 September 2016, saya & tim Common Room berangkat ke #Ciptagelar untuk menghadiri acara #SérénTaun yang ke-648. Kegiatan ini merupakan tradisi pesta panen tahunan yang telah berlangsung sejak 648 tahun yang lalu, terhitung sejak masyarakat Ciptagelar memulai tradisi ngalalakon.

Puncak dari acara Sérén Taun adalah upacara adat ngadiukeun paré di Leuit Si Jimat (menyimpan padi di lumbung pusaka). Selain itu, Sérén Taun juga diisi dengan rangkaian acara selamatan, arak-arakan, panggung kesenian (angklung buhun, gondang, jipeng, wayang golek, topeng, dsb).

Saya & tim Common Room mengikuti rangkaian acara sampai selesai. Pada tanggal 19 September 2016, kami juga ikut acara rasulan yang menjadi salah satu titian acara Sérén Taun. Di sela kegiatan, kami menyempatkan untuk menyampaikan laporan perkembangan program #InnovationFactory #ICT4AG kepada Abah Ugi.

serentaun_cg_2016_02

Selepas mengikuti rangkaian kegiatan Sérén Taun, kami pulang ke Bandung pada 20 September 2016. Proses perjalanan pulang berjalan lancar & menyenangkan, meski Si Bodas yang kami kendarai mendapat sedikit masalah teknis di Leweung Teleng (Hutan Teleng). Apa boleh buat. Kami harus berhenti sejenak di sana.

Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba shockbreaker depan sebelah kiri bengkok. Awalnya saya bingung. Namun setelah diperiksa, kami memutuskan untuk memperbaiki Si Bodas di tempat. Tanpa pikir panjang saya menghubungi Kang Yoyo untuk mendatangkan Mang Oding. Dia supir sekaligus teknisi andalan di Ciptagelar.

Tak berapa lama Mang Oding datang bersama Mang Goler. Tanpa banyak bicara dia langsung memeriksa keadaan Si Bodas. “Oh, inimah bisa dibenerkeun.” Begitu komentarnya dengan tenang. Saat itu juga shockbreaker yg rusak langsung dibongkar, dibantu oleh Mang Goler & Mang Ujang. Saat itu saya masih belum bisa membayangkan caranya.

serentaun_cg_2016_03

Selama perbaikan, beberapa warga Ciptagelar ada yang melintas di sekitar lokasi. Sesekali ada yang berhenti untuk sekedar ngobrol. Mang Oding meminta salah satu dari temannya untuk membawa perlengkapan bengkel. Sementara Mang Ujang minta dibawakan timbel. “Bisi lapar, urang sakalian botram“, ujar Mang Ujang.

Tak lama ada Mang Idang, anak Aki Karma melintas hendak menuju kampung Ciptarasa. Dia berhenti sejenak untuk ngobrol dengan kami. “Wah, kunaon ieu Kang?“, dia bertanya singkat. Saat saya bilang ada onderdil yang rusak dia cuma bilang, “Atuh wayahna. Sugan can dawuhna balik.” Wah iya gitu? Saya membatin dalam hati.

serentaun_cg_2016_04

Mungkin belum waktunya pulang. Begitu kira-kira maksud Mang Idang. Saya cuma bisa senyum sambil mengiyakan. Mungkin kami memang harus menjemput takdir untuk berhenti sejenak di Leweung Teleng karena belum waktunya pulang. Selama kami di hutan, beberapa kali kabut tebal melintas. Hujan juga turun selepas siang. Dinamika suasana hutan saat itu terasa sangat istimewa.

Sekurangnya kami menghabiskan waktu 3 jam sampai akhirnya Si Bodas berhasil diperbaiki. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala ketika Mang Oding, Mang Goler & Mang Ujang selesai memperbaiki shockbreaker yang bengkok hingga bisa berfungsi normal kembali. Semua dikerjakan dengan alat seadanya. Mulai dari membongkar shockbreaker yang bengkok, meluruskan dengan cara digebug balok kayu, sampai dipasang kembali. Edun!

serentaun_cg_2016_09

Alhasil kami bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Bandung dengan lancar. Perhentian di Leuweung Teleng memberi pelajaran serta pengalaman baru pada saya & teman-teman. Meski mendapat sedikit masalah di jalan, secara keseluruhan perjalanan berlangsung lancar & menyenangkan. Pengalaman kali ini mungkin akan terekam dalam ingatan yg paling dalam. Meunang élmu panemu istilah Sundanya.

Hatur nuhun Mang Oding, Mang Goler, Mang Ujang serta semua warga Ciptagelar yang membantu kami. Hatur nuhun juga kepada Abah Ugi & Kang Yoyo yang mengirimkan tim teknisi yg handal, serta Mamah Lia yang mengirim timbel. Pengalaman ngoprek Si Bodas di Leuweung Teleng buat saya adalah momentum yang sangat mengesankan. Hatur nuhun ka sadayana!

Imam Bonjol, 21 September 2016